///Saya Ragu dan Khawatir

Saya Ragu dan Khawatir

Keraguan selalu membuat kita lemah, tidak berdaya, khawatir dan cemas, takut, serta dirundung ketidakpastian untuk masa depan kita.

Pada suatu ketika, saya mengalaminya.

Hari itu saya sedang memikirkan masa depan anak-anak saya yang sudah menjelang masuk ke fase hidup berkeluarga, dan saya juga memikirkan bagaimana masa depan cucu-cucu saya kelak. Tanpa terasa, saya terus berpikir lebih jauh, lebih jauh, dan lebih jauh lagi… hingga saya melihat kondisi dunia yang tidak aman dan mendengar situasi yang tidak menentu. Semuanya membuat hati saya dilanda kekhawatiran yang luar biasa. Akibatnya, saat itu saya jadi sempat terserang sakit lambung (GERD); saya menjadi lemah dan sakit.  Saya juga mengalami gejala psikosomatis. Saya tidur tidak tenang dan gelisah, juga tidak berselera makan.

Akhirnya, saya mencoba berbicara dengan beberapa rekan, teman, dan saudara seiman. Saya pun sungguh-sungguh berdoa dan sementara kekhawatiran saya tampaknya mereda.

 

Namun, kejadian itu berlarut-larut lagi sampai dua minggu, sampai suatu ketika saat saya merenung dalam saat teduh harian, saya menemukan bahwa ternyata saya meragukan Tuhan. Rupanya, keraguan itulah yang membuat saya hidup dalam kekhawatiran dan membuat saya kehilangan pengharapan, seperti orang yang tidak memiliki iman. Walaupun saya sebenarnya tetap melakukan saat teduh, berdoa, dan melayani banyak orang, tetapi sebenarnya tanpa mereka semua ketahui saya sedang lemah dilanda kekhawatiran dan keraguan di dalam hidup saya sendiri. Saya mencoba menutupi semuanya itu dengan berusaha terlihat baik, padahal sesungguhnya, Tuhan tahu keadaan hati saya sebenarnya yang terdalam, bahwa saya ragu, khawatir, dan dapat dikatakan hilang iman.

 

Pada suatu titik, saya mulai mengakui keraguan dan ketidakpastian di dalam hidup saya. Kesadaran saya muncul, bahwa saya hanya membaca Firman tanpa berusaha memercayainya, apalagi melakukannya. Saya telah tidak sungguh-sungguh memercayai Tuhan. Saya bahkan meragukan kuasa Tuhan dan kasih-Nya yang tidak berkesudahan. Pada saat itulah, kekhawatiran saya menjadi-jadi, dan puncaknya saya terserang sindroma psikosomatis (sakit tubuh yang disebabkan oleh jiwa yang lemah), alergi, asma, sakit lambung, dan migrain. Saya mengalami kegelisahan dan kehilangan selera makan, tidak bisa tidur, tubuh terasa lemah, dan mudah terserang flu, batuk pilek, dan antibodi terasa tidak bekerja sama sekali.

 

Saudara-saudari, keraguan memang selalu ada dalam hidup kita, tetapi jika keraguan itu sudah mengakibatkan sebuah kekhawatiran, apalagi yang berlarut-larut, keraguan itu harus dikendalikan segera. Firman Tuhan berkata kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, maka tidak ada gunanya kita bersusah hati untuk sesuatu yang sudah lewat atau belum terjadi hari ini. Jika kita mulai ragu, mari kita serahkan segala kekhawatiran kita dan ketakutan kita kepada Tuhan. Ketika kita sudah menyerahkannya, jangan kita ambil kembali semua itu. Amin saat kita berdoa menyerahkannya kepada Tuhan artinya kita betul-betul berserah dan bersyukur kepada Tuhan atas kepastian kasih-Nya. Apa pun yang kemudian terjadi dalam kedaulatan Tuhan tetap kita serahkan kepada Tuhan. Bagi saya, yang saya serahkan itu adalah pergumulan keraguan saya mengenai masa depan anak-anak dan cucu-cucu saya. Setelah saya benar-benar berserah, saya mengalami kelegaan dan damai sejahtera kembali, menggantikan segala penderitaan dan ketidakenakan yang sempat memuncak.

 

Mari kita datang kepada Tuhan, membawa segala keraguan dan kekhawatiran kita untuk kita serahkan kepada-Nya. Firman-Nya berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” (Mat. 11:28, TB).

Kini, saya memang tetap membuat rencana mingguan, bulanan, bahkan triwulan, semester, dan tahunan, tetapi saya juga belajar menyerahkan semua rencana itu kepada Tuhan. Saya belajar untuk hidup cukup melewati satu demi satu hari saja. Saat ada persoalan terjadi, saya belajar untuk tidak menyimpannya sampai matahari terbenam. Dengan demikian, saya berlatih hidup dengan iman, kasih, dan pengharapan dalam satu hari demi satu hari saja, sekaligus membiarkan hari esok dengan kesusahannya sendiri. Biarlah pengalaman saya ini bisa menolong Saudara-Saudari yang saat ini juga sedang dilanda keraguan dan kekhawatiran. Ingat, keraguan membuat janji Tuhan terasa tidak ada kuasanya, tetapi iman kepada Dia mendatangkan damai sejahtera.

Tuhan memberkati.

 

“Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” – Matius 6:34, TB

2024-06-27T11:44:25+07:00