///Saya Berasumsi, dan Asumsi Saya Menimbulkan Kekacauan

Saya Berasumsi, dan Asumsi Saya Menimbulkan Kekacauan

Saya berulang kali berasumsi, dan banyak kekacauan yang timbulkan karena asumsi-asumsi saya itu. Sering kali, saya berusaha memperbaiki kekacauan yang telah terjadi akibat asumsi saya, tetapi hanya penyesalan mendalam yang tersisa untuk saya selami. Berikut ini salah satu kisahnya…

 

Suatu waktu bertahun-tahun yang lalu, saya ingin memiliki rumah sendiri. Bersama istri, saya pun mulai mencari rumah yang nyaman untuk ditinggali, serta yang dekat dengan tempat bekerja kami. Setelah mencari sekian lama, kami tak kunjung menemukan rumah yang kami sukai. Justru tanpa disangka-sangka, kami ditawari sebidang tanah yang lokasinya sangat baik dan prospek nilai ekonominya menjanjikan. Kami sangat tertarik dan bersemangat untuk membelinya. Memang, sebagai anak Tuhan, tentu saja saat itu kami suami-istri sepakat untuk berdoa bersama tentang rencana pembelian tanah itu. Namun, sejujurnya hati kami ternyata sudah terlalu terpikat dengan sebidang tanah itu dengan segala potensinya, sehingga kami mengabaikan kesepakatan dengan Tuhan. Kami berasumsi bahwa cukuplah kesepakatan kami sebagai suami-istri; ketika kami berdua mendapatkan rasa mantap yang sama, itu sudah cukup untuk kami melangkag tanpa menunggu penyataan kehendak Tuhan lagi.

 

Singkatnya, jadilah kami membeli sebidang tanah tersebut. Lokasinya di area Kelapa Gading dan konon lokasi memiliki prospek nilai yang bagus jika tanah dijual lagi. Yang kami beli itu baru sebidang tanah saja, belum ada bangunannya. Kami kembali berasumsi, bahwa kami akan mampu membangunnya dalam waktu tiga tahun. Bahkan kami sudah membuat sebuah desain rumah yang kami sukai, dengan dibantu oleh seorang desainer rumah yang handal sesama anggota keluarga seiman di Abbalove Ministries. Namun, waktu akhirnya menunjukkan bahwa asumsi kami itu membawa kekacauan yang berakhir dengan kerugian.

 

Tanpa kami sadari atau kami dapat prediksi, perubahan terjadi begitu saja dengan cepat. Seiring waktu berjalan, kami menemukan bahwa ternyata tanah itu tidak bisa dibangun sesuai dengan keinginan kami, karena di depannya ada sebuah gudang besi yang banyak dilewati kendaraan besar dan menjadi tempat parkir truk besar. Semua itu tidak kami sadari sebelumnya, karena kami tidak memeriksa dengan teliti. Kami telanjur terpikat dengan bayangan akan memiliki tanah yang berprospek emas untuk mendirikan rumah ideal sesuai angan-angan kami.

 

Ketika kami mengetahui bahwa rumah tidak bisa dibangun di tanah itu, kami beralih strategi. Segera saja kami memutuskan untuk menjualnya lagi, dengan berasumsi (lagi) penuh harap akan keuntungan dari selisih harga tanah. Sayangnya, kembali terjadi bahwa situasi tidak berpihak pada kami. Saat itu terjadi resesi ekonomi, sehingga harga tanah yang kami berupaya untuk jual itu tidak bisa mencapai harga belinya yang semula. Hati kami menjadi sangat sedih. Saat membelinya, kami membayar tanah itu dengan uang pinjaman bank, dan untuk membayarnya kami harus mengangsur sekaligus membayar bunga bank yang terus meroket. Tak terasa, situasi ekonomi memburuk hingga semakin mendesak, dan akhirnya kami harus menjual beberapa barang milik kami demi menutupi pembayaran angsuran dan bunga bank. Pada suatu titik, kami pun memutuskan untuk menjual rugi saja tanah tersebut, agar kami tidak lebih dalam lagi tenggelam dalam kerugian.

 

Setelah jatuh dan rugi itulah, kami berdoa meminta ampun kepada Tuhan. Kami sadar, kami telah berasumsi tanpa berpikir panjang dan telah terjerat dengan keinginan hati kami sendiri. Kami sudah menjadi tidak sabar, sehingga kami tidak bergumul dengan menantikan kehendak dan waktu Tuhan. Bahkan, kami ceroboh saja berasumsi bahwa kesepakatan suami-istri sudah cukup untuk menjadi jaminan sebuah kehendak Tuhan. Kemantapan kami berdua yang berdasarkan asumsi itu kami salah pahami sebagai iman akan kehendak Tuhan, padahal itu hanyalah sebuah asumsi yang akhirnya menjerumuskan kami dalam situasi yang menyulitkan dan akhirnya merugikan kami sendiri.

