///Selalu Baru, Selalu Segar

Selalu Baru, Selalu Segar

Tahun demi tahun berganti dan berlalu, tetapi Engkau dan perkataan-Mu selalu baru dan menyegarkan. Hari ini, aku memasuki bulan kedua di tahun 2022 ini… Kutengok kembali catatan akhir tahunku saat menutup tahun 2021 yang lalu, dan kudapati Engkau memang tetap sama: perkataan-Mu selalu baru dan menyegarkan setiap hariku. Tahun 2021, tahun 2020, tahun-tahun sebelum pandemi, tahun-tahun tersulitku, tahun-tahunku yang paling menyenangkan, serta juga tahun 2022 ini… Aku siap melanjutkan perjalananku tahun ini, ya Tuhan.

Rumah, 31 Desember 2021

 

Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa tiba di hari ke-365 tahun ini. Aku terus-menerus Kaubuat makin takjub saat menghitung berkat-berkat-Mu. Begitu banyak hal di sepanjang tahun ini yang kurasakan, kucatat, dan membuatku makin cinta, kagum, dan mengenal Engkau. Tahun 2021 ini adalah tahun kedua masa pandemi, dan aku tak tahu pandemi akan terus berlanjut sampai kapan… Namun, tiga hal dari 2021-ku menjadi catatan penting dari-Mu sendiri untuk langkah-langkahku yang selanjutnya. Sungguh, Engkau adalah Tuhan yang hidup dan nyata!

 

Engkau mengajarku arti keluarga

Pandemi membuat kami sekeluarga inti makin saling mengenal dan autentik. Kami menjadi makin apa adanya lewat hal-hal yang terjadi sehari-hari. Semuanya justru menyatakan kebesaran-Mu di tengah-tengah kami. Makin banyak waktu yang kami jalani bersama-sama di rumah ternyata sangat berarti, karena justru karena itulah kami tidak lagi bisa “bersembunyi” di balik kesibukan masing-masing. Ah, keluarga memang hal terbaik dan terindah yang Tuhan berikan… Di sinilah tempat kami semua mengalami penerimaan, pengertian, kasih sayang, nasihat, teguran, dan pembelajaran bersama, untuk kami masing-masing tumbuh menjadi makin dewasa; bukan semata karena umur yang bertambah, tetapi karena pemahaman dan pengertian tentang arti kehidupan.

 

Kami banyak belajar dan saling belajar dari satu sama lain. Aku pun banyak belajar dari putri kami, melihat dia banyak tumbuh kuat dalam memercayai dan memercayakan begitu banyak rasa dan asanya kepada kami, orang tuanya, dalam hal-hal yang selama ini tidak dan belum diceritakannya. Apa saja dia ceritakan: teman-teman, pelajaran, dan guru di sekolah yang selama dua tahun ini dijalaninya secara daring, pemikiran-pemikirannya tentang rencana melanjutkan studi nanti setelah SMU, kegemarannya berkreasi dengan keterampilan tangannya, sampai sosok youtuber yang menginspirasi dirinya karena nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan yang dipegangnya. Bersama suamiku, aku belajar menjadi teman curhat terbaik bagi putri kami, sementara dia pun belajar demikian bagiku. Konflik dan perbedaan di antara kami rupanya bukan menghilang, tetapi justru kami belajar paham bagaimana mengerti serta menyelesaikan konflik dan perbedaan itu. Segala interaksi kami menjadi pembelajaran berharga setiap harinya.

 

Belajar, mengenal, dan menguat. Kami kini jadi lebih saling mengenal, bukan sekadar karena ikatan pernikahan atau hubungan darah, melainkan lewat pembelajaran akan segala perbedaan yang ada. Aku, suamiku, dan putriku; kami saling didewasakan dan mendewasakan. Wow, banyak sekali harta karun tergali di antara kami; yang semuanya memperkaya sekaligus memperkuat visi pernikahan dan panggilan Tuhan dalam hidup kami masing-masing.

Belajar lewat berbagai aktivitas sehari-hari yang kami kerjakan juga ternyata menambah arti penting keluarga. Memasak, bersih-bersih rumah, menonton film di bioskop, apa pun yang kami lakukan, sering kali akhirnya berlanjut dengan diskusi dan berbagi hal-hal baik dan berharga yang kami masing-masing tangkap. Terima kasih Tuhan; Engkau menyatakan kehadiran-Mu dengan cara yang begitu nyata dan sehari-hari. Meski ternyata pemahamanku tentang kehadiran Tuhan awalnya begitu terbatas, melalui semua ini aku melihat Engkau nyata dengan cara yang tidak terbatas, di tengah-tengah kehidupanku bersama keluarga!

