//“Kenapa bukan saya yang dipromosi?”

“Kenapa bukan saya yang dipromosi?”

Dari sekian banyak penyebab, ada beberapa penyebab yang kemungkinan besar, membuat orang seperti di atas tidak dipromosikan.

1. Paradigma Senioritas vs Paradigma Kontribusi
Banyak orang berpikir bahwa orang akan dipromosi atau tidak, kriteria yang dipakai berdasarkan berapa lama atau berapa tahun ia bekerja. Padahal, pola pikir seperti ini sudah tidak berlaku lagi di jaman sekarang. Dunia bisnis semakin kompetitif. Perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang menunjukan prestasi. Perusahaan mencari dan membutuhkan para profesional yang bisa menunjukan prestasi dan memberikan kontribusi di atas rata-rata.

Tidak peduli Anda sudah bekerja berapa tahun di perusahaan tersebut, selama Anda tidak menunjukan prestasi yang maksimal, maka Anda akan dihargai “murah” dan tiket untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi sudah “dicabut”.

2. Penguasaan ”Keterampilan Teknis” vs ”Keterampilan Non-Teknis”
Seorang supervisor mengeluh, ”Saya merasa diperlakukan tidak adil oleh perusahaan. Masa si Dani yang keterampilannya begitu-gitu saja, kok malah di promosi. Kalau mau diadu, saya berani taruhan, skill saya jauh melampaui keterampilan Dani. Dia kan bocah ingusan yang baru masuk beberapa tahun ini. Sedangkan saya sudah memiliki jam terbang yang melampaui kemampuan dia. Yang buat saya heran, kok.. malah dia yang dipromosi.”

Supervisor seperti ini tidak memahami dan tidak menyadari bahwa prestasi seseorang akan dinilai dari dua keterampilan yang ia miliki, yaitu keterampilan teknis dan keterampilan non teknis. Keterampilan teknis adalah keterampilan dasar yang berkaitan dengan tugas-tugas utamanya, misalnya supervisor accounting harus menunjukan keterampilan accounting, seorang salesman, harus memiliki selling skill. Sedangkan keterampilan non-teknis berkaitan dengan kejujuran, kedisplinan, kepatuhan, kemampuan kerja sama dengan orang lain, ketahanan di dalam menghadapi tekanan-tekanan, kemampuan berkomunikasi dengan baik, kemampuan bereaksi secara positif di dalam menghadapi berbagai rintangan, dll.

Seorang direktur pernah berkomentar seperti ini, ”Bagaimana saya mau mempromosikan dia menjadi manajer, jika saya memberi dia tugas-tugas yang sulit, dia justru memprotes. Kalau saya menekan dia sedikit saja, maka besoknya dia tidak mau masuk kerja. Rata-rata keterlambatan dia masuk kerja di kantor 60 menit sebulan. Kalau ide-idenya saya tidak setujui, maka mukanya langsung berubah menjadi manyun dan monyong. Dengan rekan-rekan kerjanya pun, dia dikenal antik, suka emosi kalau kemauannya tidak diikuti”.

Jadi aspek keterampilan non-teknis bicara tentang ATTITUDE.

Sebelum dipromosi, setiap karyawan akan diuji dua aspek oleh perusahaan, yaitu keterampilan teknis dan non-teknis. Mayoritas orang tidak lulus dalam pengujian aspek non-teknis. Dan biasanya pengujian tersebut akan dilakukan dalam waktu yang panjang, dan bisa bertahun-tahun, untuk menentukan apakah orang ini bisa dijadikan partner kerja top management.

3. Memiliki mentalitas anak-anak
“Karena saya tidak dihargai oleh perusahaan, yah saya kerja sesuai dengan apa yang saya terima. Saya dibayarnya segini, yah saya memberikan tenaga saya juga sesuai dengan gajinya…”

Ada karyawan yang memiliki prinsip kerja seperti ini, ”Sebenarnya, saya mampu mengerjakan tugas ini dalam waktu tiga jam, tetapi saya sengaja mengerjakannya dalam dua hari. Buat apa saya kerja cepat-cepat, toh usaha saya tidak dihargai…”

Cara berpikir seperti ini persis seperti cara berpikir anak kecil, ”Kalau Mama tidak membelikan mainan…saya tidak mau tidur siang…..”. Jadi, saya baru mau taat dan tidur siang kalau tuntutan saya dikabulkan (yaitu beli mainan).

