Bagi saya, kesetiaan adalah hidup dengan komitmen sepenuhnya, dengan standar yang tidak bisa dikompromikan, dengan alasan apa pun. Kesetiaan adalah kemutlakan dalam sebuah komitmen, yang wajib dijalankan oleh kita yang telah berjanji untuk menghidupi komitmen tersebut.
Pada tahun 1998, saya pindah dari kota Surabaya ke kota Jakarta. Saya bekerja sambil melayani Tuhan. Saya telah berjanji kepada Tuhan untuk bekerja keras bagi keluarga saya dan melayani Tuhan dengan segenap hati. Dan, seiring waktu berjalan, saya ternyata cukup berhasil dalam bisnis maupun pelayanan. Dengan disiplin, saya terus melakukan tanggung jawab kerja dengan prioritas yang baik, sehingga saya sungguh menikmati hasil yang bisa mencukupi keluarga dan pelayanan saya.
Namun suatu saat, tibalah saya pada satu situasi yang menguji kesetiaan saya, ketika saya diizinkan Tuhan mulai mengalami tantangan demi tantangan, bahkan kekecewaan demi kekecewaan, sedangkan saya tidak memiliki siapa pun yang dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati. Akibatnya, saya mengalami keterpurukan di dalam krisis kepercayaan kepada teman-teman saya, dan saya mulai mengandalkan kekuatan saya sendiri. Saya merasa pintar dan mampu bertahan sendiri.
Kemudian, pada suatu titik saya dihadapkan pada situasi yang benar-benar dilematis, karena saya harus memilih antara setia pada kebenaran atau kompromi dengan duniawi. Saat itu hati saya belum selesai dipulihkan dari kekecewaan, saya belum selesai disembuhkan, bahkan luka di hati saya masih basah. Saya merasa tidak mampu untuk membela diri dan saya mulai kompromi dengan mengingkari suara hati nurani saya sendiri.
Pada waktu itu, saya mengerjakan sebuah proyek bisnis. Harga seharusnya untuk proyek itu sebenarnya wajar, tetapi pihak perantara mengharapkan harga itu dinaikkan menjadi dua kali lipat. Saya ingin sekali menolak, karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai hidup saya, tetapi sekali lagi, dalam kondisi hati saya belum dipulihkan serta penuh dengan kekecewaan dan luka, saya merasa tak sanggup menolak tawaran curang itu. Dengan rasa terpaksa, saya menerima tawaran pihak perantara. Harga yang seharusnya wajar, menjadi dua kali lebih mahal sesuai dengan permintaan si perantara.
Singkatnya, proyek itu berjalan dengan lancar sampai selesai, tidak seorang pun tahu tentang perbuatan saya itu. Namun, hati saya tahu bahwa Tuhan mengetahui semua itu. Nurani saya terus-menerus menuduh saya bahwa saya telah gagal setia. Bahkan, kegagalan dalam kesetiaan tersebut berimbas pada kondisi rohani saya. Roh saya terpuruk, dan sulit sekali untuk bangkit untuk kembali bersungguh-sungguh dalam hubungan dengan Tuhan.
Saat itu, tentu saya tetap menjalankan tanggung jawab pelayanan. Saya tetap bisa melakukan konseling. Saya tetap bisa mengajar. Saya tetap melakukan semua yang seharusnya saya lakukan, sementara sesungguhnya saya mengalami kekosongan yang tak mudah terobati. Saya pun mulai mencari pertolongan pada orang-orang yang bisa saya percayai. Saya mencoba menceritakan kondisi hati saya, berharap mendapat siraman nasihat yang benar, agar hati saya sembuh. Sayang, banyak orang tidak memercayai cerita saya. Mereka menganggap perbuatan saya itu wajar dan tidak perlu dipermasalahkan, mereka mengatakan bahwa saya terlalu naif, terlalu berasumsi, dan bersikap berlebihan. Jadilah hati saya semakin sedih, sampai saya tidak bisa berdoa atau membaca Firman Tuhan dengan baik, bahkan saya mulai menghindari pertemuan-pertemuan rohani. Roh saya terasa jauh dan kering dari Tuhan. Puncaknya, saya semakin merasa sendiri dan tidak mampu melayani lagi.
Tanpa saya sadari, Tuhan tidak berdiam diri. Pada suatu malam, saya mendengarkan sebuah lagu penyembahan yang sangat menyentuh hati saya. Ketika dilantunkan, hati saya merasakan keindahan yang luar biasa.
Tiap langkahku diatur oleh Tuhan
Dan tangan kasih-Nya memimpinku
Di tengah badai dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh
Tiap langkahku, kutahu Tuhan yang pimpin
Ke tempat tinggi ku dihantar-Nya
Hingga sekali nanti aku tiba
Di rumah Bapa, surga yang baka
Pada saat yang sama, saya lalu membaca Mazmur 23:1-6 (TB)
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Setelah merasakan sentuhan rohani yang indah itu, saya mengambil waktu berdoa puasa. Perlahan tetapi pasti, saya merasakan lagi hubungan dengan Tuhan, pemulihan hati, dan kebangkitan rohani saya kembali. Saya sembuh dan menerima kekuatan baru.
Saudara-saudari, saya tahu bahwa mungkin saja cerita saya ini terkesan sepele atau bahkan berlebihan bagi banyak orang, tetapi sesungguhnya saya sungguh merasa sudah gagal dalam kesetiaan saya mengikut Tuhan. Keputusan saya untuk menyimpang dari prinsip kebenaran Tuhan adalah kegagalan saya untuk setia kepada Tuhan. Karena kegagalan itu, saya terpuruk sekian lama secara rohani.
Syukurlah, ada hal yang tidak saya sadari yang terjadi. Bahwa sesungguhnya ketika saya tidak setia, ternyata Tuhan tetap setia, bahkan Dia mendekat menjangkau saya kembali kepada-Nya. Sungguh saya bersyukur dengan pengalaman kegagalan dan pemulihan itu! Saya berharap dan percaya bahwa pengalaman saya bisa menjadi kekuatan bagi setiap saudara-saudari yang lain, yang mungkin juga merasa gagal dalam mengikut Tuhan. Mari kita kembali kepada pelukan kasih-Nya, kita kembali kepada kesetiaan-Nya yang tidak pernah habis. Sebab, walaupun kita tidak setia Tuhan itu tetap setia.
Amin.
“If we are unfaithful, God remains faithful, since God cannot deny Himself.” – 2 Timothy 2:13