///Rahasia melatih ketaatan pada anak

Rahasia melatih ketaatan pada anak

Apa pendapat Anda jika mendengar tentang orangtua yang memiliki penghasilan besar tetapi tidak menyediakan makanan, pakaian dan tempat berlindung yang layak bagi anak-anaknya? Apa pendapat Anda jika ada pasangan suami isteri kaya yang tinggal di rumah besar tetapi memberi anak-anak mereka kamar tidur sebesar WC saja, atau berlibur dengan mewah tapi tidak pernah mengajak anak-anak mereka? Secara naluriah, tentu kita akan melihatnya itu semua sebagai tindakan yang egois, bukan? Demikian pula, banyak orangtua yang memiliki semua sumber-sumber rohani yang dianugerahkan oleh Raja segala raja, namun tidak pernah memperkenalkan atau mengajarkan satupun di antaranya kepada anak-anak mereka untuk bisa mengalami kehidupan yang berkelimpahan dalam segala hal (termasuk dalam karakter, misalnya ketaatan) sebagai anak-anak Allah.

Kebanyakan orangtua berkomitmen total untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan menyediakan kemewahan, bila memungkinkan, bagi anak-anak mereka. Ini wajar, karena kita sebagai orangtua tentu ingin memberikan segala sesuatu yang mereka perlukan supaya dapat berhasil dalam

kehidupan. Namun, kita sebagai orang tua seringkali lalai memberikan anak-anak kita hal-hal yang sebenarnya paling mereka perlukan untuk menjadi anak-anak yang berkarakter unggul dan memiliki hati yang taat. Sungguh ironis, karena ternyata kesungguhan kita sebagai orangtua dalam usaha menyediakan segala sumber-sumber materi kepada anak-anak kita seringkali tidak diiringi dengan kesungguhan kita untuk menyediakan sumber-sumber yang sebenarnya paling mereka butuhkan. Kita bisa memiliki karir dan bisnis yang cemerlang, tanpa memiliki kecakapan yang diperlukan untuk menjadi orangtua yang efektif.

Ketaatan yang sejati hanya dapat tumbuh dari kerendahan hati yang dibentuk dari iman dan ketergantungan kepada Tuhan. Sebagai anak, cara paling efektif untuk dapat mengalami pertumbuhan iman dalam bergantung kepada Tuhan adalah melalui didikan orangtua di dalam keseharian. Bagaimana orangtua terbiasa menggunakan kebenaran firman Tuhan sebagai dasar untuk menjelaskan dan membahas segala sesuatu yang dialami bersama sebagai keluarga kepada anak-anak mereka, adalah kunci untuk mendidik hati yang berkarakter unggul di dalam diri anak-anak mereka.

Sebuah majalah bisnis terkemuka melaporkan hasil penelitian bahwa persentase remaja yang menjalani perawatan oleh dokter ahli jiwa setiap tahunnya di antara anak-anak dari kalangan eksekutif atau golongan ekonomi mapan adalah dua kali lebih tinggi daripada persentasenya di antara anak-anak dari kalangan non eksekutif atau golongan ekonomi yang lebih rendah pada perusahaan yang sama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menjadi orangtua adalah lebih dari

sekedar menyediakan makanan, pakaian, tempat berlindung dan pendidikan, sekalipun semuanya itu memiliki kualitas yang terbaik dan termahal. Memiliki uang dan keberhasilan memang boleh-boleh saja dan baik, tetapi tanpa sumber-sumber dan sarana yang diperlukan untuk menghasilkan anak-anak yang berkarakter unggul dan saleh, semuanya tentu tidak ada gunanya.

Yang menyedihkan, budaya masyarakat dunia tidak mendorong ke arah itu. Arus yang terjadi justru bergerak ke arah sebaliknya. Kebanyakan orangtua yakin bahwa apabila mereka memenuhi kebutuhan materi anak-anak mereka, memberi mereka pakaian-pakaian yang indah-indah, memasukkan mereka di sekolah yang elit, dan memperlengkapi mereka dengan komputer atau gawai terbaru, itu berarti mereka telah melakukan tanggung jawab mereka sebagai orang tua yang efektif. Padahal, tanggung jawab utama seorang anak adalah belajar memiliki karakter yang unggul, yang akan menjadi keterampilan baginya setiap hari selama seumur hidup. Salah satu karakter unggul yang terpenting adalah ketaatan, dan hal-hal lain sesungguhnya bukanlah hal yang pantas menjadi prioritas teratas.

Firman Tuhan telah menyatakan dengan jelas di dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,…”, dan memang terbukti bahwa kecenderungan hati untuk berontak dan tidak taat sudah ada dengan sendirinya dalam diri setiap anak sejak lahir. Karena itulah, belajar untuk taat adalah sebuah hal yang paling krusial bagi seluruh hidup mereka, sama pentingnya seperti sebuah kemudi pada sebuah kapal laut. Melatih anak kita menjadi taat berarti mengarahkan hidup mereka kembali ke rencana Allah yang sempurna bagi mereka. Dan bukankah inilah hal yang sangat mulia yang dapat kita, sebagai orangtua, berikan kepada anak-anak kita?

Jadi, bagaimana sekarang? Apakah kita siap menjadi orangtua yang bertanggung jawab mengutamakan hal-hal yang terutama bagi kehidupan anak-anak kita?

Dicuplik dari buku “Effective Parenting in a Defective World”, karya Chip Ingram

2019-10-17T15:43:45+07:00