///Rumah Tuhan pusat solusi bangsa-bangsa

Rumah Tuhan pusat solusi bangsa-bangsa

“Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.”” (Yesaya 2:2-3)

Apa saja hal-hal penting yang perlu kita perhatikan dari firman Tuhan ini?

TERJADI PADA HARI-HARI TERAKHIR
Visi ini akan digenapi pada hari-hari terakhir. Hari Tuhan adalah masa yang dimulai pada waktu kedatangan Tuhan yang pertama dan berakhir pada waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali. Jadi, sebenarnya Yesaya 2:2-3 telah dimulai pada masa gereja mula-mula, namun dalam sejarah, masa keemasan gereja hanya bertahan kurang dari 100 tahun, dan kemudian mengalami kemerosotan sampai zaman kegelapan gereja. Tetapi kemudian gereja mulai dipulihkan sejak zaman reformasi sampai masa kini. Visi ini menunjukkan bahwa gereja akan dipulihkan bukan hanya sampai kembali seperti keadaan gereja mula-mula, namun sampai lebih lagi dan akan mencapai puncak kejayaannya.

GUNUNG TEMPAT RUMAH TUHAN MENGATASI BUKIT-BUKIT
Oleh Tuhan, Nabi Yesaya diperlihatkan bahwa gunung tempat rumah Tuhan akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit. Gunung di dalam Perjanjian Lama selalu melambangkan tempat penyembahan. Di dalam Perjanjian Lama pula, 3 bukit di Israel disebutkan pernah menjadi tempat berdirinya tempat penyembahan orang Israel, yaitu Bukit Gibeon (tempat tabernakel Musa), Bukit Sion (tempat pondok Daud), Bukit Moria (tempat bait suci Salomo). Namun, yang Yesaya lihat ini adalah sebuah gunung yang tidak terlihat oleh mata jasmani, gunung yang akan berdiri tegak dan menjulang tinggi mengatasi ketiga bukit tersebut. Itulah gunung tempat berdirinya rumah Tuhan di akhir zaman. Ini akan menggenapi apa yang Yesus nantinya katakan, “Kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” (Yoh. 4:21), sebab telah tiba saatnya kita menyembah Allah di rumahNya di gunung Tuhan. Rumah Tuhan di akhir zaman akan dibangun di atas “gunung” yang lebih tinggi dan kokoh, melebihi gunung jasmani yang pernah menjadi tempat rumah Tuhan di Perjanjian Lama.
Selain tempat penyembahan, tafsiran lain tentang gunung adalah perlambang tentang kerajaan. Di mana ada tempat penyembahan, di situ ada kerajaan. Di akhir zaman, kerajaan Allah adalah seperti gunung tinggi yang mengatasi semua gunung lain, kerajaanNya mengatasi semua kerajaan lain di dunia ini.

BERDIRI TEGAK DAN MENJULANG TINGGI
Betapa dahsyatnya rumah Tuhan pada akhir zaman, ia akan berdiri tegak, berdasarkan kerajaan Allah yang mengatasi semua kuasa dan otoritas kerajaan-kerajaan dunia ini. Ini sama seperti apa yang dituliskan oleh Kitab Ibrani, yaitu pada akhir zaman, rumah Tuhan (Sion/Yerusalem) akan berdiri di atas dasar/pondasi kerajaan Allah yang tidak tergoncangkan (Ibr. 12:22-29). Itu sebabnya, apabila kita berada di rumah Tuhan, kita akan aman dan terhindar dari kerusakan akibat segala goncangan akhir zaman yang sangat mengerikan. Bahkan, rumah Tuhan pada akhir zaman akan menjulang tinggi di atas bukit-bukit. Artinya, rumah Tuhan akan diangkat tinggi-tinggi menjadi icon atau pusat perhatian. Rumah Tuhan akan menjadi seperti yang Yesus katakan tentang murid-muridNya, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” (Mat. 5:14). Ini artinya, kita sebagai murid-murid akan dibangun sebagai kota di atas gunung. Kita adalah kota, yaitu kumpulan rumah-rumah. Pada akhir zaman, rumah Tuhan akan menjadi terang dunia. Rumah Tuhan yang memancarkan terang ini akan menjadi jawaban bagi dunia yang gelap ini.

SEGALA BANGSA BERDUYUN-DUYUN KE RUMAH TUHAN
Jika rumah Tuhan telah dibangun di atas dasar kerajaan yang tak tergoncangkan dan diangkat tinggi sebagai kota di atas gunung Tuhan, maka segala bangsa akan berduyun-duyun datang ke rumah Tuhan. Ini sangat luar biasa. Yesaya berkata bahwa segala bangsa akan mengalir seperti air yang tidak habis-habisnya ke rumah Tuhan (Bahasa Inggris – NKJV: all nations will flow to it). Inilah penggenapan Amanat Agung, yang baru akan terjadi apabila kita membangun rumah Tuhan. Ternyata segala bangsa dan segala suku bangsa barulah dapat dijangkau bila kita membangun rumah Tuhan di mana-mana. Amanat Agung tidak dapat dipenuhi hanya dengan aktivitas penginjilan sekedarnya saja, tetapi harus dicapai dengan visi dan aktivitas membangun rumah Tuhan seperti yang dinubuatkan dalam Yesaya 2:2-3.

