///“Waktuku bersamanya tidak sia-sia…”

“Waktuku bersamanya tidak sia-sia…”

Sambil terus tersenyum bahagia Yokhebed menyadarkan kepalanya di sandaran kursi kayu yang sederhana di teras depan rumahnya sambil menatap kejauhan matahari yang sudah lama terbenam.  Yokhebed bahagia bukan karena salah seorang Mesir yang biasa menganiaya bangsanya itu berhasil dibunuh, tetapi karena pelakunya adalah Musa.  Mengapa ia begitu bahagia saat mengetahui bahwa Musalah yang membunuh orang Mesir itu?

Tangannya dengan lembut mengelus kulit perutnya yang sudah mulai timbul gurat-gurat keriput, karena sang pembunuh itu dahulu lahir di dunia ini melalui rahimnya… Ya, Musa adalah seorang Yahudi.

Masih teringat secara jelas bagaimana saat itu setelah dengan berat hati bayinya yang baru berusia 3 bulan harus “dilayarkan” di dalam sebuah peti pandan di sungai Nil.  Yokhebed tidak pernah berharap bahwa ia akan dapat menemukan bayinya lagi yang lenyap hilang dibawa arus sungai Nil yang besar itu.  Tetapi saat itu, anak sulungnya, Miryam, muncul dari antara semak-semak dengan tergesa-gesa, karena memang ia bertekad untuk mengikuti peti pandan yang membawa adik bungsunya itu.

“Ibu… Ayo, cepat… puteri Firaun membutuhkan Ibu..!”

“Hah… Puteri Firaun? Mau apa dia denganku?” Yokhebed sangat takut mendengar perkataan Miryam. Betapa tidak, keluarga kerajaan Firaun terkenal sebagai keluarga yang bengis dan jahat terhadap orang Yahudi, dan ratusan bayi Yahudi sudah menjadi korban karena perintah dari kerajaan.

“Ayo… Cepat, Ibu!” Karena Yokhebed masih termangu-mangu tidak percaya, tangan kanannya ditarik oleh Miryam dan berdua mereka bergegas menerobos semak-semak ilalang di sepanjang tepi sungai Nil.

“Ibu… (terengah-engah) Perahu adik ditemukan oleh sang Puteri…” ujarnya sambil terus berlari.

“Hahh… Lalu, apa yang terjadi..? (sambil terengah-engah)”, sesekali Yokhebed menahan nyeri karena kakinya menginjak semak-semak yang berduri.

“Adik diambil jadi putera mahkota oleh puteri Firaun….”

“Haaah..?!”

“Miryam melihatnya… Miryam mengusulkan kepada sang puteri bahwa ada seorang wanita Yahudi yang bersedia untuk menyusuinya… Itulah ibu, dan itulah sebabnya ibu Miryam ajak… Ayo, cepat…!” sambil kakinya berlari dengan lincah.

Air mata mengalir perlahan di pipi Yokhebed, sambil tersenyum ia mengingat semua peristiwa itu. Melalui perkenalan yang singkat, akhirnya secara ajaib ia bisa kembali bertemu dengan bayinya yang sudah diberi nama oleh sang Puteri, Musa. Allah Yahweh memang sangat ajaib.

Sejak saat itu Yokhebed tinggal di istana Firaun sebagai inang pengasuh bagi anaknya sendiri. Tentu melegakan, tetapi saat itu ia sangat menyadari bahwa waktu untuk bisa bersama dengan anaknya hanya singkat, yaitu 2 tahun sampai cerai susu. Dalam waktu yang singkat itu ia harus berusaha supaya anaknya itu sungguh-sungguh menyadari bahwa dirinya sesungguhnya bukan orang Mesir, penyembah berhala, tetapi orang Yahudi yang menyembah Allah Yahweh yang hidup.

Menanamkan kesadaran seperti itu bagi seorang bayi di bawah 3 tahun di tengah-tengah lingkungan yang tidak mengenal Allah dan penyembah berhala bukanlah hal yang sederhana dan mudah. Bayangkan… Semua mainan, gambar-gambar yang ada di sekelilingnya dan yang disediakan bagi anaknya semuanya bercerita tentang dewa-dewa dan penuh dengan sihir serta penyembahan berhala.  Suara-suara dan lagu-lagu orang yang menyembah berhala mengalun seolah-olah tidak henti-hentinya di setiap pelosok istana Firaun. Yokhebed bertekad bahwa ia tidak akan pernah mau menyia-nyiakan sedetikpun waktu bersama dengan anaknya itu.

Selalu dinyanyikannya sebagai senandung di dekat telinga Musa, lagu-lagu penyembahan kepada Allah Yahweh, janji-janji Allah saat ia sedang menyusui atau sedang mengajak Musa bermain bahkan sampai bayi itu tertidur di pangkuannya. Penuh kerja keras dan memang melelahkan, tetapi Yokhebed puas. Pembunuhan ini membuktikan bahwa Musa anaknya memilih untuk tidak memandang dirinya sebagai orang Mesir namun sebagai orang Yahudi, hingga dia membela membela orang Yahudi yang dianiaya orang Mesir, bahkan sampai membunuh si orang Mesir.

Sekalipun sekarang Yokhebed tidak tahu ke mana Musa melarikan diri setelah melakukan pembunuhan itu, ia bersyukur karena sudah melakukan bagiannya pada waktunya dengan benar. Tidak sia-sia kesempatan yang diberikan Allah kepadanya.

 

Melalui kisah ini, kita melihat bahwa pengasuhan intensif yang dilakukan oleh Yokhebed kepada Musa pada usia sampai 2 tahun ternyata menentukan pola berpikir Musa saat ia dewasa, sehingga Musa memiliki cara pandang diri tepat seperti yang dirindukan oleh orang tuanya. Bagaimana dengan kita para orang tua di masa ini? Apakah kita juga sudah menggunakan kesempatan emas untuk mengasuh anak kita yang masih berusia batita secara intensif seperti Yokhebed? Atau sebaliknya, kita justru terlalu sering membiarkan anak batita kita diasuh dan dibentuk pola pikirnya oleh orang-orang yang bukan penyembah Tuhan? Sudahkah kita gunakan kesempatan mengasuh yang diberikan kepada kita dengan benar atau justru kesempatan itu sering kita sia-siakan? Ingatlah, masa bayi dan batita anak kita tidak akan pernah terulang…

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6)

2019-10-17T14:29:04+07:00