///Seberapa penting karakter LOYALITAS?

Seberapa penting karakter LOYALITAS?

 

Karakter loyalitas jelas terlihat dalam Alkitab. Secara sederhana, loyalitas dapat diartikan sebagai kesetiaan. Dalam membangun sebuah hubungan, unsur loyalitas sangatlah penting terutama ketika hubungan itu menghadapi situasi sulit. Ketika hubungan pernikahan atau hubungan keluarga  menghadapi masalah ekonomi,  perbedaan yang menimbulkan konflik, salah mengambil keputusan sehingga menimbulkan kerugian, di situlah loyalitas kita sebagai bagian dari sebuah pernikahan dan keluarga diuji. Apakah kita tetap berjalan bersama-sama, belajar mengampuni, dan menanggung bersama akibat dari sebuah kesalahan, atau kita memilih untuk berpisah.

Alkitab mencatat tentang seseorang yang bernama Demas. Dahulu, Demas adalah rekan kerja Rasul Paulus, dan namanya disebut dalam surat Paulus di Kolose 4:14 dan Filemon 1:24 bersama Lukas, seorang teman sekaligus anggota tim Paulus. Tetapi pada suatu waktu, Demas meninggalkan Paulus karena ia mencintai dunia ini, dengan pergi ke Tesalonika (2 Tim. 4:10). Inilah contoh orang yang berkarakter tidak loyal, yang mengikuti keinginan hatinya dan meninggalkan seorang rekan kerjanya (Rasul Paulus) yang sedang membangun jemaat bersama timnya.

Sebaliknya, ada pula kisah yang menarik tentang seseorang lain yang bernama Markus. Suatu hari, Markus diajak melakukan pelayanan bersama dengan Paulus oleh Barnabas, pamannya. Dalam perjalanan misi yang berat ini, Markus ternyata pergi meninggalkan Paulus dan Barnabas ketika mereka sedang berjuang di Pamfilia. Akibatnya, Paulus tidak lagi mau mengajak Markus di dalam perjalanan pelayanan yang berikutnya (Kis. 15:36-40). Hal ini menimbulkan konflik atara Paulus dan Barnabas. Menurut Barnabas, keponakannya ini masih perlu diberi kesempatan walaupun pernah meninggalkan mereka dalam pelayanan. Namun bagi Paulus, loyalitas amat sangat penting. Orang yang tidak menunjukkan  loyalitas ketika menghadapi masa sulit adalah orang yang tidak dapat dipercaya. Apakah Paulus terlalu keras atau Barnabas terlalu lembek? Tanpa perlu memihak, yang pasti di kemudian hari, perselisihan Paulus dan Barnabas tidak dibawa sampai mati. Alkitab mencatat bahwa Paulus sangat menghargai Barnabas sebagai orang pernah berinvestasi dalam hidupnya (Kis. 9:27, Kis. 11:25, Gal. 2:9, 1 Kor. 9:6, Kol. 4:10). Hubungan mereka kembali dipulihkan sekalipun pernah konflik karena perbedaan pandangan. Lalu bagaimana nasib Markus? Melalui mentoring pamannya, Markus juga bertumbuh dewasa dan dipakai Tuhan luar biasa. Dialah yang kemudian menulis kitab Injil Markus dan pelayanannya dipuji oleh Paulus sehingga Paulus meminta untuk bertemu dengan Markus waktu ia dipenjara di Roma (2 Tim. 4:11).  Di sini kita melihat teladan hidup rasul-rasul yang memiliki kebesaran hati, tidak menyimpan kesalahan, mampu menyelesaikan konflik hubungan dan perbedaan pandangan, dan dapat hidup dalam kasih dan pengampunan. Markus yang tadinya tidak loyal terhadap pemimpin, ternyata berubah dan menjadi pembuat sejarah (history maker).

