///“Maaf Bu, Bapak sedang ke luar ruangan”

“Maaf Bu, Bapak sedang ke luar ruangan”

Sore itu, Mentari duduk tercenung di hadapan Pak Dwi, ia pasrah akan nasibnya. Apa yang terjadi hari ini bisa jadi catatan khusus yang memengaruhi penilaian prestasi kerjanya.

“Kamu tahu mengapa saya panggil kamu dan ajak kamu bicara..?” Suara berat Pak Dwi terdengar memecah keheningan sore itu. Perlahan Mentari menjawab pelan, “Ya Pak, saya sepertinya mengerti…” Terdengar Pak Dwi menghela napas dalam-dalam, lalu melanjutkan, “Sejujurnya saya tidak mengira kamu akan melakukan hal seperti itu… Saya betul-betul terkejut.” Sejenak Mentari memberanikan diri mengangkat wajahnya dan melihat kepada Pak Dwi, matanya seperti mencari kepastian bagaimana kondisi hati atasannya itu. Sesaat Mentari seperti ragu karena dia tidak kunjung menemukan kemarahan di mata Pak Dwi. Justru sebaliknya, seperti ada rasa berterima kasih dan hal itu menimbulkan tanda tanya di hati Mentari, “Kok Pak Dwi nggak marah, ya?”

Hari itu memang ada sesuatu yang terjadi dan mestinya Mentari bisa jadi menerima “SP” (surat peringatan) atas apa yang dilakukannya. Perbuatannya itu memang tidak lumrah dilakukan oleh seorang sekretaris, dan berisiko cukup serius karena sebenarnya melanggar perintah atasan langsungnya.

Sejak awal bekerja, Mentari memang sudah bertekad bahwa dia akan bicara yang sejujurnya, apa pun yang dihadapinya di pekerjaan sebagai seorang sekretaris. Apakah ini sekadar idealismenya sebagai seorang fresh graduate dari sebuah akademi sekretaris ataukah dorongan komitmen pribadinya sejak hidupnya mengalami perubahan ketika teman kuliahnya mengajak dia datang ke sebuah ibadah yang dihadiri begitu banyak anak muda, entahlah…

Ingatan Mentari terbang ke momen itu, hampir setahun yang lalu, di saat dia menyadari betapa berharganya keselamatan jiwanya. Di tempat itu, Mentari juga terkagum-kagum karena anak-anak muda yang hadir saat itu begitu antusias menyatakan komitmennya untuk hidup dengan dasar kebenaran Firman Tuhan dan bersedia melawan arus dunia pada umumnya. Saat itu Mentari tersadar bahwa hidupnya tidak sama lagi, lalu dengan sepenuh kesadaran ia mengambil keputusan berkomitmen untuk hidup di atas dasar kebenaran. Bukan sebuah kebetulan kalau Mentari akhirnya diterima sebagai pegawai administrasi merangkap resepsionis di sebuah bank yang juga merupakan kantor Pak Dwi. Dalam enam bulan saja, Mentari diminta menjadi sekretaris Pak Dwi. Di satu sisi ini adalah sebuah promosi, tetapi di sisi lain juga sekaligus sebuah tantangan untuk tetap bekerja tanpa kompromi terhadap setiap ketidakbenaran.

“Nah, Mentari… Sekarang coba kamu jelaskan, mengapa kamu melakukan ini semua?” suara Pak Dwi memecah keheningan di antara mereka. Sesaat Mentari menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan segenap keberaniannya, lalu perlahan suaranya lirih terdengar, “Saya nggak mau bohong, Pak! Seperti yang pernah saya sampaikan waktu pertama kali saya diminta menjadi sekretaris Bapak…” “Hanya itu?” Pak Dwi balik bertanya. “Ya, Pak…” jawab Mentari cepat.

