///Roh Kudus dan Tubuh Kristus : Menjadi Gereja yang Apostolik dan Profetik

Roh Kudus dan Tubuh Kristus : Menjadi Gereja yang Apostolik dan Profetik

Dalam edisi bulan ini, kita berfokus pada isi kitab Kisah Para Rasul. Sesuai dengan judulnya, kitab ini mengisahkan berbagai hal yang dialami dan dikerjakan oleh para rasul. Menariknya, hal-hal itu terjadi tepat pada masa setelah Yesus kembali ke surga, yaitu ketika pengikut-pengikut Yesus melanjutkan hidup mereka dengan iman dan penyertaan Roh Kudus yang Yesus tinggalkan, sebagai satu komunitas orang percaya bersama-sama (Tubuh Kristus). Mereka inilah para rasul itu. Dari hal-hal yang dicatat tentang mereka dalam kitab Kisah Para Rasul, kita dapat melihat hubungan antara Roh Kudus dan Tubuh Kristus. Bahkan, kita dapat menemukan tema yang terjalin di seluruh isi kitab ini, yaitu kehidupan dan pelayanan “Kristus korporat” (komunitas bersama, Tubuh Kristus), sebagai kelanjutan dari kehidupan dan pelayanan “Kristus pribadi” (Yesus) semasa hidup-Nya di bumi dalam kitab-kitab Injil. Mari kita amati bersama dengan lebih jelas.

 

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan  Yesus,” – Kisah Para Rasul 1:1, TB

The former account I made, O Theophilus, of all that Jesus began  both to do and teach,” – Acts 1:1, NKJV

 

Di dalam Alkitab bahasa Inggris versi NKJV, ada kata “began” (“mulai “) yang menerangkan segala hal yang telah dilakukan Yesus, yang menunjukkan bahwa isi kitab Kisah Para Rasul adalah catatan tentang “kelanjutan ” dari segala hal yang telah Yesus lakukan itu. Perhatikan bahwa kitab Injil terakhir dan kitab Kisah Para Rasul keduanya ditulis oleh Lukas, maka kita dapat memandangnya dalam konteks suatu rangkaian, dengan bagian pertama dalam Injil Lukas berisi kehidupan dan pelayanan Kristus pribadi, serta bagian kedua dalam Kisah Para Rasul berisi kehidupan dan pelayanan “Kristus korporat”. Kedua bagian dan kedua kitab ini sama-sama dimulai dengan catatan tentang peran Roh Kudus. Injil Lukas pasal satu mencatat tentang turunnya Roh Kudus ke rahim Maria, yang membentuk tubuh Kristus pribadi sebagai Anak Allah yang menjadi Manusia, sedangkan Kisah Para Rasul pasal satu mencatat tentang Roh Kudus dijanjikan untuk diberikan Yesus kepada kumpulan pengikut-Nya, yang membentuk Tubuh Kristus secara korporat.

Kali ini, kita akan secara khusus mempelajari pasal satu dan dua dalam Kisah Para Rasul, tentang lahirnya gereja mula-mula, yang apostolik dan profetik.

 

Janji tentang Baptisan Roh Kudus

Pada suatu hari ketika Dia makan bersama-sama dengan mereka, Dia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa , yang – demikian kata-Nya –  ‘telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus ” – Kisah Para Rasul 1:4-5, TB

 

Kisah Para Rasul pasal satu berisi catatan tentang Yesus memberikan janji Bapa, yaitu baptisan Roh Kudus. Kesebelas murid itu, sebelumnya pada awal masa 40 hari Yesus masih di bumi setelah kebangkitan-Nya, telah menerima “embusan” Roh Kudus dari Yesus (Yesus berkata, “… terimalah Roh Kudus,” Yoh. 20:22). Ini adalah peristiwa ketika Roh Kudus masuk untuk mendiami kesebelas murid Yesus itu. Namun, pada akhir masa 40 hari sebelum Yesus naik ke surga, Dia pun meminta agar kesebelas murid-Nya itu menantikan janji Bapa, agar mereka dibaptis (artinya “dibenamkan”, atau “dimasukkan seluruhnya”) ke dalam Roh Kudus. Ini berarti bukan hanya murid Kristus perlu didiami Roh Kudus (Roh Allah hidup di dalam diri mereka), melainkan juga mereka perlu masuk seluruhnya ke dalam Roh Kudus (mereka hidup di dalam Roh  Allah). Ingat, saat masih melayani di bumi pun Yesus pernah mengajar para murid-Nya tentang “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” dan “hiduplah di dalam Aku, dan Aku di dalammu”.