Rut adalah contoh lain yang menarik tentang ketika loyalitas ditunjukkan dalam situasi sulit, akan ada perkenanan Tuhan (favor of God). Dalam kitab Rut dikisahkan bagaimana suami Naomi dan kedua anaknya meninggal ketika waktu mereka mengungsi di Moab karena bencana kelaparan. Akhirnya yang tertinggal hanyalah Naomi dan kedua menantunya dari Moab yang bernama Orpa dan Rut. Naomi yang sudah menjanda dan tidak memiliki apa pun memutuskan untuk kembali ke Betlehem, kampung halamannya. Ia menyarankan supaya Orpa dan Rut kembali ke kampung halaman mereka juga, karena hidup bersamanya tidak menjanjikan masa depan yang lebih baik. Mengikuti saran ini, Orpa meninggalkan Naomi. Tetapi, kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:16-17). Karena keputusan Rut untuk tetap bersama, tetap loyal kepada Naomi apa pun yang terjadi, mengakui Allah Naomi sebagai Allahnya sendiri juga, akhirnya Tuhan membela Rut. Tuhan berkenan pada sikap loyalitas Rut dan sejarah hidupnya berubah. Rut menjadi istri Boaz dan menjadi ibu dalam garis keturunan yang akan melahirkan Yesus.

Loyalitas bukanlah sebuah keharusan tetapi adalah sebuah pilihan hati untuk berespons, terutama terhadap situasi yang sulit. Alkitab masih mencatat banyak contoh orang-orang lainnya yang loyal, misalnya Yonatan yang setia dalam persahabatan dengan Daud sekalipun ayahnya berusaha membunuh Daud, serta Yosua yang selalu menemani Musa sebagai asisten, termasuk ketika berperang melawan Amalek dan ketika Musa naik ke gunung Sinai. Salah satu ciri orang yang loyal adalah taat pada otoritas, sehingga suatu hari dirinya sendiri juga dipercaya menjadi orang yang berotoritas.

Hal lain yang harus diingat adalah karena karakter ini dibutuhkan dalam konteks hubungan, loyalitas bertumbuh bukan secara satu arah saja, tetapi harus dua arah. Contohnya, dalam hubungan pemimpin dan orang yang dipimpin, kedua belah pihak harus menunjukkan loyalitas. Sebagai pemimpin, jangan berharap orang yang kita pimpin akan loyal kepada kita, jika kita sendiri tidak loyal kepada mereka dan tidak bijak dalam menggunakan otoritas kita. Ketika pemimpin menunjukkan kasih yang memang dirasakan oleh orang yang dipimpin, pengayoman yang dialami dan perhatian yang nyata akan membuat loyalitas orang yang dipimpin itu bertumbuh. Demikian pula sebaliknya.

Selanjutnya, loyalitas juga harus diletakkan dalam sebuah hubungan yang benar, yaitu dalam konteks kebenaran Alkitab. Jangan pernah loyal terhadap pemimpin yang membawa kita menjauh dari Tuhan dan menjauh dari kebenaran. Loyalitas yang melenceng seperti inilah yang terjadi dalam komunitas-komunitas aliran sesat. Dalam hal ini, si pemimpin yang memegang otoritas itu sendiri tidak loyal kepada Tuhan dan kepada kebenaran, sehingga justru menyalahgunakan otoritasnya untuk membawa orang-orang yang dipimpinnya menjauh dari Tuhan dan dari kebenaran. Syukurlah, pemimpin yang menyalahgunakan otoritas/kekuasaan (abuse of authority) akan disingkirkan oleh Allah sendiri. Contoh yang nyata dalam sejarah adalah Raja Saul, yang ditolak oleh Tuhan karena tidak taat kepada perintah Tuhan. Sebaliknya, Daud sendiri mengalami banyak tekanan dan penganiayaan dari Raja Saul, tetapi ia memilih untuk tidak memberontak. Akhirnya, Daud menggantikan Saul pada waktunya Tuhan. Pada sosok Daud sebagai pemimpin, tepatlah perintah Alkitab dalam Ibrani 13:17 yang berkata, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.”

Akhirnya, loyalitas dapat didefinisikan sebagai “setia mematuhi otoritas dan berkomitmen terhadap hubungan yang penting”. Karakter loyalitas akan menolong kita untuk taat, melayani, dan berkomitmen terhadap hubungan dan visi Tuhan yang diberikan kepada pemimpin. Ingatlah, Allah berkenan kepada orang yang menunjukkan loyalitas di tengah-tengah situasi sulit. Dia sendirilah yang akan menunjukkan jalan-jalanNya dalam hidup orang yang loyal. (Sumarno Kosasih, Apostolic Team Ministry)

2016-09-23T09:03:41+07:00