Peristiwa barusan sekelibat terputar ulang di benak Mentari. Sejak pagi, seorang nasabah, Bu Sari, beberapa kali menelepon mencari Pak Dwi untuk menanyakan keputusan atas pengajuan kredit usahanya. Berhubung memang Pak Dwi belum datang tadi pagi, Mentari menjawab singkat, “Bapak belum datang, Bu…” Selanjutnya, Bu Sari menelepon kembali dan kali ini Pak Dwi sudah datang. Pak Dwi ada di dalam ruangannya dan sedang menerima telepon di saluran langsungnya, maka setelah mengetahui hal itu, Mentari memberi tahu Bu Sari bahwa atasannya itu sedang on line. Ternyata, Bu Sari pantang menyerah. Untuk ketiga kalinya, dia menelepon. Mentari meletakkan sambungan telepon dari Bu Sari pada posisi hold, lalu mengetuk pintu ruangan Pak Dwi menyampaikan informasi, “Pak, Bu Sari telepon lagi.” Dengan cepat Pak Dwi menjawab, “Bilang saja saya sedang ke luar ruangan…” Dalam hitungan sepersekian detik Mentari menyadari bahwa itu artinya dia diminta berbohong, dan dia sudah berkomitmen untuk tidak berbohong. Berbohong adalah dosa. Segera, Mentari menjawab balik, “Oke, Pak. Kalau begitu, tolong Bapak keluar dari ruangan ini dulu…” Sejenak Pak Dwi tampak heran dengan jawaban sekretarisnya, tetapi entah mengapa dia langsung berdiri dari kursinya dan keluar dari ruangan kerjanya.

Mentari menggapai telepon dan kembali berbicara kepada Bu Sari di seberang sana, “Maaf Bu, Bapak sedang ke luar ruangan…” Seketika, kemarahan Bu Sari meledak. “Dengar ya, kamu itu hanya sekretaris! Memang sekretaris itu kerjanya bohong!” Mendengar jawaban yang emosional itu, Mentari menjawab tegas, “Saya tidak berbohong, Bu. Pak Dwi memang tidak ada di ruangannya.” Langsung, terdengar telepon di seberang dibanting dengan keras. Mentari menghela napas, tetapi hatinya terasa ringan; karena memang dia tidak berbohong.

Tidak lama kemudian, Pak Dwi masuk kembali ke ruangannya dan meminta Mentari masuk juga. Sekarang inilah, Mentari duduk dan menunggu jawaban Pak Dwi.

Tidak lama kemudian, suara Pak Dwi terdengar berat. “Mentari, saya malu kepada kamu. Saya tahu kamu sudah berkata sejak awal bahwa kamu tidak mau berbohong, tetapi tadi saya justru menyuruh kamu berbohong. Saya mestinya terima telepon Bu Sari. Sejujurnya, saya malas terima telepon dari ibu itu. Dia cerewet sekali menurut saya. Namun, kamu benar. Mestinya saya tidak lakukan itu. Pendirian kamu untuk tidak berbohong menyadarkan saya. Terima kasih, ya…”

Mentari seperti tidak percaya mendengar perkataan Pak Dwi barusan. Matanya mencari kepastian. Begitu matanya bertemu dengan mata Pak Dwi, terlihat ketulusan di dalamnya. Mentari pun menjawab, “Ya Pak, saya sadar semua yang saya lakukan ini ada konsekuensinya. Namun, saya memilih melakukan kebenaran berapa pun harganya, karena saya percaya hidup saya ada dalam tangan Tuhan.”

Peristiwa hari itu membekas di hati masing-masing. Mentari, maupun Pak Dwi. Namun bagi Mentari, ini adalah sebuah peneguhan tentang penyertaan dan perkenanan Tuhan. Akhirnya, lebih dari empat tahun Mentari menjadi sekretaris Pak Dwi dan sejak peristiwa itu Pak Dwi tidak pernah meminta dia berbohong.

Kolose 3:23 – “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

*) Diangkat dari sebuah kisah nyata

Pertanyaan refleksi:
1. Kapan terakhir Anda melakukan kebenaran Firman Tuhan secara nyata dalam hidup sehari-hari?
2. Hal apa yang sering jadi pertimbangan dan membuat Anda ragu untuk melakukan kebenaran?
3. Apa yang Anda rasakan setelah Anda melakukan kebenaran Firman Tuhan?
4. Apa komitmen Anda dalam hal hidup yang dipimpin oleh kebenaran?

 

2019-10-17T10:15:49+07:00