 

Baptisan Roh Kudus dijanjikan dan disediakan oleh Allah Bapa melalui Yesus, sebagai suatu pengalaman bagi kita, murid-murid-Nya, dibenamkam/dicelup/ditenggelamkan, ke dalam Roh-Nya, sehingga kita seluruhnya berada di dalam Roh Allah. Pengalaman baptisan Roh Kudus ini memang hanya satu kali, tetapi hidup di dalam Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus haruslah menjadi kenyataan yang konstan (tetap, terus-menerus).

 

 

Dibaptis dan Diberi Minum oleh Roh Kudus, dalam Tubuh Kristus

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.” – Kisah Para Rasul 2:4-5, TB

 

Janji Bapa melalui Yesus kepada para murid-nya digenapi pada hari Pentakosta. Perwujudannya ternyata menjadi penggenapan perayaan Pentakosta pula. Bukan hanya umat Allah menerima baptisan Roh Kudus, dengan murid-murid Yesus dipenuhi Roh Kudus dan berbahasa Roh, tetapi juga semua orang percaya dari berbagai latar belakang golongan itu dipersatukan sebagai satu komunitas oleh Roh Kudus. Pentakosta adalah peringatan yang dilakukan dengan imam mempersembahkan dua ketul roti sebagai gambaran dua golongan/kelompok manusia yang tidak bersatu karena adanya berbagai dinding pemisah, dalam satu persembahan unjukan di hadapan Tuhan (Im. 23:17-22). Peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta itu merupakan penggenapannya. Dari berbagai latar belakang golongan, semua orang percaya, yaitu mereka yang beriman di dalam Yesus Kristus, kini dibaptis (dimasukkan, ditenggelamkan) oleh Roh Kudus menjadi satu “tubuh”. Terbentuklah Tubuh Kristus, Kristus korporat, dari anggota-anggota yang banyak itu.

 

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” – 1 Korintus 12:12-13, TB

Sama seperti yang dialami oleh orang-orang percaya pada masa itu, kita pun saat ini perlu dibaptis dan minum dari satu Roh Kudus yang sama. Apa pun latar belakang golongan kita, di dalam iman dan oleh satu Roh Allah, kita kini adalah satu Tubuh Kristus.

 

 

Menjadi Gereja yang Apostolik dan Profetik

Setelah peristiwa baptisan Roh Kudus pada hari Pentakosta itu, Rasul Petrus berkhotbah. Dalam khotbahnya, dia mengutip bahwa janji turunnya Roh Kudus itu telah dinubuatkan oleh Nabi Yoel sejak lama sebelumnya.

 

Akan terjadi pada hari-hari terakhir – demikianlah firman Allah – bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.” – Kisah Para Rasul 2:17-18, TB

 

Peristiwa dan nubuat ini bersama-sama menunjukkan kepada kita bahwa turunnya Roh Kudus ternyata bertujuan untuk membentuk Tubuh Kristus dari segala golongan manusia, sebagai satu Gereja. Manusia dari segala generasi, gender, denominasi, latar belakang, semuanya dibaptis, diberi minum, dan dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga mendapat mimpi serta penglihatan, bernubuat, dan melayani dengan kuasa Roh Kudus. Inilah yang disebut dengan Gereja yang apostolik dan profetik. Dalam Tubuh Kristus yang dipenuhi Roh Kudus, Roh Kudus memberi minum air kehidupan kepada para anggotanya. Alhasil, kuasa dan karya Roh Kudus menjadi nyata serta berbuah-buah dalam segala hal yang dilakukan oleh Tubuh Kristus, seperti yang dialami oleh gereja mula-mula.

 

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” – Kisah Para Rasul 2:41-42, TB

 

Gereja mula-mula menjadi Gereja yang apostolik dan profetik. Melalui proses dibangun oleh rasul-rasul dengan dasar Yesus Kristus, saling memuridkan dalam kehidupan berkomunitas yang terus-menerus, dan diutus dalam kelompok kecil yang menjangkau jiwa, oleh Roh Kudus mereka menjadi Tubuh Kristus yang apostolik dan profetik. Itulah sebabnya hasil yang mereka alami pun begitu dahsyat. Perhatikan gambar berikut, yang menunjukkan ciri-ciri gereja mula-mula (tampak dalam catatan Kisah Para Rasul pasal 2). Kita sebagai gereja masa kini pun dapat dan harus mengalaminya, oleh proses dan kuasa yang sama.

 

Nah, siapkah Anda dan saya menjadi Gereja yang apostolik dan profetik pula? Mari terus memberi diri untuk senantiasa dipenuhi dengan Roh Kudus, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam Tubuh Kristus, agar kita pun mengalami proses dan kuasa yang nyata pada akhir zaman ini!

2021-11-02T09:13:51+07:00