 

Saudara-saudari yang terkasih, kisah pengalaman pribadi saya ini saya bagikan agar mudah-mudahan menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua. Bagi saya sendiri, pelajaran yang Tuhan nyatakan adalah:

  1. Ternyata tidak semua yang kita inginkan dan rencanakan itu pasti baik adanya. Kita boleh berencana, tetapi Tuhan sajalah yg berdaulat pada akhirnya.
  1. Tidak cukup kesepakatan suami-istri saja dalam setiap pengambilan keputusan; sangat dibutuhkan juga kesepakatan bersama dengan Tuhan. Ternyata ada kesepakatan suami-istri yang tidak melibatkan kehendak Tuhan, yang timbul saat hati terjerat oleh keinginan. Kita patut berhati-hati dengan keinginan hati, yang dapat begitu kuat menjerat hingga membuat kita tidak sabar menunggu kehendak Tuhan yang sempurna.
  1. Tidak semua perkiraan logis dan perhitungan matematis ekonomi itu selalu tepat terjadi seperti analisa prediksi kita. Kita tidak tahu dan tidak dapat mengendalikan masa depan. Kita hanya bisa melakukan proses sesuai kapasitas kita sebagai manusia, tetapi hasilnya di masa depan hanya ditentukan oleh Tuhan. We can only manage controllable things, but only God can hold the uncontrollable things.

 

Kesimpulannya, asumsi hanyalah sebuah pemikiran yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu dan kumpulan pengetahuan serta paradigma di alam bawah sadar kita. Setiap orang bisa berasumsi baik maupun buruk, tetapi tetap saja asumsi itu bukanlah sebuah fakta atau kebenaran.

 

Hidup, mengambil keputusan, dan bertindak atas dasar asumsi adalah kesalahan saya di masa lalu. Saya tanpa sadar memperlakukan asumsi saya sebagai iman, padahal itu bukan iman. Hari ini, izinkan saya mengingatkan kepada kita semua bahwa asumsi dipakai oleh dunia untuk menirukan iman. Bagi orang Kristen, sering kali asumsi adalah kepalsuan yang menyamar sebagai iman. Hanya kebenaran Firman Tuhanlah yang bisa menghasilkan iman yang asli.

 

Kita bukan sekadar orang Kristen berdasarkan agama. Kita adalah orang-orang yang ditebus Kristus untuk menjadi murid-Nya, yang hidup atas dasar kebenaran Firman-Nya, yaitu hidup sebagai orang benar. Seharusnya, orang benar hidup oleh iman, bukan oleh asumsi. Memang asumsi disodorkan dunia agar kita tertipu sehingga kita seolah-olah beriman. Asumsi duniawi sering membuat kita terlena dan terpesona dengan imajinasi yang muluk-muluk. Dalam perangkapnya, kita senang mengharapkan sesuatu yang belum pasti dan akhirnya kita terjerumus di dalam lubang kesedihan dan kerugian yang tidak Tuhan rancangkan bagi kita. Waspadalah terhadap asumsi, karena sekalipun kita berasumsi baik, tetaplah itu bukan kebenaran. Apalagi jika itu asumsi yang buruk dan terus-menerus kita renungkan (overthinking); pasti kita tertawan hingga menjadi khawatir, gelisah, depresi, bahkan tidak berdaya. Ingatlah, kalau kita berpikir yang negatif, yang buruk, yang menakutkan, semua itu belum tentu terjadi dan tidak perlu melumpuhkan kita.

 

Firman Tuhan mengajar kita untuk berpikir yang benar, yang indah, yang mulia, yang disebut kebajikan; dan semuanya itu hanya ada sempurna di dalam kebenaran Tuhan. Mari mulai hari ini kita tinggalkan asumsi-asumsi dalam pikiran kita, untuk hidup di dalam iman yang berdasarkan kebenaran Firman. Orang benar hidup oleh iman. Bukan oleh “iman palsu” (asumsi) yang menimbulkan banyak kekacauan. Mari kita mantap memilih iman kebenaran daripada berasumsi.  Tuhan memberkati.

 

Siapa yang Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu, bersungguh-sungguhlah dan bertobatlah!”  – Wahyu 3:19, TB2

2024-03-27T11:01:17+07:00