/, Youth Corner/“Jangan terlalu berharap, nanti sakit”

“Jangan terlalu berharap, nanti sakit”

Rambutnya rapi tersisir dengan riasan lengkap, namun raut wajahnya redup. Dengan penuh emosi, perempuan berpakaian rapi ini bercerita bagaimana sulitnya tes dan wawancara yang tadi dilakukannya. Rupanya ia baru pulang dari wawancara pekerjaan di sebuah perusahaan besar yang menjadi tempat kerja impiannya sejak kuliah. Perusahaan itu memiliki reputasi sangat baik dalam hal prospek jenjang karier, insentif, fasilitas, dan lain-lain. Singkatnya, perusahaan idaman para fresh graduates.

Sayang, cerita yang saya dengar tidak secerah matahari sore itu; si perempuan berkali-kali mengungkapkan betapa tidak percaya diri ia saat berkompetisi dengan para pelamar yang lain. Mereka terlihat lebih gagah, siap, dan hebat, katanya. “Aku pasrah saja,” ujarnya lirih, “Kalau diterima, syukurlah. Kalau gagal, ya sudah… Aku nggak mau berharap terlalu tinggi. Nanti kalau ditolak jadi nggak terasa sakit.”

Mendengarnya, saya jadi bertanya-tanya, berapa banyak anak muda yang kini memiliki prinsip hidup yang serupa, bahkan dalam aspek hidup yang sederhana? Supaya “selamat” dari rasa sakit karena ditolak atau gagal, lebih baik mundur dari pengharapan dan mimpi. Supaya jika benar gagal, ia bisa mudah berkilah, “’Tuh benar, ‘kan?” diikuti dengan serangkaian kalimat-kalimat yang mendukung pendapatnya itu, tentang betapa tidak mampu dan tidak layaknya ia mendapatkan harapannya.

Kita semua, secara naluriah sebagai manusia, akan melakukan segala cara untuk mencari aman. Menyelamatkan diri dari sakit hati, penolakan, kekecewaan, perasaan gagal, dan ketakutan. Bagi sebagian orang, semua yang tidak aman dan tidak enak itu lebih berisiko muncul saat beriman kepada Tuhan, yaitu saat menyerahkan diri untuk dituntun oleh kedaulatan Tuhan dan bukannya pemikiran diri sendiri. Alhasil, menyelamatkan diri dan mencari keamanan itu sering kali muncul berupa rasa enggan untuk terus percaya pada janji Kristus. Bahkan, banyak orang Kristen secara sadar maupun tidak perlahan-lahan berhenti menaruh harapan pada Kristus, karena takut harapan itu tidak tercapai. Atas nama “belum tentu itu kehendak Tuhan”, “siapa tahu Tuhan tidak mengizinkan”, atau “jangan mendahului Tuhan”, mereka berhenti mencoba, menyimpang dari ketaatan, mundur dari pelayanan, bahkan lari dari iman kepada Kristus.

Mari kita renungkan dengan jujur. Sesungguhnya, keselamatan yang Kristus bawa bagi kita jauh lebih besar daripada sekadar dijauhkan dari neraka. Keselamatan yang Kristus bawa mencakup hidup kita di dunia ini, termasuk menjamin keberanian untuk kita percaya penuh bahwa Bapa yang mengasihi kita memiliki rencana yang lebih “pas” bagi kita, yang sempurna, yang bahkan melebihi our wildest dream — impian kita yang paling mustahil. Keberanian untuk melihat dengan jelas kasih karunia dan perkenan Tuhan bahkan dalam hal terkecil sekalipun ini akan melahirkan keberanian untuk bermimpi dan berharap akan hal-hal yang besar, sekaligus keberanian untuk melihat kegagalan dan kekecewaan pula sebagai wadah kasih karunia yang tidak mengurangi keberhargaan kita. Memahami keselamatan dari Kristus secara lebih utuh seperti ini bukan berarti kita santai saja dan bermalas-malasan karena tidak peduli dengan kegagalan, tetapi justru akan mengubah pandangan kita akan impian yang tidak tercapai; bukan lagi sebagai kegagalan, tetapi sebagai suatu anugerah untuk menikmati anugerah dan rencana Tuhan yang jauh lebih sempurna daripada impian kita itu.

Sambil merenung, saya pun teringat kepada ayat tertentu, “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia , supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya,” (Ibr. 4:16). Di dalam salah satu versi Alkitab terjemahan bahasa Inggris, bunyi ayat ini adalah, “So now we come freely and boldly to where love is enthroned, to receive mercy’s kiss and discover the grace we urgently need to strengthen us in our time of weakness,” (Heb. 4:16, TPT).
Ketika sang Kasih Karunia bertakhta dalam hidup kita, hanya keberanian dari anugerah-Nyalah yang memenuhi hari-hari kita. Dialah yang menopang hati kita saat penolakan dan kegagalan terjadi. Dia pulalah yang mencium kita dengan pengampunan saat kita datang untuk mencoba lagi. Dia jugalah yang siap siaga menjadi kekuatan kita bahkan di saat-saat terlemah sekalipun. Dia pun senantiasa mengajar kita tentang rancangan-Nya yang sempurna di dalam diri-Nya, yang berlaku dalam setiap situasi asalkan kita setia datang menghapiri takhta-Nya.

Karena itu, mari kita hidup dengan penuh keberanian! Kita bukanlah umat yang mundur dan sesat. Sebaliknya, kita adalah umat yang percaya kepada Allah dan yang diselamatkan (Ibr. 10:39). So get your hopes up, and dream on!

2019-09-27T09:56:15+07:00