///Semut, Si Penolong

Semut, Si Penolong

“Astaga, banyak sekali semut di sini!” Bintang terkaget-kaget melihat meja dapurnya yang dipenuhi semut. Dia langsung menelusuri dari mana datangnya semut-semut itu. Ah, ternyata semut datang berderet-deret dari lubang kecil di tembok menuju meja dapurnya. “Ini dia penyebabnya,” gumam Bintang begitu melihat remah-remah makanan yang tercecer di meja dapurnya. Rupanya setelah memipil jagung untuk masakannya tadi pagi, tanpa sadar dia meninggalkan beberapa serpihan biji jagung di meja. Aroma manis jagung inilah yang mengundang kawanan semut berdatangan ke meja itu. Bintang pun mengambil kain lap dan membersihkan meja dapurnya. Kawanan semut berpencaran dan dalam sekejap, semut-semut yang berderet-deret di tembok juga hilang lenyap entah ke mana.

 

Memang benar apa yang dikatakan Agur bin Yake dalam Amsal 30:24-25, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanan di musim panas.” Makhluk kecil ini sungguh cekatan! Dalam sekejap, mereka bisa berkumpul untuk memboyong makanan ke sarang dan dalam sekejap pula mereka bisa membubarkan diri saat ada bahaya untuk kembali ke sarang. Selain cekatan, semut juga dikenal sebagai serangga sosial. Mereka hidup bersama dan saling membantu dalam segala situasi. Patutlah kita dinasihati oleh Firman Tuhan untuk belajar dari semut!

 

Semut mempunyai tiga kasta dalam koloni, yaitu ratu, jantan, dan pekerja. Setiap kasta memiliki tugas yang berbeda untuk kepentingan koloni mereka. Sebagian semut tinggal di dalam sarang, sedangkan yang lainnya keluar untuk mencari makanan. Semut ratu bertugas berkembang biak, dan melahirkan anak-anak semut untuk koloni. Semut jantan membantu semut ratu dalam proses perkembangbiakan itu. Semut pekerja kebanyakan berjenis kelamin betina dan tidak memiliki sayap. Mereka bertugas mencari makanan, bekerja di sarang, melindungi komunitas, dan tentunya merawat anak-anak ratu. Semut pekerja rajin mengumpulkan makanan bagi koloninya. Mereka biasa berpencar mencari sumber makanan menggunakan antena khusus yang mampu menemukan sumber makanan yang jauh jaraknya.

 

Selama mencari makan, semut-semut pekerja meninggalkan jejak feromon, yaitu zat kimia produksi alami dari tubuh mereka yang berfungsi untuk membantu mereka menemukan jalan kembali ke sarang sekaligus sebagai alat komunikasi dengan semut-semut lainnya dari koloni yang sama. Setelah sumber makanan ditemukan, semut-semut pekerja akan melepaskan lebih banyak feromon yang menjadi sinyal ke semut-semut lain tentang keberadaan makanan itu. Dalam waktu singkat, semut-semut pekerja lain akan keluar dari sarang dan mulai berbaris mengikuti jejak feromon dengan menggunakan antenanya, menuju sumber makanan untuk bersama-sama memindahkan makanan itu ke sarang. Alhasil, seluruh koloni di sarang mendapatkan cukup makanan, bahkan mengumpulkan persediaan makanan untuk kebutuhan masa depan.

 

Itulah uniknya semut. Hewan kecil ciptaan Tuhan ini ternyata merupakan penolong yang rajin dan baik bagi sesamanya. Semut tidak peduli berapa jauh dia harus meninggalkan sarang atau bagaimana berbahayanya situasi di luar sarang, asalkan dia menemukan makanan untuk koloninya. Setelah makanan ditemukan, semut tidak menghabiskannya untuk diri sendiri, tetapi saling bekerja sama membawa pulang makanan tersebut ke sarang untuk dimakan bersama-sama dengan semut-semut lainnya. Semut memang layak kita teladani.

 

Seperti semut-semut pekerja yang rajin dan senantiasa saling menolong agar tersedia makanan bagi seluruh koloni di sarang, Gereja mula-mula pada zaman rasul-rasul juga hidup bersama dalam saling menolong. Dalam komunitas mereka yang saling menolong itu, hidup mereka semua menjadi berkecukupan, tidak ada yang berkekurangan. Kisah Para Rasul 2:44-45 menjelaskannya, “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Rupanya, mereka tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi justru menganggap satu sama lain lebih utama. Itulah sebabnya, kebangunan rohani terjadi dengan dahsyat pada masa itu.

 

Sebagai orang percaya, patutlah hidup kita pada masa sekarang ini juga menjadi penolong bagi sesama. Mengulurkan tangan kita untuk orang lain adalah misi kita di bumi. Seperti semut yang tidak pernah egois atau pelit, jangan pernah melabeli berkat yang kita terima dari Tuhan sebagai milik kita seorang. Pemikiran “milikku adalah milikku” tidak akan pernah membuat kehidupan kita semua berkecukupan. Ingatlah, segala yang kita terima bersumber dari Tuhan, dan Dia ingin kita menjadi kepanjangan tangan-Nya bagi orang lain. Misi “penolong” bukan hanya berlaku untuk orang-orang pada zaman rasul-rasul saja, tetapi untuk siapa pun di segala masa. Semut pun masih tetap melakukannya.

 

Yesus sendiri tegas memberikan perintah kepada kita, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu,” (Yoh. 15:12). Tidaklah mungkin kita mengasihi tanpa memberi, apa pun bentuknya, dari yang kita punyai. Mengasihi berarti memberi waktu, perhatian, materi, tenaga, pertolongan, kasih, semangat, dan banyak lagi, yang semasa pandemi ini menjadi kebutuhan besar banyak orang. Kita selalu dapat menemukan kesempatan untuk menolong mereka lewat berbagai bentuk pemberian kita. Mari, luangkan perhatian kita, waktu kita, maupun harta kita. Inilah saatnya kita membagikan kasih Bapa bagi orang yang membutuhkan. Jadilah penolong bagi orang lain, agar mereka dapat melihat kasih Bapa melalui hal-hal yang kita lakukan bagi mereka. Jangan biarkan identitas “penolong” pudar atau hilang dari diri kita, selama kita masih hidup di bumi ini bersama sesama manusia.

 

Refleksi Pribadi:

  1. Semasa pandemi ini, apakah Anda masih tetap menjadi penolong bagi orang lain? Kapan terakhir kali Anda menolong orang lain dengan giat dan tulus?
  2. Apa yang sering menjadi penghalang bagi Anda untuk menjadi penolong bagi orang lain? Temukan penghalang itu dan temukan solusinya melalui perenungan pribadi bersama Roh Kudus.
  3. Siapa yang sedang membutuhkan pertolongan di sekitar Anda saat ini? Bagaimana Anda akan bertindak memberi pertolongan kepada dia?
2021-11-02T09:15:48+07:00