///RumahMu, jawaban bagi kota dan bangsaku

RumahMu, jawaban bagi kota dan bangsaku

Setiap pulau, setiap kota, dan setiap bangsa pasti membutuhkan jawaban atas segala masalah yang terjadi di dalam masyarakatnya. Demikian pula dengan negara kita, yang membutuhkan jawaban bagi segunung permasalahan yang terjadi. Sebagai orang Kristen dan rumah Tuhan yang tinggal dan bertempat di kota masing-masing di Indonesia, kita harus memberikan solusi yang tepat bagi kota dan bangsa kita ini. Bagaikan kegelapan yang membutuhkan terang, semua permasalahan itu membutuhkan solusi yang tepat. Apakah solusi yang tepat itu? Kesatuan kita dengan Tuhanlah solusi yang tepat itu. Mari kita simak penjelasannya.

Tuhan berfirman melalui nabi Yesaya, “Beginilah firman Tuhan: ‘Langit adalah tahtaKu dan bumi adalah tumpuan kakiKu; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagiKu, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentianKu? Bukankah tanganKu yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi?’ Demikianlah firman Tuhan. ‘Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang  yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firmanKu,’”(Yes. 66:1-2).

Dari firman Tuhan ini, kita dapat melihat bahwa hal yang paling diinginkan oleh Allah di dunia ini adalah agar manusia menjadi rumahNya/mempelaiNya/tubuhNya. Memang, Tuhan senang dengan persembahan dan pelayanan yang lahir dari hati yang mengasihi Dia, namun di atas semua itu, Ia menginginkan diri dan hidup kita sendiri sebagai rumahNya/mempelaiNya/tubuhNya. Karena rumah, mempelai dan tubuh adalah sarana/tempat Ia menyatakan diriNya sendiri secara sempurna, nyata dan permanen, dan penyataan diri Tuhan ini akan dialami oleh orang-orang lain. Allah ingin tinggal dan bersatu dengan di dalam hubungan yang penuh kasih dan kekal dengan manusia. Ini berarti bukan hanya dengan kita, tetapi dengan semakin dan semakin banyak manusia yang mungkin saat ini belum mengenal dan mengalami Dia, namun yang telah diciptakanNya dan dikasihiNya sejak semula.

Jadi, saat perayaan Natal semakin mendekat di akhir bulan, hadiah terbaik yang dapatkan kita persembahkan bagi Yesus sebenarnya bukanlah uang, barang, atau bahkan kerja keras pelayanan kita. Hadiah terbaik yang dapat kita persembahkan bagi Dia sesungguhnya adalah diri kita yang berkomitmen dan terus bertumbuh menjadi rumahNya, mempelaiNya, dan tubuhNya. Inilah persembahan terbaik yang sesungguhnya Tuhan rindukan dari diri kita. Lalu, bagaimana cara kita mempersembahkan hadiah terbaik ini?

Ide untuk membangun rumah, mempersiapkan mempelai, dan membangun tubuh Kristus adalah inisiatif Tuhan sendiri. Di dalam kekekalan, Ialah yang telah memiliki rancangan sejak semula untuk “proyek” mahabesar ini. Tuhan tidak ingin kita  berusaha membangun rumahNya, menjadi mempelaiNya dan menjadi tubuhNya, dengan rancangan dan kemampuan manusiawi kita. Mengapa? Selain karena hasilnya tidak akan berkenan dan sesuai standar di hadapanNya, Tuhan juga tidak ingin seorang pun memegahkan diri karena keberhasilan jerih lelah itu.

Mendekati penghujung tahun 2015, bagaimanakah hasil pembangunan rumah Tuhan (atau mempelai dan tubuh Kristus) yang telah kita doakan dan lakukan bersama? Syukurlah, atas anugerah Tuhan, rumahNya, mempelaiNya, dan tubuhNya sudah ada dan sedang terus mengalami perkembangan/pertumbuhan. Meski melewati berbagai tantangan dan pergumulan, kita bersyukur karena mempunyai pengalaman nyata berjalan bersama Tuhan di sepanjang tahun ini. Memang Tuhan menginginkan hasil yang sempurna sebagai tujuan akhir nanti, tetapi jika kita merenungkan kembali seluruh prosesnya, ternyata Tuhan juga menikmati perjalanan bersama kita sebagai anak-anakNya, rekan kerjaNya, dan calon mempelaiNya. Bagaimana denngan diri kita sendiri? Sudahkah kita menikmati proses berjalan bersama Dia? Dapatkah kita merasakan hati Tuhan yang bergirang ketika Ia berjalan bersama kita?

