“… I’m dreaming of a white Christmas
Just like the ones I used to know
Where the tree tops glisten
And children listen
To hear sleigh bells in the snow, oh, the snow…”
Lagu yang dinyanyikan oleh Nat King Cole dengan ciri khas suaranya yang tebal dan berat itu mengalun indah pada malam Natal… Waktu itu, saya berusia kira-kira 10 tahun. Saat masa libur, saya selalu diajak Papa pergi berbelanja pohon Natal hidup, di pasar Kayon, kota Surabaya. Setiap tanggal 20 Desember, kami sekeluarga, Papa dan Mama, Koko, saya, serta adik saya, selalu bersama-sama menghias pohon Natal hijau segar yang beraroma pinus yang harum sekaligus hangat. Ada hiasan mainan kaca, kapas, bola-bola berkilau, dan lampu warna-warni yang semarak; sungguh indah sekali…
Malam Natal, tanggal 24 Desember, kami sekeluarga selalu makan malam bersama. Menunya masakan Mama yang lezat, yang biasanya ada sup merah, bakmi goreng, sup ayam hangat, dan macam-macam lainnya. Semuanya tersaji dengan tampilan yang menggoda selera kami semua. Sambil makan, Papa selalu menceritakan kisah-kisah Natal yang menarik. Memang, Papa adalah seorang good story teller, dan kegiatan itu sungguh dilakukannya dengan penuh keseruan, sementara Mama sibuk melayani kami, anak-anak yang mendengarkan cerita dengan saksama sambil terus menyuapkan makanan. Kadang, terdengar celetukan Mama mengomentari, “Papamu itu memang pinter…” Biasanya, cerita Papa berakhir dengan happy ending, dan kami semua pun tertawa bahagia.
Setelah makan malam itu, kami biasa bersiap-siap untuk pergi ke gereja bersama. Ibadah malam Natal berlangsung pukul 10 sampai 11.30 malam di Gereja Kristen Indonesia Sulung Sekolahan 2A. Itulah gereja tempat saya sejak kecil dibesarkan secara Kristen Protestan yang taat, termasuk mengikuti Katekisasi, Baptis Sidi, dan aktif sebagai pengurus komunitas Remaja dan Pemuda, sehingga mengalami perjalanan sebagai pelayan Tuhan yang terdidik secara organisasional. Masih teringat jelas kala di gereja itu, sejak usia remaja saya sudah diminta berkhotbah pada pertemuan ibadah doa pagi setiap akhir pekan…
Setelah pulang dari ibadah, setibanya di rumah kami sekeluarga beristirahat di kamar masing-masing. Tinggallah saya sendiri, dalam kegelapan tengah malam. Saya bersujud dan berdoa di bawah pohon Natal dengan lampunya yang kerlap-kerlip dan aroma pinusnya yang segar. Saya memandangi hiasan kandang domba, dengan bayi Yesus di palungan yang dikelilingi orang tuanya, Yusuf dan Maria, serta beberapa penggembala domba di dekat palungan itu. Suasana yang syahdu itu diiringi lagu instrumental dari ruang tengah rumah kami, “Silent night, holy night, all is calm, all is bright…” Pada saat-saat itu, saya diam dan tenang, menikmati kebersamaan dengan Tuhan. Saya merasakan hadirat-Nya yang lembut merengkuh hati saya … unforgettable!
“Tuhan Yesus… aku percaya kepada-Mu, aku bahagia menjadi anak-Mu…” sambil tersenyum, saya bergumam lirih dalam doa. Tanpa terasa, saya tertidur di bawah pohon Natal yang indah itu, lalu bermimpi tentang indahnya suasana di surga ketika saya bercengkerama, bergurau, berpelukan dengan Bapa…
Setiap tahun, saya selalu menikmati malam Natal tanggal 24 Desember bersama keluarga terkasih. Dahulu, saya bersama keluarga kandung tempat saya dilahirkan dan tumbuh besar. Kini Papa, Mama, dan koko saya sudah di Taman Eden bersama Bapa, bersama cucu saya tercinta, Mikayla. Di bumi ini saya bersama adik serta keluarga inti yang saya bentuk bersama istri. Saya selalu merindukan malam Natal yang syahdu seperti saat masa kecil, dengan kebersamaan, keindahan, keakraban, dan kehangatan bersama keluarga terkasih. Saya selalu merindukan anggota keluarga yang sudah tidak bersama; I miss you always, Papa, Mama, Koko, Kayla; tetapi saya tahu, mimpi tentang suasana surga saat saya tertidur di bawah pohon Natal dahulu tetap tersedia. Suatu saat nanti, saya akan bertemu seluruh keluarga di surga yang indah itu, dan kita semua akan menikmatinya bersama-sama dengan Bapa Surgawi yang Maha Kasih itu.
Sampai saat itu tiba, saya akan melewati Natal demi Natal di bumi ini dengan mengasihi orang-orang yang Tuhan percayakan untuk saya kasihi. Sepanjang jalan yang tersisa bagi saya dalam kehidupan di bumi ini, saya tahu pasti, Tuhan Sang Imanuel itu beserta dengan saya dan beserta orang-orang yang saya kasihi.
Selamat Natal. Kiranya damai-Nya selalu menghangatkan hati kita.
“Dan mereka akan menamakan Dia ‘Imanuel’ — yang berarti: Allah menyertai kita.”
– Matius 1:23