//SAVE YOUR FIRST KISS!

SAVE YOUR FIRST KISS!

Beberapa bulan sebelum menikah, aku Lia Yuliana bergabung dalam forum WEDDINGKU. Kami suka chatting untuk mengetahui kesibukan setiap pasangan bagi pernikahan mereka. Setelah ngobrol, akhirnya mereka mengetahui bahwa cami (calon suami)ku adalah orang bule. Kemudian, terjadilah percakapan berikut:

A : Emangnya cami loe orang mana? Kok ngurusinnya sendiri?
Lia : Orang Amrik. Ia tinggal di Thailand dan baru datang 7 minggu sebelum wedding.
B : Waaaah, sukanya sama produk import!
C : Cerita dong liiii, gimana pacaran sama bule…
A : Iye, bule katanya romantis gitu kan typenya
Lia : Iya, romantis 🙂
B : Kissingnya gimana li? mantep ya?
Lia : Hehehe… gue belom pernah..
C : Hah? Serius lo? Pacaran setaon lebih gak pernah kissing?
Lia : Iya. Kami mau kissing pertama kalinya pas pemberkatan nikah.
A : Lo kristen ye li?
B : Jangan-jangan lu gereja abbalove ya
Lia : Wah kok lu tau B? Emang lo anak abbalove juga?
B : Enggak, dulu sih sempet mau pembinaan pra nikah di abbalove, cuma lama sampe 9 bulan. Jadi, kami cari gereja laen.

Chatting berlanjut. Intinya, mereka SHOCK dan kaget gara-gara aku gak pernah kissing. Apalagi pasanganku orang bule! Pastinya dipikiran mereka bule gaya pacarannya bebas merdeka. Dalam firman Tuhan, tidak tertulis kalo KISSING itu DOSA. Tapi, kata Yesus, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya,”(Matius 5:28). Jika melihat dan timbul “lust”, maka sudah DOSA! Itu belum pakai acara pegang-pegang dan kissing loh.
Kita dipanggil untuk jadi BEDA dengan standart TINGGI (Firman Tuhan, bukan taurat buatan manusia: ini boleh, itu gak boleh). Hidup kita bukan berdasarkan standart yang dianut oleh dunia. Kata orang yang tidak mengenal Tuhan, “Eh, wajar kok kalo pacaran itu ciuman, have sex sebelum nikah wajar,” yang penting “ditanggungjawabkan” dan “dinikahi.” Hmm…dinikahi? Yang ada juga habis “menikmati sex-nya,” cowok tidak punya respect lagi sama kita! (begitupun cewek, kehilangan trust, rasa aman dan juga VIRGINITY-nya). Mana yang mau ikutin? ikutin apa yang dianggap WAJAR dan NGGAK APA-APA ala dunia? Firman Tuhan, “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku,” (Imamat 20:26). Kata Paulus, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna,”(Roma 12:2).

Teman-teman di group weddingku lebih heboh lagi kalau tahu bahwa aku bukan hanya tidak kissing before married, tapi kami tidak gandengan tangan, tidak pelukan, tidak raba-rabaan! Pacaran apa tuh kalo tidak ada gitu-gituan? Banyak orang berpikir, “Idiiih, aneh nih pasangan! rugi amat tidak ada bumbu-bumbu kayak gitu, padahal itu yang bikin pacaran jadi nikmat. Prinsip dunia yang berkata bahwa kalau aku sudah sah jadi pacar kamu, artinya aku mempunyai HAK KHUSUS untuk memegang tangan kamu, gandeng, cium-cium, peluk-peluk, raba-raba dan sebagainya. Pacar saja kok minta hak khusus? Hak khusus? Enak saja! Itu hanya hak SUAMI-ISTRI buat eksplore dan menikmati kesatuan mereka secara tubuh, jiwa dan roh dalam ikatan pernikahan. Siapa yang buat batasan secara fisik dan emosi bahwa selama pacaran itu RUGI? Kami justru “ngerasain” FULL BLESSING dari itu semua 🙂

1. First kiss kami BUKAN yang ngumpet-ngumpet takut ketahuan sama orang, tapi justru first kiss kami di hadapan Tuhan dan orang banyak yang hadir dalam pemberkatan nikah kami. Pada hari
kemenangan yang kami nantikan sejak lama, di mana kami SAH disatukan sebagai suami istri. Itu jadi inspirasi, kekuatan dan juga kesaksian bagi anak-anak muda yang kami pimpin, kalau “BISA KOK SAVE your FIRST KISS”, asal mau!:).

