//Seluruh Aku, Untuk-Mu

Seluruh Aku, Untuk-Mu

Anya cepat-cepat masuk ke kamarnya. Ditutupnya pintu kamar dengan separuh dia banting, lalu dihempaskannya tubuhnya di kasur. Dadanya sesak sekaligus bergemuruh. Aaarrrgghhh… Selalu saja orang-orang punya cara jitu untuk merusak suasana harinya. Apa tak cukup minggu lalu sahabatnya mendiamkannya hanya karena dia terlambat tiba di acara kumpul-kumpul mereka di kafe baru itu? Apa kurang lelah hatinya dengan keributan pertengkaran orang tuanya sehari-hari di rumah? Masih perlukah hari ini dia mendengar kabar tentang rencana pemotongan upah kerja para pekerja lepas dari kantor yang menjadi kliennya sejak tahun lalu? Tuhaaannn… apa mau-Mu sebenarnya?!?

 

Perkenalkan; gadis 24 tahun berparas lugu yang sedang marah ini bernama Anya. Anyelir Semerbak Lestari, lengkapnya. Entah mengapa, orang tuanya gemar memberi nama-nama bernada puitis bagi Anya dan saudaranya. Kakak lelakinya diberi nama Elang Perkasa Buana. Nama-nama yang keren, menurut teman-teman mereka masing-masing, tetapi hidup Anya tidak terasa keren sama sekali baginya sendiri. Sehari-hari, dia nyaris tak pernah berinteraksi dengan Kak Elang dan lebih sering menelan suasana rumah yang panas karena ayah dan bundanya amat sering bertengkar.

 

Anya lulusan S-1 jurusan Desain Komunikasi Visual dari sebuah universitas swasta yang cukup terpandang. Dia bekerja sebagai desainer grafis lepas untuk beberapa klien tetap, bersama beberapa teman sesama lulusan kampus yang sama. Pekerjaannya sesuai dengan hobinya, tetapi upah kerja yang didapatnya sering tak sesuai dengan harapannya. Sebenarnya, Anya ingin segera mengumpulkan tabungan dalam jumlah besar supaya bisa keluar dari rumah ayah-bundanya dan mulai mencari tempat tinggal lain, tetapi sampai saat ini tabungannya lebih sering terpakai daripada bertambah. Ada-ada saja kejadian yang membuatnya terpaksa mengeluarkan biaya ekstra: jajan di restoran mahal mendadak karena ajakan teman-teman setim setelah mereka baru mendapat pembayaran upah pekerjaan, termakan tipuan sehingga mengirim uang sebesar Rp2.500.000 kepada seseorang yang mengaku salah transfer ke rekeningnya, membayar iuran kebersihan lingkungan yang ditagih Pak RT ke rumahnya saat ayah dan bundanya sama-sama tak berada di rumah setelah bertengkar hebat, dan masih banyak lagi.

 

Anya beragama Kristen sejak kecil. Saat dia masih balita, ibunya beralih ke agama Kristen dari agama awalnya, dan entah bagaimana hal itu menjadikan mereka sekeluarga juga Kristen. Sejak kira-kira 5 tahun lalu, saat masih berkuliah, Anya mulai lebih rajin ke gereja setelah diajak oleh beberapa teman. Kini, Anya sudah menjadi seorang pembina di gereja untuk seorang adik binaan yang dibimbingnya dalam perjalanan pertumbuhan rohani, Anya ikut melayani dengan talentanya untuk mendesain publikasi-publikasi informasi komunitas gerejanya, dan Anya pun cukup rajin membaca Alkitab dan membagikan hasil perenungannya dari bacaan Alkitab ke teman-teman sekomunitas kecilnya.

 

Mungkin menurut banyak orang di sekitarnya, Anya baik-baik saja dan hidupnya pun mulus-mulus saja. Anya tidak miskin; dia berada di tengah-tengah keluarga yang hidup berkecukupan meski tidak mewah dan penghasilannya pun mencukupi kebutuhan pribadinya. Anya juga masih punya orang tua yang lengkap serta teman-teman yang baik dan tulus berkawan dengannya baik di lingkungan pekerjaan maupun di lingkungan gereja. Dan, Anya sudah mengenal Yesus, termasuk biasa bersaat teduh dan sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan pelayanan di gereja. Namun, bagi Anya sendiri, dia dan hidupnya tidak baik-baik saja.

 

Sudah berbulan-bulan, Anya bukan hanya lelah dengan hari-harinya. Dia muak dengan hidupnya. Rasanya tak kuat lagi dia didera oleh badai emosi yang silih berganti. Hampir setiap hari dia meledak marah dan kecapekan menangis. Memang, emosi adalah kelemahan pribadi Anya. Setiap kali terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan baginya, hati Anya seakan mudah sekali tersulut menjadi marah dan meledak dalam kata-kata dan perilaku yang cenderung menyakiti orang-orang yang di dekatnya, lalu diakhiri dengan rasa frustrasi dan hilang harapan. Anya bukan tak sadar akan kelemahannya itu; dia bahkan berkali-kali berpuasa khusus demi berdoa meminta agar Tuhan melenyapkan sumber-sumber badai hidupnya, tetapi sampai sekarang hal itu tak kunjung terjadi.