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa jika kita bekerja, kita sedang menjual keterampilan kita. Harga kita tergantung seberapa besar kualitas keterampilan yang kita jual. Orang yang memiliki prinsip keliru ini, tidak pernah mau belajar untuk meningkatkan kualitas keterampilannya. Ia merasa amat rugi untuk bekerja keras dan lebih produktif untuk menunjukan prestasinya. Karena fokusnya adalah upah yang ia terima. Orang seperti ini ingin menuai, tapi ia tidak mau menanam. Mau mendapatkan, tetapi tidak mau memberi. Mau berhasil, tetapi tidak menjalankan prosesnya. Padahal segala aspek dalam kehidupan ini berlaku, APA YANG ANDA TABUR, ITU YANG ANDA TUAI.

Ciri-ciri karyawan yang memiliki mentalitas anak-anak :

* Selalu menuntut, tetapi sedikit berbuat
* Selalu menyalahkan kondisi di lingkungan, tetapi tidak pernah introspeksi
* Selalu menuntut syaratnya terlebih dahulu, baru bersedia mau melakukan sesuatu
* Menginginkan sukses yang cepat, tetapi tidak mau menjalani prosesnya
* Tidak pernah mau belajar dari kesalahan di masa lalu

Bila Anda memiliki anak buah yang memiliki ciri-ciri seperti di atas, apakah Anda mau mengambil resiko untuk mempromosikan dia ke jenjang yang lebih tinggi? Coba jawab sekarang!

4. No Easy Success
Tidak ada keberhasilan yang mudah di dalam dunia. Tidak ada pekerjaan yang gampang dengan rintangan yang sedikit. Bila Anda menginginkan promosi ke jenjang yang lebih tinggi, Anda harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai tantangan yang lebih berat. Jika saat ini Anda diberi beban ”masalah” dengan takaran seperti sekarang, pertanyaannya: apakah Anda sanggup mengatasinya? Bila Anda belum sanggup menyelesaikannya, apakah Anda sanggup memikul beban yang lebih berat pada jenjang jabatan yang lebih tinggi?

Banyak karyawan dan profesional yang mengeluh tentang kesulitan dan rintangan yang ia hadapi. Dan banyak di antara mereka memiliki pola pikir ”Kalau rintangannya tidak seberat ini, saya pasti dapat menyelesaikan tugas dengan tuntas. Habis masalahnya seberat ini sih……” Nah, justru Anda sedang diuji, apakah Anda sanggup mengatasi masalah dan beban seperti ini. Kalau Anda bisa dan berhasil, Anda bisa berbangga, karena menambah koleksi keterampilan yang baru lagi.

Kesimpulan, coba Anda mengukur diri: apakah Anda sudah menjadi seorang PROBLEM SOLVER, artinya setiap tugas-tugas yang diberikan (baik yang berat maupun ringan), Anda bisa selesaikan dengan tuntas tanpa banyak mengeluh dan tuntutan. Kalau bisa selesai, dan selalu bisa selesai, coba Anda tambahkan lagi tingkat kesukarannya dan tinjau lagi, apakah Anda berhasil tidak?

Kalau belum, latihan terus hingga berhasil. Dengan kata lain, bila posisi Anda sekarang adalah supervisor, coba ujilah diri Anda lagi, apakah Anda sanggup mengangkat beban kerja seorang manajer? Apakah Anda sudah memiliki berbagai keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang manajer? Bila belum, latihan terus hingga berhasil. Ingatlah: tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan gila-gilaan. Semuanya ada harga yang harus dibayar. Sering harganya mahal untuk bisa berhasil.

Amsal 14:23
Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja.

Kutipan dari Amsal di atas mengingatkan kita untuk bekerja dengan rajin, tekun dan keras. Hanya bicara dan mengeluh saja tidak mendatangkan keuntungan.

Bila saat ini Anda sedang patah semangat (karena tidak dipromosi), bangkitlah, buat suatu target untuk masa depan, ubah cara berpikir Anda, tabur hal yang benar dan jangan pernah menyerah hingga tujuan tercapai. Selamat mencoba lagi dengan cara yang berbeda.(Freddy Liong, MBA, CBA)

2019-09-29T02:34:11+07:00