//Sara, sang Ratu Pahlawan Iman

Sara, sang Ratu Pahlawan Iman

Selama beberapa bulan ini, kita telah belajar dari teladan hidup para pahlawan iman yang tertulis di dalam Ibrani 11. Di antaranya, ada nama Sara, istri Abraham. “Karena iman dia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena dia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia,” (Ibr. 11:11). Siapakah Sara?

 

Sara, atau Sarai (namanya sebelum berganti menjadi Sara) muncul pertama kali dalam Kejadian pasal 11, “Abram dan Nahor kedua-duanya kawin; nama istri Abram ialah Sarai, dan nama istri Nahor ialah Milka, anak Haran ayah Milka dan Yiska. Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak,” (Kej. 11:29-30). Salah satu keterangan yang tidak menyenangkan yang tercatat tentang Sarai ialah bahwa dia mandul, tidak punya anak. Namun, catatan penulis kitab Ibrani menjelaskan bahwa Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu. Dia diperkenalkan sebagai Sarai, nama yang berarti “dominan” dan “pemimpin”. Hal ini memberi kesan bahwa Sarai di usia belia pandai/suka mendominasi, bahkan mungkin suka bertengkar dan berdebat. Salah satu catatan “buruk” lainnya mengenai Sarai ialah ketika dia mengintervensi kondisi mandulnya dan janji Allah tentang keturunan bagi Abraham dengan memberikan Hagar, menjadi gundik Abraham yang mengandung dan melahirkan anak bagi Abraham.

 

Meski Sara kita kenal sebagai pahlawan iman, sebagai manusia yang penuh keraguan dia pun saat itu gagal dalam rencananya untuk “menolong Allah”. Sarai yang sifat aslinya dominan waktu itu berkata kepada Abraham, “‘Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.’ Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai,” (Kej. 16:2).

 

Ide yang timbul dari keraguan dan spekulasi Sarai ini menuai kehancuran dalam keluarga, karena setelah mengandung, Hagar memandang rendah Sarai. Sayang, Sarai tak menyadari kesalahannya, bahkan justru emosional dan menuduh suaminya, “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja dia tahu, bahwa dia mengandung, dia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau,” (Kej. 16:5).

 

Apakah Anda pernah mengalami kegagalan dan kebodohan seperti Sarai? Sarai tidak sabar menunggu waktu Tuhan dan berpikir dirinya tahu cara terbaik untuk menjadikan janji Tuhan itu nyata. Meskipun Anda mungkin juga pernah sama seperti Sarai, ingatlah bahwa masih ada Allah yang telah memilih Anda, seperti Dia memilih Sarai. Allah bertindak mengubah tujuan hidup dan jalan hidup Sarai menjadi Sara melalui proses, cara, dan waktu-Nya. Allah harus mengubah nama Abram yang berarti “masyhur, terkenal” menjadi Abraham yang berarti “bapa banyak bangsa”, lalu barulah Tuhan mengubah nama Sarai menjadi Sara.

 

Kepada Abraham yang berusia 99 tahun, Allah berfirman, “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak,” (Kej. 17:1-2). Allah juga berjanji, “Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja,” (Kej. 17:4-6). Jalan hidup dan tujuan hidup Abraham diubah dari “sekadar” masyhur dan terkenal menjadi bapa banyak bangsa.

 

Perubahan itu terjadi bagi Sarai ketika dia berusia 89 tahun. Allah bertemu Abraham dan mengubah nama Sarai menjadi Sara, yang berarti “putri raja, bangsawan wanita, sang ratu”. Hal perubahan nama ini dijelaskan oleh Allah sendiri kepada Abraham dalam konteks rencana Allah, “Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga dia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya,” (Kej. 17:16). Allah menjadikan istri Abraham ini ratu atas raja-raja bangsa-bangsa, bukan sekadar pemimpin yang berusaha mendominasi.

 

Bagaimana Abraham menyikapi penjelasan Allah itu? Abraham kaget, seperti kita yang hidup di zaman ini sering kaget ketika mendengar janji Tuhan bagi diri atau keluarga kita. Saat itu, Abraham tertunduk saja dan tertawa di dalam hatinya, “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” (Kej. 17:17). Pernahkah Anda juga tertawa tak percaya saat mendengar janji Allah?

 

Meski sikap Abraham dan Sara terhadap janji Allah sempat salah, Allah tetap setia dengan janji-Nya. Setelah Allah mengubah nama Sarai menjadi Sara, Sara menerima anugerah untuk hidup sebagai putri raja selama 38 tahun dengan tunduk kepada Abraham karena rencana Allah. Sara juga menerima janji Allah bahwa dia akan menjadi ibu dari bangsa-bangsa dan raja-raja. Sara berubah dari seorang wanita yang dominan menjadi bangsawan sejati, yakni ibu dari raja-raja. Dia akhirnya memilih untuk hidup baru dalam rencana Allah atas dirinya.

 

Sebelumnya, Sarai hidup dengan mempertahankan hak, mendominasi sekeliling, bahkan mengintervensi rencana Allah. Kini, dia berubah menjadi Sara, yang membiarkan Allah membelanya di hadapan mata dunia. Teladan hidup Sara ini tercatat pula di dalam Alkitab, “Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman,” (1 Ptr. 3:5-6).

 

Abraham memang dikenal luas sebagai bapa orang beriman, tetapi lawatan khusus untuk Sara pun tersedia dari Tuhan. Sebelum Tuhan menghukum Sodom dan Gomora, Dia bertemu Abraham dan berjanji, “‘Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid,” (Kej. 18:10-11). Saat itu, lagi-lagi Sara salah menyikapi janji Allah. Dia tertawa terhadap janji yang terdengar mustahil itu. Namun, Allah berurusan langsung dengan kesalahan Sara, “Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki,” (Kej. 18:13-14). Meski Anda mungkin juga berulang kali salah menyikapi janji Tuhan, Dia juga akan berurusan dengan Anda secara pribadi dalam kesalahan Anda itu.

 

Dalam kerangka waktu-Nya yang tepat, Allah bertindak menepati janji-Nya, “TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu dia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya,” (Kej. 21:1-2). Kali ini, reaksi Sara sungguh tepat. Dia bersukacita, tertawa, tetapi kali ini dalam kebahagiaan atas penggenapan janji-Nya. Katanya, “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku,” (Kej. 21:6).

 

Melewati seluruh perjalanan hidupnya ini, kapankah Sara akhirnya disebut pahlawan iman? Jawabannya adalah saat dia berpegang teguh pada janji Allah. Sara telah belajar dari kegagalan dan kesalahan masa lalunya. Sekarang, imannya tetap tertuju pada janji Allah. Bahkan, dia hidup dalam janji Allah itu dan mengalami pembelaan Allah bagi imannya, “Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: ‘Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak,’” (Kej. 21:9-10). Allah membela Sara yang sudah berubah menjadi baru, “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena dia pun anakmu,” (Kej. 21:12-13).

 

Tuhan mengubah kegagalan dan kesalahan Sara menjadi kemenangan iman. Rindukah Anda mengalaminya juga? Berpeganglah teguh pada janji Tuhan bagi Anda. Dia juga akan menolong Anda dan membuktikan diri-Nya sebagai Imanuel yang menyertai serta membela Anda.

2021-07-27T09:27:03+07:00