///Sanggup? Sanggup!

Sanggup? Sanggup!

Bulan demi bulan berlalu, dan jumlah murid yang ingin diajar oleh kakak saya semakin bertambah. Bukan karena unsur nepotisme, tetapi memang tampaknya berita “guru favorit” cepat menyebar di kalangan sekolah. Semua anak (atau mungkin ibu-ibu juga) berinisiatif untuk meminta diajar oleh kakak saya. Di tahun berikutnya, ia pun melamar menjadi guru paruh waktu di sekolah musik lain, dan dia diterima. Seiring dengan bertambahnya murid yang diajar, ia pun semakin giat memperdalam keterampilannya dalam bermain musik. Penghasilan makin bertambah, keterampilan pun makin terasah.

Singkat cerita, keadaan yang sangat nyaman tersebut kemudian (saya rasa) sedikit terusik, ketika ia memutuskan untuk pindah ke kota lain. Berbekal niat hati yang teguh karena mendengar beban hati Tuhan sendiri untuk menjadi berkat buat suatu kota, maka pindahlah ia ke kota yang menjadi ladang misinya itu. Nekat, itu yang muncul jadi benak saya. Bagaimana bisa menjadi guru musik yang berhasil di kota kecil seperti itu? Benar saja, ketika sampai di kota kecil itu, kakak saya kesulitan mencari pekerjaan.

Sebuah proses kehidupan yang kita alami terkadang tidak terlihat mudah untuk dilalui. Ada kalanya, proses dari Tuhan itu terasa begitu menyusahkan dan tidak mengenakkan. Apalagi, ada saat-saat di mana proses itu sedang berlangsung dan Tuhan ingin agar kita tetap melakukan pekerjaan Bapa. Pelajaran ini saya dapatkan melalui kisah dengan kakak saya. Dalam keegoisan, saya berpikir, “Masalah dan beban yang saya alami saja sudah besar, sepertinya Amanat Agung dan Pekerjaan Bapa adalah ‘tuntutan’ tambahan…”

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. ….tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh. 14:15-26)

Yesus tahu pasti bahwa kita takkan mampu melalui setiap proses kehidupan dengan kekuatan kita sendiri. Dan Ia jelas paham bahwa kita takkan kuat melakukan Amanat Agung dan rangkaian Pekerjaan Bapa yang dahsyat jika hanya mengandalkan kekuatan diri kita itu. Meskipun dengan kekuatan dan kesehatan prima, otak cemerlang atau kemampuan yang sangat besar, Ia tahu bahwa kita tetap selalu membutuhkan Roh Kudus untuk memampukan kita.

Dalam perumpamaan talenta, si lima talenta takkan bisa melipatgandakan talentanya menjadi sepuluh jika ia tidak bertindak dan bergerak untuk melalui proses itu: proses untuk bertumbuh sekaligus melakukan Amanat Bapa (amanat yang diberikan tuan kepada hambanya untuk menjalankan talenta itu), sementara Roh Kudus membantu untuk si lima talenta bergerak dan menghasilkan talenta yang lebih banyak. Jika kita bandingkan, si satu talenta terlihat seperti terbebani dengan proses. Dia sibuk berkutat hanya menjaga/menyembunyikan talenta yang diberikan karena takut kehilangan, tanpa mau diproses untuk melakukan setiap Amanat dari si Tuan. Inilah kita, terkadang. Kita sibuk mempertahankan yang tidak seberapa karena takut kehilangan, dan tidak mau melakukan pergerakan yang lebih dan memberi diri untuk lebih ditolong oleh Roh Kudus demi melakukan apa yang Bapa inginkan, yang sebenarnya pada akhirnya akan menghasilkan pelipatgandaan.

— Pada tahun-tahun awal ketika kakak saya tinggal di kota kecil itu, ia mulai setia diproses Allah. Melakukan pekerjaan Bapa melalui mengasihi jiwa-jiwa baru yang ditemuinya. Setia mulai kembali melibatkan diri secara aktif di dalam pelayanan tim penyembahan di gereja lokal kota tersebut. Dan dalam hal pekerjaan, ia tak lagi menjadi pengajar di sekolah musik, namun dengan bekal sedikit pengalaman selama di Jakarta, akhirnya perlahan-lahan ia membangun dan membuka sekolah musik di kota itu. Saya? Saya semakin mengerti bahwa Roh Kudus membantu dia untuk terus berkembang, berlipat ganda, dan dipercaya untuk memegang/mengelola talenta yang lebih banyak. Luar biasa! —

Apa pun proses yang kita sedang alami, ingatlah bahwa Roh Kudus adalah Penolong yang menyertai hidup kita. Ia menolong dan memampukan kita juga untuk melakukan Amanat Bapa, sesuai dengan talenta yang diberikanNya kepada kita. Jadi, mari bersama-sama memberi diri untuk terus bergerak di dalam prosesNya, bertumbuh, dan setia melakukan setiap Pekerjaan Bapa, hingga kita melihat pelipatgandaan itu Dia kerjakan! Sanggup? Sanggup! Semua karena Dia!

2015-10-21T08:16:48+07:00