Bagian Kedua
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” – Kolose 3:13-14, TB
Sejak edisi yang lalu, kita telah mulai membahas berbagai perilaku toksik yang kerap muncul di lingkungan kerja dalam kehidupan kita sehari-hari. Memang, orang yang kita sering berinteraksi atau bertemu berasal dari beragam latar belakang dan memiliki segala macam pola perilaku serta kualitas karakter. Sebagian dari perilaku orang-orang ini dapat menjadi toksik dan berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional kita. Setelah lima perilaku toksik yang kita bahas sebelumnya, artikel ini adalah bagian kedua, yang membahas lima perilaku toksik berikutnya.
Lima perilaku toksik berikutnya yang sering muncul di tempat kerja, berikut penjelasan singkat serta kiat-kiat menghadapinya:
- Ketergantungan emosional adalah perilaku mengandalkan orang lain secara berlebihan untuk mendapatkan dukungan emosional. Individu yang mengalami ketergantungan emosional cenderung menganggap orang lain sebagai sumber utama kebahagiaan dan kepuasan emosional mereka, sehingga mereka merasa kesulitan dalam mengatasi masalah atau menjaga keseimbangan emosional tanpa peran orang yang diandalkan tersebut.
Orang yang terbiasa tergantung secara emosional perlu serius melakukan beberapa langkah agar dapat mengembangkan kemandirian emosional. Pertama, penting bahwa orang tersebut memperkuat kemandirian diri, yang berarti mengembangkan kepercayaan diri, kepercayaan pada kemampuan diri sendiri, dan keterampilan untuk mengatasi kesulitan emosional secara mandiri. Dengan memperkuat kemandirian, individu dapat membangun kestabilan emosional yang lebih sehat sehingga tidak bergantung secara berlebihan kepada orang lain.
Selanjutnya, penting pula untuk mengembangkan jaringan sosial yang sehat. Membangun hubungan yang saling mendukung dengan orang-orang di sekitar kita dapat membantu mengurangi ketergantungan emosional pada satu individu tertentu. Mengembangkan hubungan yang beragam dan mendalam dengan teman, keluarga, atau komunitas dapat memberikan dukungan emosional yang beragam dan membantu individu untuk mencari keseimbangan dalam kehidupan mereka.
Selain itu, jika diperlukan, mencari bantuan profesional juga merupakan langkah yang penting dalam upaya untuk lepas dari ketergantungan emosional. Terapis atau konselor dapat membantu pelaku dalam memahami akar masalah ketergantungan emosional, sehingga pelaku dapat mengembangkan keterampilan dan menemukan strategi yang tepat untuk membangun kemandirian yang lebih kuat.
Untuk kita yang menghadapi perilaku ketergantungan emosional dari orang lain, yaitu kita yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan emosional orang tersebut, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Tetapkan batasan yang tegas, tetapi berikan pula perhatian wajar yang secukupnya dalam suasana komunitas. Kita perlu menegaskan kepada pelaku batasan dalam hal apa saja yang dapat kita berikan sebagai dukungan emosional dan hal apa saja yang sudah berada di luar kapasitas atau tanggung jawab kita. Komunikasikan batasan-batasan ini dengan jelas dan tegas, tanpa sikap kasar atau bermusuhan. Selain itu, kita perlu juga untuk tetap memberikan perhatian wajar dalam kadar secukupnya kepada pelaku, idealnya dalam suasana komunitas (tidak empat mata atau secara pribadi). Misalnya, tanyakan kabarnya dan doakan pelaku dengan teman lain saat makan siang bersama di kantin kantor, sapalah pelaku dengan ramah saat bertemu di lingkungan kerja, dan sebagainya.
Dalam menghadapi perilaku ketergantungan emosional, penting agar si pelaku memperkuat kemandirian diri, mengembangkan jaringan sosial yang sehat, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan. Di sisi lain, kita yang diandalkan oleh si pelaku perlu menegaskan batasan kita serta memberikan perhatian wajar yang secukupnya. Dengan mengimplementasikan langkah-langkah ini, pelaku dapat membebaskan diri dari ketergantungan emosional yang berlebihan dan kita pun membantu menciptakan keseimbangan yang lebih sehat dalam hubungan bersama.
