//Pura-puranya…

Pura-puranya…

Kita mungkin mengenal beberapa orang yang suka berpura-pura. Bukan, bukan anak-anak yang sedang bermain dengan topeng pahlawan super, atau aktor yang sedang memainkan peran di panggung atau layar. Ini soal orang-orang yang di kehidupan sehari-hari justru berpura-pura menjadi orang lain, demi disukai lingkungannya atau demi mendapatkan keinginannya.

Mungkin, kita sendirilah yang suka berpura-pura. Mungkin juga, kita sudah berpura-pura terlalu lama sampai kita sendiri sudah lupa siapa diri kita yang asli. Bertahun-tahun kita memainkan peran di hadapan dunia, hingga peran tersebut justru menguasai dan mempermainkan kita. Semua orang yang mengenal kita berpikir bahwa kita adalah orang yang sesuai dengan peran yang kita mainkan: banyak uang, selalu easy going, penuh sukacita, dan bijak sebagai orang Kristen yang baik.

Namun, jauh di sudut terdalam hati kita, kita tahu yang sebenarnya… Sesungguhnya kita merasa kering dan tidak baik-baik saja. Kita lelah.

Matthew Perry mengungkapkan rasa kering yang dia rasakan karena lelah menjadi orang lain. Dia adalah aktor asal Amerika yang terkenal lewat peran Chandler Bing yang dia mainkan di serial komedi populer era tahun ’90-an, Friends. Chandler adalah karakter fiksi yang terkenal karena membawa keceriaan untuk setiap penonton. Apalagi, kepiawaian Matthew Perry dalam merangkai humor dan gerak tubuh yang jenaka menjadikan Chandler karakter ikonik yang mendunia. Sayangnya, dia merasa kering bukan karena lelah berakting memerankan Chandler, melainkan karena terbebani oleh tuntutan untuk selalu menyenangkan orang lain. Matthew Perry mengaku dia sangat stres bila penonton tidak tertawa. Melewati tahun-tahun aktingnya, banyak media akhirnya mengutip pengakuannya bahwa tidak ada yang tahu selama memerankan Chandler Bing dan sempat mengalami kecelakaan jetski, dia sempat merasa kesepian dan kecanduan alkohol serta obat penahan nyeri demi meredam rasa sakit akibat stresnya.

Shimon Hayut juga terkenal karena berpura-pura menjadi orang lain, tetapi dengan motivasi yang berbeda. Dia dengan sengaja berpura-pura menjadi orang lain bukan untuk menghibur melainkan untuk menipu. Shimon memakai identitas palsu sebagai orang kaya yang penuh cinta untuk membuat para wanita jatuh hati padanya, kemudian memeras uang mereka. Ulah Shimon ini diceritakan oleh para wanita yang ditipu oleh Shimon, lalu diolah dan ditayangkan oleh Netflix dalam serial dokumenter berjudul The Tinder Swindler.

Ada dua alasan umum mengapa manusia ingin menjadi orang lain. Yang pertama, kadang kita terjebak di dalam keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain. Ini adalah jebakan yang berbahaya, karena kita ingin memenuhi ekspektasi orang lain sampai rela mengorbankan diri kita untuk mengikuti keinginan orang itu. Tentu saja hal itu mustahil, karena bahkan Tuhan pun “tidak bisa” menyenangkan semua orang. Kalau ada satu orang berdoa meminta hujan, tentu ada orang lain yang berdoa meminta cuaca cerah. Pasti akan selalu ada yang kecewa di balik kesenangan seseorang.

Sebenarnya, Alkitab telah memperingati kita tentang hal ini, “Takut akan pendapat orang, mengakibatkan kesusahan. Percayalah kepada TUHAN, maka engkau akan aman,” (Ams. 29:25). Paulus bahkan menekankan kepada jemaat di Galatia, bahwa membuat orang lain senang dan menyenangkan Tuhan adalah hal yang sangat bertolak belakang (Gal. 1:10), dan kita tidak bisa melakukan keduanya bersamaan. Yang sering kita lupa sadari, adalah jauh lebih “mudah” bagi kita untuk menyenangkan Tuhan daripada menyenangkan semua orang. Tuhan memang telah mengasihi kita dan menjadikan anak-anak-Nya. Hati-Nya bersukacita atas kita.

Alasan kedua yang membuat manusia ingin menjadi orang lain adalah terjebak di dalam sikap perfeksionis. Idealisme untuk harus tampil sempurna agar dapat dikasihi atau dihormati. Masalahnya, kita tahu pasti bahwa kita tidak bisa menjadi sempurna, sehingga kesempurnaan itu kita tampilkan dengan berpura-pura. Orang-orang Farisi terperangkap di dalam jebakan semacam ini, dan menerapkan jebakan ini pula terhadap orang-orang lain. Yesus menyingkap topeng kepura-puraan mereka itu, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah,” (Luk. 16:15).

 

Apa jalan keluarnya?

Belajar dari Matthew Perry dan Shimon Hayut, bahkan dari kaum Farisi di zaman Yesus, selalu ada yang dirugikan ketika kita berpura-pura menjadi orang lain, entah diri kita atau orang lain. Kita harus keluar dari jebakan-jebakan itu. Alihkan kembali fokus kita pada apa yang Tuhan pikirkan, bukan yang orang lain pikirkan. Hanya Tuhanlah yang mengenal kita secara menyeluruh dan tetap mengasihi kita apa adanya. Tidak apa-apa jika ada orang yang tidak menyukai diri kita, karena kita tahu Tuhan bersukacita atas diri kita.

Selain itu, yang bisa kita lakukan untuk keluar dari jebakan kepura-puraan adalah berhenti berfokus pada diri sendiri, agar kita tidak lagi terlalu pusing dengan pandangan orang lain atas diri kita. Salah satu caranya adalah melayani orang lain. Pelayanan, selain merupakan bentuk ucapan syukur kita akan kebaikan Tuhan, juga adalah salah satu cara paling efektif untuk melatih diri menjadi rendah hati (Fil. 2:1-4). Kerendahan hati akan membuat kita menerima diri kita apa adanya dan tidak lagi merasa perlu memaksa diri untuk selalu tampil sempurna.

Hidup sebagai anak di hadapan Tuhan dan hidup bersama dengan anak-anak-Nya di dalam komunitas adalah hidup yang apa adanya. Autentik. Terbuka dan jujur, sekaligus berani memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Mari belajar hidup autentik, sehingga kita tidak perlu menipu Tuhan untuk mendapat kasih-Nya, atau memaksa diri menjadi sempurna agar berkenan di hadapan-Nya. Karena sesungguhnya, kasih dan perkenan Tuhan itu sudah terjamin lewat pengorbanan diri-Nya di salib. Tidak ada alasan lagi untuk kita berlaku palsu.

2022-05-27T13:14:03+07:00