SEGALA BANGSA DIMURIDKAN
Hal apakah yang akan dicari oleh segala bangsa dan suku-suku bangsa? Jawabannya jelas, mereka akan mencari jalan-jalan Tuhan, sebagai tuntunan kehidupan atau solusi kehidupan. Hari-hari ini banyak orang yang belum mengenal Tuhan mengalami kebingungan untuk menemukan solusi dalam segala aspek kehidupan (pernikahan, mendidik anak, keuangan, masalah seks, problem emosi, menjadi bapa, menjadi suami/istri, dan semua masalah kehidupan lainnya), karena memang dunia tidak memiliki solusi ini. Di manakah solusi kehidupan itu dapat ditemukan? Hanya di rumah Tuhan. Di rumah Tuhanlah Ia (Tuhan) akan mengajar segala bangsa akan segala solusi kehidupan itu, dan mereka akan taat berjalan menempuhnya. Inilah pemuridan. Ternyata bangsa-bangsa hanya akan berhasil dimuridkan di rumah Tuhan. Di rumah Tuhan, Tuhan sendiri (melalui anggota-anggota tubuhaNya) akan memuridkan segala bangsa dan suku bangsa. Jadi, pemuridan tidak dapat terjadi dengan sempurna bila tidak dilakukan di rumah Tuhan. Betapa banyaknya program pemuridan yang dilakukan saat ini tidak berkaitan dengan rumah Tuhan. Kebanyakan pemuridan bersifat individual.
Pribadi “memuridkan” pribadi tanpa berkaitan sama sekali dengan rumah Tuhan. Ini baik, tetapi tidak akan maksimal. Pemuridan barulah maksimal apabila dilakukan di dalam sebuah komunitas rumah Tuhan.

SION/YERUSALEM YANG SEBENARNYA
Rumah Tuhan yang menyediakan segala solusi kehidupan itu digambarkan sebagai Sion/Yerusalem. Apa artinya? Bukankan Sion/Yerusalem adalah gambaran dari gereja sendiri? Sayangnya, gereja yang sekarang kita lihat seringkali tidak seperti menyerupai gereja yang digambarkan dengan Sion/Yerusalem itu. Jadi hal apakah yang membuat Tuhan begitu “terkesan” dan “menyukai” Sion/Yerusalem? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu kembali melihat peristiwa yang terjadi di Sion/Yerusalem dan pendirinya. Sion didirikan oleh Daud, dan Yerusalem disebut Kota Daud. Daud adalah orang yang sangat mencintai rumah Tuhan. Daud telah membangun pondok Daud yang terdiri dari satu tenda dengan banyak kelompok kecil (12 orang) imam-imam yang melayani selama 40 tahun di Sion, di kota Yerusalem (1 Taw. 15, 16, 25). Tanpa disadari, tindakan Daud sebenarnya telah menjadi tindakan profetik yang menggambarkan bentuk rumah Tuhan, yaitu gereja Perjanjian Baru, melalui satu tenda dengan banyak kelompok kecil imam-imam:
* Satu tubuh dengan banyak anggota dan banyak sel
* Satu rumah dengan banyak ruang
* Satu keluarga besar dengan banyak keluarga kecil
* Satu gereja lokal dengan banyak komunitas sel
Yesaya sendiri mendapatkan pewahyuan bahwa Tuhan akan menjadikan kemah Daud (pondok Daud) sebagai tempat kediamanNya di Sion (Yes. 16:1-5), “maka suatu takhta akan ditegakkan dalam kasih setia dan di atasnya, dalam kemah Daud, akan duduk senantiasa seorang hakim yang menegakkan keadilan, dan yang segera melakukan kebenaran.”

KOMUNITAS SEL YANG MAKSIMAL
Jadi, yang Tuhan akan bangun di akhir zaman adalah sama dengan yang dinubuatkan oleh Nabi Amos, dan yang dikutip oleh Yakobus pada waktu menyelesaikan perdebatan dalam gereja mula-mula, berkaitan dengan apakah bangsa-bangsa bukan Yahudi harus disunat ketika mereka menjadi Kristen.

“Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milikKu demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,” (Kisah Para Rasul 15:16-17)

Ternyata menurut Nabi Amos, Tuhan akan membangun pondok Daud, yang menggambarkan rumah Tuhan di zaman Perjanjian Baru. Ini ternyata tidak seperti pada tabernakel Musa atau bait suci Salomo, di mana hanya Suku Lewi yang boleh menjadi imam-imam yang melayani, karena mereka adalah milik Tuhan (Bil. 3:5-12). Dalam pondok Daud yang akan dibangun kembali pada akhir zaman, segala bangsa yang datang ke rumah Tuhan adalah milik Tuhan, atau dengan kata lain mereka semua adalah imam-imam (Kis. 15:17).

Jadi, rumah Tuhan yang akan dibangun olehNya pada akhir zaman adalah jemaat lokal dengan komsel-komsel yang semua anggotanya berfungsi sepenuhnya sebagai imam-imam. Ketika semua anggota komsel berfungsi sebagai imam-imam, yaitu mempraktekkan semua karunia (1 Kor. 12:4-6), maka komsel-komsel akan menjadi pusat solusi kehidupan, sehingga segala bangsa akan berduyun-duyun datang ke komsel. Inilah fokus tahun 2015 untuk semua jemaat lokal Abbalove. Kita akan mulai membangun komunitas yang menjadi rumah Tuhan, pusat solusi bagi suku bangsa, serta lentera suar bagi tubuh Kristus.

2019-10-17T16:59:54+07:00