- Gaslighting adalah perilaku manipulasi informasi, sudut pandang, atau fakta agar orang lain meragukan hal-hal tersebut dari pihaknya serta menggoyahkan kepercayaan diri dan kewarasan orang lain itu. Pelaku gaslighting cenderung memutarbalikkan fakta, mempertanyakan ingatan, atau menyajikan informasi yang salah dengan tujuan untuk mengendalikan dan memengaruhi orang lain sesuai keinginan atau agendanya sendiri.
Untuk menghadapi perilaku gaslighting yang ditujukan kepada kita, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Pertama, penting untuk kita mencari dukungan dari orang-orang yang bisa dipercaya, yang kita tahu memang berniat baik kepada kita. Membicarakan pengalaman kita dengan orang-orang yang dapat dipercaya ini membantu kita mendapatkan perspektif yang objektif, validasi, serta dukungan emosional yang diperlukan untuk menghadapi manipulasi pelaku gaslighting. Teman, keluarga, atau tenaga profesional seperti terapis dapat menjadi orang yang tepat dalam hal ini.
Selanjutnya, mencatat kejadian-kejadian yang terjadi dapat menjadi strategi yang efektif dalam menghadapi gaslighting. Dengan mencatat secara akurat berbagai interaksi dan kejadian yang terjadi, kita memiliki bukti yang konkret untuk menghadapi manipulasi dan gaslighting. Catatan ini adalah acuan untuk kita mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi dan membantu memperkuat kewarasan kita dalam menghadapi gaslighting.
Terakhir, penting untuk belajar mempercayai insting dan intuisi diri sendiri. Gaslighting sering kali bertujuan agar kita meragukan keyakinan dan persepsi kita sendiri. Dengan mengembangkan kepercayaan pada insting dan intuisi diri sendiri, kita dapat menghadapi upaya gaslighting dengan lebih baik. Mengenali dan menghargai penilaian diri sendiri adalah langkah penting dalam mengatasi efek dari gaslighting.
Sebagai korban perilaku gaslighting, penting untuk mencari dukungan dari orang-orang yang dapat dipercaya, mencatat kejadian-kejadian yang terjadi, dan belajar mempercayai insting serta intuisi diri sendiri. Langkah-langkah ini menolong kita untuk membangun kepercayaan diri yang lebih kuat, mempertahankan kewarasan, dan melawan manipulasi si pelaku gaslighting.
- Penolakan terhadap tanggung jawab adalah perilaku menolak bertanggung jawab atas tindakan atau menghindari konsekuensi dari tindakan diri sendiri. Orang-orang dengan perilaku ini cenderung melempar kesalahan dan tanggung jawab kepada pihak lain, termasuk orang lain, situasi, bahkan benda-benda atau alat. Bagi mereka, menghindari mengakui kesalahan atau konsekuensi negatif dari tindakan mereka harus diupayakan dengan segala macam cara, sering kali dengan mencari pembenaran atau menghindar/menghilang sementara, selain melempar kesalahan dan tanggung jawab.
Agar kita tidak terjebak dalam kebiasaan menolak bertanggung jawab, penting untuk memperkuat komitmen pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip pribadi. Ini berarti memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang dianggap sebagai tanggung jawab pribadi dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini. Dengan memperkuat komitmen pada nilai-nilai ini, seseorang dapat menjadi lebih bertanggung jawab atas tindakan diri sendiri dan berani bertanggung jawab.
Selanjutnya, jika kita yang terkena dampak dari orang yang menolak bertanggung jawab, kita perlu belajar menghindari terlibat dalam situasi yang melibatkan orang-orang yang demikian. Interaksi yang berulang dengan orang yang terus-menerus menolak tanggung jawab dapat merugikan kesehatan mental dan emosional serta mengganggu pola pikir dan perilaku kita. Mencari hubungan dengan orang-orang yang bertanggung jawab dan memegang nilai-nilai serupa dapat membantu dalam membangun lingkungan yang lebih positif dan saling mendukung.
Selain itu, penting juga untuk mengembangkan kemampuan untuk mengelola konflik secara konstruktif. Ketika seseorang dengan perilaku penolakan tanggung jawab mencoba untuk menyalahkan orang lain atau menghindari tanggung jawab, penting untuk kita tetap tenang, mempertahankan kejelasan, dan berkomunikasi dengan cara yang efektif. Mencari solusi yang adil dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan konflik dapat membantu dalam menghadapi perilaku penolakan tanggung jawab.
