“Celakalah Aku, Jika Aku Tidak Memberitakan Injil!”
Menjadi saksi dan pelayan Kristus adalah tanggung jawab setiap murid Kristus. Pada edisi yang lalu, kita telah melihat keberanian Paulus untuk bersaksi kepada Agripa dan Festus tentang Yesus. Kini, kita akan melihat alasan yang lain bagi Paulus di balik keberanian dan dedikasinya menjadi saksi Yesus pada edisi ini.
Memberitakan Injil sebagai sebuah keharusan
Paulus menulis dengan blak-blakan, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil,” (1 Kor. 9:16). Itu berarti pemberitaan Injil adalah suatu keharusan baginya; dan, bagi setiap murid Kristus. Paulus menganggap sebagai suatu hal yang celaka jika dia tidak memberitakan Injil.
Karena alasan Paulus itulah Festus berteriak dengan suara keras, “Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.” Dalam keadaan demikian, sebagai tawanan yang mengharapkan belas kasihan, mestinya Paulus merasa takut dan gentar. Tetapi, Paulus adalah prajurit Kristus yang siap menyenangkan komandannya.
Memberitakan Injil sebagai utang yang harus ditunaikan
Kepada komentar keras Festus, Paulus menjawab dengan berani dan gagah perkasa, “Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat!” Demi memberitakan kebenaranlah Paulus berani untuk bersaksi. Bahkan, Paulus pun berani menantang, “Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil.”
Selanjutnya, kata Paulus kepada sang raja, “Percayakah engkau, Raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.” Mungkin kita bertanya-tanya dalam hati bagaimana mungkin Paulus berbicara kepada seorang raja tanpa gugup atau gemetar, tetapi Paulus meneruskan penjelasannya dengan tegas, “Aku berutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar,” (Roma 1:14). Ini alasan berikutnya yang membuat Paulus terus memberitakan Injil: berita Injil yang menyelamatkan dirinya itu dianggapnya utang, sehingga dia wajib menunaikan pemberitaan Injil pula kepada orang-orang lain.
Memberitakan Injil oleh keyakinan akan kuasa Allah
Selain itu, kita menemukan alasan ketiga mengapa Paulus berani bersaksi: dia yakin akan kuasa Allah di dalam berita Injil. “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman,’” (Roma 1:16-17). Melalui Injil-lah manusia diselamatkan, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang. Karena keyakinannya itu, Paulus giat memberitakan Injil, agar setiap orang dapat memperoleh keselamatan seperti dirinya.
Memberitakan Injil dengan disertai berdoa
Doa adalah tiang kekuatan bagi setiap orang percaya. Melalui doa, kita berkomunikasi dengan Allah dengan membawa pergumulan kita kepada Allah. Ini pula yang dilakukan Paulus. Dia memberitakan Injil dengan disertai berdoa. Bahkan, Paulus berdoa untuk keselamatan dan masa depan sang raja, yang kepadanya dia sedang memberitakan Injil. “Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.”
Karena Paulus berdoa, perkataan pemberitaan Injil-nya menjadi berkuasa untuk mengubah para pendengar. Paulus menulis, “Berdoalah…, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara,” (Ef. 6:18-20).
Doa juga membuat kita berani untuk memberitakan hal-hal rahasia dari Injil Kristus. Paulus berdoa karena dia membutuhkan keberanian untuk memberitakan Injil Kristus kepada mereka yang belum pernah mendengar tentang Injil. Itulah sebabnya, raja dan wali negeri serta Bernike dan semua orang yang duduk bersama-sama berjalan keluar sambil membahas Paulus, “Orang itu tidak melakukan sesuatu yang setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara.” Ternyata, Roh Kudus menaruh kata-kata yang tepat dalam mulut Paulus untuk berbicara, sehingga Paulus tidak terjerat dipersalahkan oleh kata-katanya sendiri.
Doa menjadi kunci untuk membebaskan Paulus dari segala tuduhan. Karena itu, Raja Agripa berkata kepada Festus tentang Paulus, “Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya dia tidak naik banding kepada Kaisar.”
Memberitakan Injil dengan ide-ide sebagai perintis
Paulus memiliki tugas dari Tuhan untuk memberitakan Injil; bukan hanya kepada kaum Yahudi, melainkan kepada segala bangsa. Untuk itu, dia perlu banyak ide dan harus bergerak sebagai perintis. Banyak sekali orang yang menjadi sasaran pemberitaan Injil itu sebelumnya belum pernah mendengar tentang Yesus adalah Tuhan. Paulus ditugasi memberitakan kebenaran itu kepada mereka, maka dia berdoa dan bersekutu dengan Tuhan, hingga mendapatkan ide-ide yang kemudian terbukti efektif.
Salah satu prinsip penting di balik kreatifnya pemberitaan Injil Paulus tercatat bagi kita, “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat,” (1 Kor. 9:20). Paulus menyamakan dirinya dengan orang-orang yang disasarnya dalam memberitakan Injil, dan itu memperbesar peluang Injil diterima oleh mereka.
Sebaliknya, Paulus tidak terikat dengan satu atau dua metode “pasti” untuk penginjilan. Dia tidak mengikuti saja gaya atau cara pemberitaan Injil yang dilakukan rasul-rasul lain. Paulus kreatif mencari ide cara untuk konteks sasarannya. Jika satu pintu kesempatan tertutup, dia mencoba untuk membuka pintu yang lain agar Injil tetap diberitakan. “Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat,” (1 Kor. 9:21).
Bagaimana dengan kita? Masihkah kita memberitakan Injil dengan giat dan berani seperti Paulus? Jika kita banyak beralasan untuk tidak dapat memberitakan Injil kepada orang lain, kita perlu belajar dari Paulus. Dia berkata, “Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka,” (1 Kor. 9:22). Luar biasa motivasi Paulus dalam pemberitaan Injil Kristus. Dia rela melakukan apa pun dan mau menjadi apa saja demi Injil!
Hari ini, biarlah kita juga kembali pada semangat pemberitaan Injil seperti Paulus, menganggap pemberitaan Injil adalah keharusan dan utang, dan melakukannya dengan doa serta ide-ide kreatif, agar keselamatan itu juga diterima oleh semua orang.