 

Bulan lalu, Anya mengikuti retret pemulihan emosi yang diadakan oleh gerejanya. Di sesi-sesinya, dia diajak untuk mengamati penyebab akar dari kecenderungan emosinya yang meledak-ledak. Benar, Anya tak terkejut mendapati hasil pengamatannya: suasana rumah yang panas dan ribut oleh pertengkaran ayah-bundanyalah yang telah membentuk pola emosinya itu. Anya terbiasa memendam marah karena tak nyaman dan tak aman dengan suasana di rumahnya, sampai lama kelamaan kemarahannya itu meluap tak terbendung lagi, menyasar apa pun dan siapa pun yang tak sesuai dengan keinginan hatinya dalam kehidupannya sebagai perempuan dewasa. Anya tahu bahwa yang dikatakan fasilitatornya dalam retret itu tepat, yaitu dia tak perlu menunggu semua hal dan semua orang dalam hidupnya ideal dulu untuk menikmati emosi yang tenang. Tuhan sanggup memulihkannya sekarang. Masalahnya, Anya tak rela “mengalah” begitu saja. Semua hal dan semua orang yang salah itulah masalahnya, dan tentu wajar kalau dia marah… Mengapa Tuhan tak mengubah semuanya menjadi baik-baik saja dulu, supaya hatinya bisa tenang? Bukankah Tuhan adalah sumber segala damai sejahtera?

 

Namun, itu bulan lalu. Pagi ini, saat kebetulan Anya tak punya agenda kerja apa pun dan bersantai saja di rumah, Tuhan berbicara langsung kepada hatinya.

 

Anya sering menceritakan kepada adik-adik binaannya di gereja, terutama saat mereka merasa down karena jatuh ke dalam dosa atau mengalami penolakan dari orang-orang sekitar, “Kamu berharga. Tuhan Yesus mati di salib untukmu tanpa ‘diskon’ sama sekali, tidak ada bagian tertentu pada diri-Nya yang ditahan saat Dia mati untukmu. Segala yang ada pada-Nya dan seluruh tubuh-Nya habis, bahkan Dia menyerahkan nyawanya, karena kamu berharga bagi-Nya.” Itu benar, dan sering kali sukses menyadarkan adik binaannya tentang keberhargaan diri yang sehat sesuai ukuran kasih Tuhan. Sayang, Anya sendiri tak kunjung berhasil mengalahkan badai emosinya dengan pengertian itu; tetapi syukurlah, Tuhan memang mengasihi Anya dan sangat mengerti hati Anya.

 

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku,” kata Tuhan pagi itu kepada Anya dalam saat teduhnya (Luk. 9:23). Awalnya Anya hanya mengerti perkataan Tuhan itu dengan pikirannya. Dia setuju, karena memang itulah prinsip Firman Tuhan yang telah diajarkan kepadanya sejak lama, tetapi lalu Roh Kudus di dalam hatinya menuntun pengertiannya lebih dalam. Seolah dalam adegan drama teater, hati Anya berbincang dengan Roh Kudus:

Benar, Tuhan. Aku mau menyangkal diri dan menjadi pengikut-Mu yang lebih baik, tapi aku tak sanggup meredakan emosiku sendiri. Banyak cara telah kulakukan, tetap saja segala hal dan semua orang menyulut marahku setiap hari. Aku capek hidup dengan kemarahan, Tuhan…

Ingat, Anya, segala yang ada pada-Ku telah Kuserahkan di salib itu. Tak ada sama sekali yang Kupertahankan. Karena Aku mengasihimu…

Aku tahu, Tuhan…

Itu harga full price yang Kubayar lunas demi kasih-Ku kepadamu. Itu artinya, kamu sudah menjadi milik-Ku. Semuanya yang ada padamu sudah lunas menjadi milik-Ku.

Ya, Tuhan. Aku milik-Mu. Roh, jiwa, dan tubuhku.

Lalu, kenapa emosi jiwamu itu masih kaupertahankan? Tak maukah kamu menyerahkannya kepada-Ku?

Anya? Aku menunggumu menyerahkan jiwamu kepada-Ku, sejak lama…

Yang Kubayar lunas dan menjadi milik-Ku itu seluruh dirimu. Bukan hanya rohmu yang nanti akan tinggal dalam kekekalan bersama-Ku, tetapi juga tubuhmu ada di dalam kendali perlindungan-Ku yang sempurna, dan jiwamu adalah proyek pemulihan yang selalu siap Kukerjakan supaya menjadi serupa dengan-Ku sendiri.

 

Tak terasa, air mata Anya pun menetes. Kali ini, itu bukan air mata marah atau frustrasi. Itu air mata haru dan lega. Anya tercerahkan oleh percakapan dengan Roh Kudus itu, bahwa seperti Tuhan tidak mempertahankan segala sesuatu yang ada pada-Nya ketika mengasihinya, demikian pula selayaknya dia tidak mempertahankan apa pun yang ada padanya ketika mengasihi Tuhan.

 

Di tepi tempat tidurnya, Anya pun berlutut dan berdoa menyerahkan jiwanya dan segala isinya: emosinya, pikirannya, luka-luka dan traumanya, harapan dan kerinduannya, semuanya; ke dalam tangan Tuhan untuk Dia pulihkan. Sebersit kemudian, tepat saat dia mengucapkan doa penyerahannya itu, Anya merasakan sapuan damai yang berbeda dari yang pernah dia rasakan sebelumnya. Damai sejahtera Tuhan yang melampaui segala akal. Timbul keyakinan di dalam benaknya bahwa hatinya kini aman dari badai emosi apa pun, dan kemantapan tekad untuk mengikuti tuntunan Tuhan atas emosinya. Anya siap menyangkal dirinya yang lama dengan emosi yang meledak-ledak, memikul salib dalam ketaatan melalui jalan pemulihan, dan mengikut Tuhan dengan seluruh dirinya.

Apa pun yang terjadi dengan orang-orang dan hal-hal di sekitarnya mulai hari ini, Anya tahu, dia sedang dipulihkan dan disempurnakan sampai kelak menjadi serupa dengan Tuhan Yesus yang dia kasihi itu.

2022-10-29T09:52:46+07:00