//Semangat melakukan yang terbaik

Semangat melakukan yang terbaik

 

Image

 

Banyak hal-hal yang baik, bahkan yang terbaik, harus dicapai dengan suatu upaya, termasuk dengan pengorbanan. Perhatikanlah contoh sehari-hari yang ada di sekitar kita. Misalnya, untuk mendapatkan kepandaian / keahlian tertentu, kita harus belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Seorang pemusik, apabila hendak tampil di sebuah konser, harus mempersiapkan lagu-lagunya dengan berlatih secara rajin dan tekun. Bahkan seringkali ia harus berkorban dengan berlatih enam jam sehari. Tim penyembahan pun harus melakukan upaya dan pengorbanan yang serupa, apabila mereka hendak mempersembahkan pelayanan yang terbaik.

Alkitab mengajarkan prinsip semacam itu, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23) Mari kita melakukan segala pelayanan yang dipercayakan kepada kita dengan segenap hati, bahkan dengan pengorbanan. Kita dapat menemukan teladan-teladan dari orang-orang pilihan Allah, yang berani berkorban demi melakukan yang terbaik.
Yakub bekerja puluhan tahun pada pamannya, Laban, dan melakukan tugasnya dengan baik dalam menggembalakan ternak pamannya. Maka, Tuhan pun memberkati pamannya dengan ternak yang makin banyak (Kej 30:29-30). Ketika ia berbagi hasil ternak dengan pamannya, Tuhan pun memberkatinya dengan kekayaan dan ternak untuk segala jerih lelah (pengorbanan) dan kejujurannya (Kej 30:43).
Daud adalah jawara perang di jamannya. Ketika ia masih muda, ia menghabisi Goliat, raksasa jagoan tentara Filistin yang telah menghina Allah (1Sam 17). Di dalam perang-perang berikutnya, Daud memimpin tentara Israel dan selalu menang (1Sam 18:5). Sehingga rakyat Israel sangat mengelu-elukannya, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (1Sam 18:7) Semua itu tidak datang dengan sendirinya. Allah menyertai Daud, dan telah mempersiapkannya ketika ia masih menggembalakan ternak ayahnya di padang (1Sam 17:34-37).
Paulus punya semangat yang ekselen. Ia berkata, bahwa orang berlari begitu rupa untuk memperoleh hadiah (mahkota yang fana) dalam suatu pertandingan. Untuk itu, mereka mau menguasai diri (berkorban) dalam segala hal. Jadi, betapa lebihnya kita harus berjuang memperoleh mahkota yang abadi (1Kor 9:24-25). Sebab dari Tuhanlah kita menerima upah kita (Kol 3:24), dan biarlah kita dapat mengakhiri pertandingan hidup kita dengan baik sebagaimana Paulus (2Tim 4:7).

2019-10-10T01:03:55+00:00