 

Engkau mengajarku arti cukup

Setiap kali aku membuka kulkas di rumah, rasanya seperti melihat Tuhan tersenyum. Kulkas di rumah ini adalah saksi betapa pemeliharaan-Mu atas kami sekaluarga adalah sebuah berkat. Rasa cukup adalah sebuah kemerdekaan. Aku ingat tiap kali menata ulang isi kulkas di rumah. Mulai dari bagian freezer, chiller, sampai ke laci tempat sayuran, seluruh prosesnya bercerita tentang kecukupan itu. Betapa aku patut bersyukur untuk anugerah hidup dalam rasa cukup. Firman-Mu pun telah menyatakannya, “Karena itu Aku berkata kepadamu: janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian ?” – Matius 6:25

Tuhan, Engkau telah mengajariku merdeka dalam hidup dengan rasa cukup, dimulai dari urusan kulkas kami di rumah ini. Pernah sekali itu, aku berpikir untuk mengganti kulkas dengan yang berukuran sedikit lebih besar, tetapi pemikiran itu tak berlanjut. Memang masalahnya bukan ada di ukuran kulkasnya, tetapi di ukuran hati dan pikiranku. Kulkas yang ada ini cukup untuk kebutuhan kami bertiga; ukuran kulkas yang lebih dari ini pasti jadi berlebih dan malah menimbulkan masalah lain karena aku jadi repot dan pusing mengisinya dengan bahan-bahan yang melampai kebutuhan kami. Dari urusan kulkas, aku belajar bahwa rasa cukup adalah sebuah kemerdekaan.

 

Betapa aku bersyukur pula untuk setiap ide menu masakan setiap harinya sepanjang tahun ini… Kadang, menu itu bahkan tak ada di buku resep masakan manapun dan idenya muncul begitu saja dari bahan-bahan yang ada di kulkas yang tidak harus khusus kubeli dulu. Terima kasih Tuhan, untuk teknologi modern yang memungkinkanku untuk belajar resep-resep yang lumayan sulit lewat video di YouTube. Biasanya, aku belajar resep-resep masakan nusantara, yang dibuat dengan bumbu-bumbu lengkap. Aku juga jadi punya waktu untuk praktik memasak dengan resep-resep warisan Ibu, yang aku belajar dari melihat dan membantu Ibu waktu memasak dulu. Yang terakhir ini menimbulkan kesan indah yang manis di hatiku, sejak menyiapkan resepnya sampai menyantap hasilnya, karena resep-resep masakan Ibu itu bukan hanya enak dan lezat tetapi juga sarat dengan nilai kenangannya.

Aku sungguh bersyukur untuk pembelajaran soal rasa cukup sepanjang tahun ini. Di dalam rasa cukup, aku merdeka untuk hidup menikmati setiap kasih karunia-Mu!

 

Engkau mengajarku arti esensi dan prioritas

Naik turunnya situasi  dan kondisi sepanjang masa pandemi ini membuatku berpikir ulang tentang prioritas. Aku jadi belajar untuk kembali berfokus pada hal-hal yang esensial; sebuah pembelajaran yang menolongku untuk dapat membuat skala prioritas hidup. Terima kasih Tuhan, untuk sepanjang tahun yang mengajarku bahwa hubungan pribadi dan keintimanku bersama-Mu adalah hal yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Terima kasih pula karena Engkau meneguhkanku dengan apa yang Engkau sendiri lakukan saat di bumi, bahwa Engkau selalu pergi ke tempat sunyi untuk menyendiri bersama Bapa, berbicara dari hati ke hati dan belajar makin memahami isi hati Bapa.

Kini, aku punya, mengerti, dan makin mensyukuri “Getsemani”-ku. Setiap saat aku berdua saja dengan Engkau, itulah saatnya untuk aku mendengarkan Engkau berbicara. Waktu pribadi dengan-Mu bukan hanya diperlukan waktu aku mengalami kesesakan atau punya kebutuhan tertentu, tetapi itulah “tempat” terbaik untuk aku mendengarkan suara-Mu. Engkau bisa dan pasti berbicara apa saja, mulai dari peneguhan, penghiburan, kekuatan, nasihat, sampai bahkan teguran. Aku bersyukur sekali untuk Firman-Mu yang tidak pernah berhenti berkata-kata bagiku, lewat segala yang kubaca, kudengar, kulihat, dan kurasa. Engkau bahkan membawaku untuk makin memahami dan berjalan dalam karakteristik temperamen rohani pribadiku, hingga aku makin mantap di dalam cara terbaikku untuk membangun keintimanku dengan-Mu. Oh, betapa Engkau sungguh baik!

Terima kasih juga Tuhan, karena Engkau mengingatkanku supaya tidak tergopoh-gopoh dengan berbagai kompleksitas situasi. Segala hal bisa terjadi dan berkembang di tengah-tengah pola hidup baru yang beradaptasi dengan pandemi ini, tetapi Engkau telah membekaliku untuk berfokus pada hal-hal yang esensial, bahkan untuk secara khusus makin intens berjalan di dalam keintiman dengan-Mu. Aku percaya, itulah satu-satunya kekuatan untuk aku menjalani hari-hari ke depan yang serba tidak menentu.

 

Menutup tahun 2021, hatiku melimpah dengan syukur, ya Tuhan, Allahku… Aku mengerti, Engkau pasti punya maksud dan kehendak lewat setiap hal yang terjadi untuk mendewasakanku, bahkan dalam setiap peristiwa kecil sehari-hari. Terima kasih Tuhan, untuk segala hal berharga dan indah yang menjadi catatan akhir tahunku bersama-Mu. Aku mau terus memercayai Engkau dan memercayakan hidupku dalam kedaulatan-Mu. Tahun 2022 akan menjadi kelanjutan perjalananku ini bersama-Mu.

“Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu” – Yesaya 60:19

2022-01-26T09:06:47+07:00