Perjalanan kita masih panjang. Kota dan bangsa Indonesia masih membutuhkan diriNya dinyatakan di aspek kehidupan dan di setiap tingkat masyarakat (RT, RW, kelurahan, kecamatan, dst). Apakah antusiasme dan sukacita masih menghiasi hati kita? Ataukah justru rasa lelah dan kecewa telah melekat pada hati kita yang terdalam? Mungkin kemiskinan, penderitaan, kejahatan, bencana dan sakit-penyakit yang masih berlarut-larut menyebabkan kita telah putus asa tanpa disadari. Atau mungkin juga, banyak pemikiran dan ide manusiawi yang muncul demi mengatasi semua persoalan tersebut. Sayangnya, kita tahu bahwa tidak akan pernah ada jaminan bahwa semua pemikiran dan ide manusia yang mungkin bagus dan hebat itu mampu mengatasi berbagai persoalan yang terjadi hingga tuntas sempurna. Kita juga menyadari bahwa selain karena faktor Iblis, persoalan manusia sebenarnya berakar dari ego yang jahat dan tidak mau berjalan dalam kehendak Allah. Lagipula, ada bagian-bagian tertentu dari kehendak bebas manusia yang dimanipulasi oleh iblis lewat tipu dayanya untuk menghancurkan manusia dan menggagalkan rencana Tuhan bagi manusia. Karena hal inilah, tidak ada jawaban atau solusi lain yang sempurna bagi seluruh permasalahan manusia selain terwujudnya rencana Tuhan yang sempurna: kesatuan Tuhan dengan manusia.

Tuhan dan rumahNya, Yesus dan mempelaiNya, Kristus dan tubuhNya, semuanya ini adalah kesatuan sempurna yang tidak terpisahkan. Untuk itu, demi menjawab permasalahan kota dan bangsa kita, kita harus kembali kepada jalan dan rancangan Tuhan: rumah Tuhan, mempelai Kristus, tubuh Kristus. Mengapa? Paulus berkata, “Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka  dan hidup di tengah-tengah mereka,  dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku,’”(2 Kor. 6:16). Penulis Kitab Wahyu juga menjelaskan kepada kita bahwa di dalam kekekalan kelak, Tuhan bersatu selamanya dengan rumahNya/mempelaiNya/tubuhNya, “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umatNya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu,’” (Why. 21:3-4). Jelaslah di sini, bahwa Tuhan ingin tinggal di rumahNya, dan bersatu dengan mempelaiNya yaitu tubuhNya sendiri, agar Ia menyelesaikan seluruh rencanaNya di muka bumi dengan sempurna.

Kisah nyata di dalam Perjanjian Lama tentang Nehemia membangun tembok Yerusalem adalah kesaksian sejarah yang luar biasa, bahwa Tuhan terlibat langsung di dalam kesatuan umatNya. Bagi bangsa Israel, membangun tembok Yerusalem saat itu adalah membangun kembali Bait Allah, tempat mereka bersekutu (bersatu) dengan Allah. Meski menghadapi tantangan dan ancaman yang membahayakan nyawa, keterbatasan dan kekurangan dari umat Tuhan, namun ketaatan dan kerelaan berkorban di dalam kesatuan yang dipimpin oleh Tuhan telah menghasilkan karya yang hebat, yakni tembok Yerusalem dibangun dalam waktu lima puluh dua hari saja (Neh. 6:15). Bagaimana dengan kita di masa ini? Tuhan yang sama ingin memimpin kita untuk menjawab kebutuhan kota dan bangsa yang kita cintai. Tuhan tidak pernah berubah, Ia masih sama rindunya untuk mewujudkan kesatuan diriNya dengan kita, dan menjadi jawaban bagi kota dan bangsa kita. Inilah yang seharusnya menjadi prioritas utama kita bersama sebagai umat tebusan Tuhan.

Marilah kita bergabung dan terlibat aktif di dalam “proyek” besar Tuhan ini. Gunakan momen perayaan Natal tahun ini untuk sungguh-sungguh melayani jiwa-jiwa yang membutuhkan jawaban di kota dan bangsa kita, bukan dengan usaha dan kemampuan manusiawi kita, tetapi sebagai persembahan yang lahir dari kesatuan kita dengan Tuhan, sehingga Sang Terang itu menyinari kegelapan di dunia. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk memiliki iman yang teguh saat bertindak dan berkata, “RumahMu adalah jawaban bagi kota dan bangsaku.”

2019-10-17T15:41:59+07:00