2. Karena kami mempunyai batasan-batasan tersebut, hubungan kami (selama pra nikah atau pacaran) berkembang dan bertumbuh makin hari makin kuat di dalam Kristus. Ada rasa aman, ada trust, ada respect, ada self control, karakter yang bertumbuh, ada kasih yang semakin dimurnikan.

3. Karena kami avoid physical touch selama pacaran, ketika menikah semuanya rasa baru..:) alias TEGANGAN voltase SUPER TINGGI or setrumannya kuat booow. Kami nikmati itu semua 🙂 🙂 saat membuka kado spesial Tuhan selapis demi selapis, dengan perasaan sukacita dan antusias (bukan rasa bersalah atau bosen). Kami bener-bener menikmati yang namanya the BEAUTY of Physical intimacy alias hubungan seks, it is really wonderfull! Aku tidak malu untuk katakan itu. Benarlah kata Paulus, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,”(I Tesalonika 4”3-5).

Sekarang kami sudah menikah 1 tahun 3 bulan, dan kalau bergandengan tangan dengan suami sudah tidak terasa lagi setrumannya. Yang ada cuma rasa aman, rasa nyaman dan dilindungi. Dulu, awal pernikahan kami, gandengan tangan saja terasa nyetrummmmmm booow! Kalau yang pacaran gaya bebas merdeka siap grak, maka ketika menikah sudah tidak mengalami setruman itu, apalagi yang sudah sex pranikah:( Pengalaman tersebut sangat indah, penuh keantusiasan dan rasa ingin tahu dan bukan hal-hal yang biasa-biasa saja, karena sudah pernah! Sex yang jika dirampas indahnya sebelum waktunya tidak akan indah, bahkan mimpi buruk atau NIGHTMARE. Banyak sekali wanita yang setelah sex pranikah menderita rasa bersalah, merasa murahan, kotor, kehilangan rasa trust dan respect pada suami. Mereka cemburu yang berlebihan dan rasa takut kehilangan yang tinggi, sehingga ketika AKHIRNYA masuk dalam pernikahan, sudah tidak merasa nyaman dengan suami. 🙁 🙁 ujung-ujungnya mereka berdua tidak merasa bahwa pernikahan itu indah. Akhirnya berusaha mencari jalan keluar dari ikatan tersebut.

Itulah sebabnya, mengapa Paulus menulis peringatan seperti ini, “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri,”(I Korintus 6:18). Setiap pasangan berbeda dalam menetapkan batasan fisik dan emosi di dalam hubungan mereka. Tetapi bagi kami, avoid physical touch adalah cara yang paling aman. Mengapa standartnya tidak kissing sebelum wedding, karena kissing can lead you to a deeper level of physical intimacy atau ciuman adalah PINTU GERBANG ke arah hubungan seksual. Dulu (sebelum dengan mike) aku pernah jatuh ke dalam hubungan yang tidak kudus. Itu pun TANPA KISSING loh. Awalnya dari gandengan tangan. Belum puas! Pelukan. Belum puas! Cium kening Belum puas! Cium pipi, belum puas! Belum puas Belum puas sampai tidak puas sama sekali. Eh raba-rabaan. Itu juga tidak puas! Tetapi, untung cepat aku bertobat, kalau tidak, wah bisa keluar tomat!(keluar tomat = hamil). He kekeke. Dalam hal itu pasti berlaku prinsip point of NO RETURN. Intinya adalah SAVE your FIRST KISS! Milikilah visi : My First Kiss is Wedding Kiss.
(Lia Yuliana menikah dengan Michael David Stoltzfus di Abbalove Mangga Dua, pada 8 Mei 2010. Pembina BPN adalah Setyono Budi Waluyo dan Magdalena).

2019-09-25T05:25:57+00:00