Saya Sombong

Saya suka belajar. Saya belajar dari sumber apa saja: pendidikan formal, text books, berbagai jurnal, dan pengalaman hidup. Sudah lama saya menjadi pembelajar yang belajar terus-menerus tanpa rasa puas. Tanpa terasa, saya berhasil menyandang dua gelar akademis tingkat Strata 3 dengan capaian Indeks Prestasi summa cum laude dan magna cum laude. Melalui semua itu, rupanya pola pikir saya terbentuk sedemikian rupa sehingga berbeda dengan cara berpikir orang yang normal pada umumnya.

Dalam hampir segala hal termasuk kehidupan sehari-hari, saya terbiasa berpikir secara matriks, bukan linier saja; dengan kerangka “fish bone”, bukan sekadar sequencing; menggunakan conceptual logical dan essential vertical thinking, serta deep thinking. Alhasil, tanpa saya sadari ternyata cara berpikir seperti itu menjadikan diri saya sombong, anti-mainstream, karena saya merasa mengerti ilmu filsafat, ilmu teologi, serta ilmu perilaku manusia dengan mendalam.

 

Pada suatu hari, saya bertemu dengan seorang profesor wanita di Bali dengan lima gelar doktoral yang berbeda. Saya sering bercengkerama dan berdebat denganya, apalagi kami memiliki minat khusus yang sama pada dunia pendidikan. Bahkan ketika beliau menantang saya untuk memiliki gelar doktoral yang sama dengan beliau, saya menyanggupinya lalu mulai belajar dan melakukan penelitian untuk gelar doktoral yang ketiga, keempat, bahkan yang kelima. Semuanya saya lalui tanpa menyadari bahwa kapasitas dan kesempatan saya mungkin berbeda dengan kapasitas beliau.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menjadi ambisius dan menjadi sombong di dalam pikiran saya. Saya sering meremehkan orang-orang di sekeliling saya dengan merasa diri lebih pintar, lebih tahu, lebih kreatif, dan serba lebih, karena cara berpikir saya yang tidak biasa serta kebiasaan saya yang suka bertanya dan berdebat. Perlahan tetapi pasti, saya makin terbiasa meremehkan orang lain dan merasa paling hebat tanpa ada tandingannya. Padahal, kesombongan ini tidak menyenangkan hati Tuhan.

 

Saya baru mengerti bahwa saya sombong ketika Tuhan menunjukkannya melalui kejadian yang sangat traumatis. Ketika itu, cucu pertama saya yang sangat saya kasihi meninggal dunia dalam usia 100 hari.

Wajah cucu pertama saya sangat mirip dengan saya, opanya. Pada mulanya saya sangat bersukacita dengan kehadirannya, tetapi kejadian meninggalnya pada usia 100 hari itu membuat saya syok. Rupanya, dia mengalami kebocoran pada organ jantungnya.

Mengetahui kondisi itu, saya menjadi sangat sedih, kecewa, dan merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Saya merasa semua kepandaian saya, semua kemampuan saya, tidak ada artinya. Dalam kondisi cucu saya sakit itu, yang saya dapat lakukan hanyalah meminta pertolongan dokter dan pihak-pihak yang membantu di rumah sakit, meminta orang-orang untuk turut mendoakan, termasuk pemimpin-pemimpin rohani saya, tetapi saya tak sanggup melakukan apa pun yang dapat menjamin kesembuhan cucu saya. Pada akhirnya, cucu saya pada usia 100 hari berpulang ke rumah Tuhan.

 

Dengan segala pengetahuan hasil belajar di pikiran saya, hati saya sangat sedih, terpukul, bahkan merasa aneh, karena seolah melihat sosok dan sifat Tuhan yang berbeda. Saya menjadi kecewa dengan Tuhan, dan mempertanyakan kematian cucu saya. Namun, Tuhan hanya menjawab dari Firman-Nya di Ulangan 29:29, bahwa kita hanya boleh tahu apa yang semestinya kita tahu dan selebihnya adalah rahasia Tuhan.

Suatu pagi ketika berada di rumah duka, tempat persemayaman jenazah cucu saya, saya merenung sendirian dalam kesedihan yang kelam. Saat itu, belum ada seorang pun yang datang melayat, karena waktu masih pagi hari. Tiba-tiba, datanglah seorang sahabat rohani saya dari kota Batam, yang adik kandungnya bergelar PhD dan hebat tetapi juga baru meninggal dunia. Dia datang memeluk saya dan mengajak saya berbicara di sudut ruangan.

Sahabat saya itu memeluk bahu saya sambil berkata, “Pak Jakoep, kamu sudah sombong dan Tuhan ingin kamu bertobat dari sikap hatimu.
Saya pun kaget. Saya merasa marah dan bingung. Mengapa Tuhan menghubungkan kesedihan saya dengan kesombongan?

Namun, sedikit-sedikit saya mulai mengerti bahwa memang kesombongan hanya bisa dipatahkan dengan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam.

Seketika itu, kesadaran saya terbuka. Saya jadi melihat bahwa semua pembelajaran yang saya lakukan untuk mengejar prestasi, gelar, bahkan mengejar pengetahuan yang tiada hentinya tanpa praktik yang nyata itu adalah sebuah rangkaian kesombongan yang tidak disukai Tuhan.

 

Saudara-saudari, saya melihat kebenarannya. Kesombongan membuat saya kesepian. Kesombongan membuat saya dijauhi orang. Kesombongan membuat saya meremehkan orang lain. Kesombongan membuat saya aneh. Kesombongan membuat saya mudah tersinggung, mudah berontak, serta mudah menghakimi orang lain.

Saya pun bertobat. Sejak memahami teguran Tuhan itu, saya mulai melepaskan semua gelar dan atribut yang saya punya, sambil belajar untuk tidak mengandalkan pengalaman dan pengetahuan yang pernah saya alami dan pelajari. Sebaliknya, saya mulai mengandalkan hikmat Tuhan, yaitu pengertian yang lahir dari takut akan Tuhan. Hasilnya, sejak itu saya merasakan damai sejahtera Allah kembali berdiam di dalam hati saya. Kini, saya terus memelihara damai sejahtera itu dengan menjaga hati saya dengan segala kewaspadaan agar tidak dikuasai oleh kesombongan. Untuk mendapatkan tuntunan Tuhan dalam segala hal, saya tetap haus dan lapar terhadap kebenaran Firman Tuhan.

 

Inilah kegagalan yang pernah saya alami. Saya sombong. Semoga pengalaman kesombongan saya ini menjadi pelajaran dan memberi manfaat yang baik bagi kita semua. Tuhan memberkati.

 

“Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.” – Yesaya 2:17, TB

 

“Proud men will be humiliated, arrogant men will be brought low; the Lord alone will be exalted in that day.” – Isaiah 2:17, NET 

2024-02-27T15:08:06+07:00