- Penghakiman adalah perilaku menyudutkan, mengecam, atau menjatuhkan penilaian atas orang lain tanpa memahami konteksnya dengan baik. Orang yang terlibat dalam perilaku ini sering kali secara cepat membuat penilaian dan menarik kesimpulan negatif terhadap orang lain berdasarkan asumsi atau prasangkanya sendiri. Orang yang demikian perlu melatih empati dan sikap terbuka. Melatih empati berarti berusaha untuk memahami perasaan, pandangan, dan pengalaman orang lain. Dengan mengembangkan kemampuan untuk melihat dari perspektif orang lain, orang dapat belajar membuka diri terhadap perspektif itu karena lebih memahami latar belakang dan situasi yang berbeda dari konteks diri sendiri. Selanjutnya, belajar untuk melihat dari perspektif orang lain oleh niat tulus untuk memperluas wawasan akan berguna untuk meredam penghakiman dari dalam diri.
Di sisi lain, kita semua perlu memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dan ini berarti kita perlu menghormati hak setiap individu untuk memiliki opininya sendiri. Dalam menghadapi perilaku penghakiman dari orang lain yang ditujukan kepada kita, kita dapat mengutarakan perspektif kita dan menjelaskan konteks kita. Hal ini berpotensi membuka pandangan pelaku penghakiman sehingga pemahamannya menjadi lebih utuh. Dengan demikian, perilaku mengecam atau menghakimi orang lain berdasarkan perbedaan pendapat di lingkungan kerja akan berkurang, dan hal ini menciptakan lingkungan yang lebih inklusif serta saling mendukung.
Dengan strategi di atas, kita dapat mengurangi serta menghadapi sikap penghakiman yang tidak sehat, mempromosikan pemahaman yang lebih dalam, dan membangun hubungan yang lebih harmonis serta saling menghormati.
- Dominasi berlebihan adalah perilaku yang cenderung mengendalikan dan mendikte orang lain sampai pada hal-hal kecil dan pribadi. Orang dengan perilaku dominan berlebihan sering kali berusaha untuk mengambil alih keputusan, mengatur orang lain, dan mendikte tindakan yang harus dilakukan oleh orang di sekitarnya.
Jika Anda berhadapan dengan perilaku dominan berlebihan, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Pertama, penting untuk memperkuat batasan pribadi. Ini berarti menetapkan batasan yang jelas dan kuat tentang apa yang dapat diterima dan tidak diterima dalam interaksi dengan individu yang dominan. Dengan memperkuat batasan ini, kita dapat mempertahankan otonomi dan menjaga kemandirian diri.
Selanjutnya, membangun kepercayaan diri adalah langkah penting dalam menghadapi perilaku dominan. Kepercayaan diri yang kuat membantu seseorang untuk mengakui nilai dan hak-hak pribadi mereka. Dengan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, seseorang dapat lebih mampu menghadapi upaya dominasi berlebihan dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan atau intimidasi.
Selain itu, belajar untuk mengambil kendali atas hidup sendiri adalah langkah penting pula. Langkah ini melibatkan kemampuan untuk membuat keputusan yang berorientasi pada diri sendiri, mengambil tanggung jawab atas hidup dan tindakan kita sendiri, dan tidak membiarkan orang dominan mengendalikan kita. Dengan mengambil kendali atas hidup sendiri, kita dapat membangun kebebasan dan otonomi pribadi.
Dalam rangka menghadapi perilaku dominasi berlebihan, penting untuk melakukan langkah-langkah di atas, agar kita dapat menjaga kemandirian diri, mempertahankan integritas pribadi, dan membangun hubungan yang lebih seimbang dan saling menghormati.
Perilaku toksik dapat mengacaukan keseimbangan dan kebahagiaan dalam kehidupan kita, dan sepuluh di antaranya yang dibahas dalam artikel bersambung sejak edisi lalu ini merupakan perilaku-perilaku toksik yang sangat merusak di tempat kerja. Mungkin saja kita pernah mengalami situasi di mana kita merasa direndahkan, dimanipulasi, atau bahkan ditinggalkan oleh orang-orang di sekitar kita. Namun, dengan memahami dan mengenali perilaku toksik, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri kita sendiri dan membangun kesehatan mental dan emosional yang lebih kuat. Dari proses eksplorasi terhadap berbagai perilaku toksik ini, kita akan mendapatkan wawasan yang berharga dan kiat-kiat praktis yang dapat diterapkan. Mari kita bersama-sama melawan dan mengatasi dampak negatif dari perilaku toksik agar kita dapat hidup dengan lebih harmonis dan bahagia.