//RAHASIA MELIHAT TUHAN

RAHASIA MELIHAT TUHAN

Apakah Allah ingin dilihat?
Allah adalah Bapa kita yang senantiasa rindu dilihat oleh anak-anak-Nya. Dan kita adalah anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Ketika saya bepergian dalam waktu yang cukup lama, dan ketika tiba waktunya saya pulang, saya rindu dilihat dan melihat anak-anak saya. Saya merindukan pertemuan yang penuh kasih dengan anak-anak saya. Saya percaya Allah Bapa kita juga seperti itu. Itu sebabnya Tuhan Yesus berfirman bahwa kita mampu melihat Allah karena Allah Bapa adalah Allah yang rindu dilihat oleh anak-anakNya.

 

Bagaimana melihat Allah?
Tuhan memiliki cara yang Ilahi dan sudah dipersiapkan sebelum penciptaan manusia. Tuhan telah memasang “radar penerima” di belakang otak kanan kita yang mampu berfungsi melihat secara imajinatif. Ibrani 8 : 10 berkata “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, “demikianlah firman Tuhan.”Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Kata akal budi dalam bahasa Yunani adalah Dianoia yang artinya alam imajinasi. Disitulah Allah meletakkan hukum-Nya yang adalah firman-Nya dan juga diri-Nya sendiri pada Dianoia kita atau di alam imajinasi kita. Kebenaran ini diperkuat dengan lanjutan ayat di kitab yang sama, Ibrani 10:16, sebab setelah Ia berfirman: “ Inilah perjanjian yang Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka. Kata menuliskan disitu artinya adalah menyampaikan pesan secara komunikatif kepada kita, pada akal budi kita (alam imajinasi kita). Hal ini berarti bahwa Allah yang adalah Roh mampu ditangkap secara nyata melalui fungsi otak kanan kita yaitu alam imajinasi kita.

Bagaimana membedakan Tuhan dengan roh lain?
Matius 7:7-10 menjelaskan bahwa jika minta di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, maka Tuhan pasti memberikan sesuai dengan doa kita, asal syarat pertama dipenuhi yaitu suci hatinya. Itulah sebabnya penting sekali kita menjaga pikiran kita agar tetap benar dan suci (Filipi 4:8). Memang ada kemungkinan roh lain yang berbicara atau suara hati kita sendiri yang berbicara karena fungsi otak kanan kita yang mampu menangkap getaran dimensi ke-empat (dimensi roh), tetapi kita harus yakin dengan iman bahwa jikalau kita mengenal Allah pasti mampu mendengar suara-Nya (Yohanes 10:4, 7, 14). Semakin sering kita bertemu dengan Tuhan, semakin kita mengenali perbedaan suara Tuhan, suara roh kita dan suara roh lain. Tidak ada cara lain untuk melatih roh kita dengan cara melatih berbicara intim dengan Tuhan agar kita mampu membedakannya.

 

Penyalahgunaan alam imajinasi
Orang Galatia sempat ditegur dengan keras oleh Rasul Paulus sebagai orang bodoh karena mengijinkan alam imajinasinya direbut oleh roh lain menggantikan Kristus (Galatia 3:1). Oleh sebab itu orang Galatia terjerumus dalam perbuatan daging (Galatia 5 :19-21). Artinya bahwa pikiran imajinasi kita bisa dikuasai oleh roh dunia dan roh jahat atau kedagingan hidup kita sendiri. Sebagai contoh kita lebih mudah membayangkan setan dan kemewahan dunia daripada melihat Allah. Ini adalah penyalahgunaan fungsi imajinasi yang semula diciptakan untuk tempat pertemuan dengan Tuhan.

Pernyataan Kristus adalah mukjizat
Rasul Petrus menceritakan pengalamannya ketika dia mampu berjalan di atas air, karena ia mampu mengaktifasi akal budinya (alam imajinasi). I Petrus 1 ; 13, Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Kata siapkanlah akal budimu berarti memilih dan menggunakan serta mengaktifkan fungsi otak kanan kita sehingga Petrus mampu berjalan di atas air secara mukjizat. Jikalau kita ingin mengalami pernyataan Tuhan atau mukjizat, maka pergunakanlah fungsi otak kanan kita yaitu alam imajinasi kita dalam iman dan kebenaran.

Mengasihi Tuhan dengan alam imajinasi kita
Yesus memerintahkan agar kita mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi dan bukan segenap logika kita. Matius 22 : 37, Jawab Yesus kepadanya: ‘ Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Karena hanya akal budi (imajinasi) yang sudah disucikan yang mampu mengasihi Tuhan dengan benar.

Kesimpulan
Keintiman Ilahi dibangun melalui hati yang telah dibasuh oleh darah Anak Domba Allah yaitu Tuhan kita, Yesus Kristus.
Hati yang suci mampu intim dengan Tuhan. Kita mampu melihat Allah dan Allah rindu untuk dilihat oleh kita anak-anakNya. Saya sudah mengalaminya, bagaimana dengan Anda?

2019-10-04T01:00:36+07:00