//Seri Iman : Yakub, Perjalanan Iman Sang Penipu (Bagian 1)

Seri Iman : Yakub, Perjalanan Iman Sang Penipu (Bagian 1)

Di antara semua pahlawan iman yang disebutkan namanya di kitab Ibrani, Yakublah yang paling kontroversial. Kisahnya dramatis dan penuh dengan lika-liku yang menegangkan. Namun, dari Yakub pulalah lahir bangsa Israel, umat pilihan Allah yang menjadi gambaran orang-orang dari segala bangsa di sepanjang sejarah yang dipanggil dan dipilih menjadi umat-Nya. Yakub, melewati seluruh perjalanan kehidupannya, mendapat kasih karunia di hadapan Allah dan menjadi salah satu tokoh pahlawan iman. Dalam bagian pertama artikel tentang Yakub ini, kita akan menyimak dan belajar dari masa kecil serta masa muda Yakub, sampai pada titik ketika dia terpaksa lari dari kemarahan Esau, kakak kembarnya.

 

 

Yakub sejak di Dalam Kandungan Ibunya: Bagian Penting dari Rencana Kekal Allah

Yakub bermasalah sejak di dalam kandungan ibunya. Nabi Hosea bahkan mencatatnya sebagai penipu sejak Yakub masih belum dilahirkan dalam ringkasannya tentang kehidupan Yakub, “Di dalam kandungan dia menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya dia bergumul dengan Allah. Dia bergumul dengan Malaikat dan menang; dia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel dia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman kepadanya: — yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya –” (Hos. 12:4-5). Singkatnya, Yakub menipu saudaranya sejak dalam kandungan, tetapi dia bergulat dengan Tuhan dan menang, lalu menerima Firman Allah.

 

Yakub disebut di dalam Kejadian 25 dan separuh isi Alkitab dikaitkan dengan dirinya. Yakub adalah anak yang dinanti-nantikan oleh Ishak dan Ribka sejak lama, “Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung,” (Kej. 25:21). Ternyata, sejak awal, Yakub yang kembar itu sudah berseteru dengan kembarannya di dalam rahim ibunya, sehingga Ribka kepayahan dan berkeluh kesah, “‘Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?’ Dan dia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN,” (Kej. 25:22). Allah menjawab Ribka, “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda,” (Kej. 25:23).

 

Ketika tiba waktunya untuk Ribka bersalin, kedua anak kembar itu pun lahir. Yang pertama lahir dengan tubuh berbulu lebat, seperti jubah, dan dinamai Esau. Yang kedua lahir dengan tangan memegang tumit yang pertama, dan dinamai Yakub. Nama yang kedua ini, Yakub, artinya “penipu”

 

Perseteruan Yakub dengan Esau sejak keduanya masih janin, perebutan posisi keduanya saat kelahiran, bahkan kelanjutan kehidupan keduanya, rupanya merupakan bagian dari rencana Allah. Semuanya itu bukan kebetulan semata. “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, — supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya — dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Dia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati,” (Roma 9:11-15). Rencana Allah yang adil dan sempurna dalam kekekalan ini akan terbukti selanjutnya, bukan hanya di dalam kehidupan Yakub sendiri, tetapi juga di sepanjang sejarah.

 

 

Yakub sebagai Anak di Rumah Bapa-Ibunya: Keputusan Iman yang Menentukan Masa Depan

Jalan hidup manusia ditentukan oleh tiap keputusan demi keputusannya. Semasa usia kecil, orang tua mengambil berbagai keputusan bagi kita. Namun setelah dewasa, kita bertanggung jawab mengambil keputusan bagi diri sendiri. Di sinilah Esau mengambil keputusan yang salah karena menjual hak kesulungan kepada Yakub, sementara Yakub mengambil keputusan untuk menyambar peluang berkat yang akhirnya menjadi bagiannya seumur hidup serta untuk keturunannya.

 

Esau pandai berburu dan tinggal di padang. Yakub tenang dan suka tinggal di kemah. Karena perbedaan karakteristik ini, terjadilah kecocokan yang alamiah antara mereka masing-masing dengan orang tua mereka. Esau lebih cocok dengan ayahnya, sementara Yakub lebih cocok dengan ibunya. Tentu, hal ini juga berarti Esau lebih banyak berkomunikasi dengan ayahnya, sedang Yakub lebih banyak berkomunikasi dengan ibunya. Pada suatu hari, Esau pulang dari padang setelah berburu, dalam kondisi tubuhnya lelah. Dia melihat Yakub sedang memasak kacang merah, lalu seketika itu pula dilanda keinginan untuk makan. Inilah asal mulanya Esau disebut “Edom”, yang artinya “bernafsu rendah”. Kata Esau kepada Yakub, “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah, (Kej. 25:30). Melihat gelagat ini, Yakub menyambar peluang yang ada dan berkata, “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu,” (Kej. 25:31). Dasar penipu, dia melihat peluang di balik kebutuhan orang lain.

 

Di sisi lain, seharusnya Esau menolak penawaran Yakub itu. Seharusnya Esau bisa melihat bahwa hak/berkat kesulungannya jauh lebih bernilai dibandingkan masakan kacang merah itu. Bukankah ‘toh Esau sudah tiba juga di rumah dan bisa segera menikmati makanan lainnya yang ada di rumah itu? Namun karena bernafsu rendah, dia berpikir pendek dan gegabah, “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (Kej. 25:32). Esau pun mengambil sebuah keputusan fatal: menjual kesulungan. “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika dia hendak menerima berkat itu, dia ditolak, sebab dia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun dia mencarinya dengan mencucurkan air mata,” (Ibr. 12:16-17). Esau telah mengambil keputusan yang merusak masa depannya.

 

Yakub bersikap cerdik dalam transaksi itu. Dia berkata kepada Esau, “Bersumpahlah dahulu kepadaku,” (Kej.25:33). Di dalam hawa nafsunya, Esau berpikir pendek hingga mengira sumpahnya itu sekadar ucapan di mulut. Padahal, sebuah sumpah bersifat mengikat. “Maka bersumpahlah dia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya,” (Kej.25:33). Yakub memberikan roti dan kacang merah dengan sukacita, karena tahu bahwa bagian yang terimanya dalam transaksi itu jauh lebih bernilai daripada masakannya itu. Meski menipu, Yakub punya pandangan yang jauh ke depan, imannya melihat berkat kesulungan itu untuk seluruh masa depannya, sedangkan Esau memuaskan nafsu laparnya, “… dia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu,” (Kej.25:34).

 

Akibat keputusannya itu, Esau bukan hanya kehilangan hak kesulungannya, tetapi juga berkat dari orang tuanya. Pada usia uzurnya, Ishak memberkati Yakub dengan berkat kesulungan yang awalnya merupakan hak Esau, “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN. Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah dia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah dia,” (Kej. 27:27-29).

 

Bagaimana dengan Yakub? Ternyata imannya berbuah. Oleh aksi penipuannya itu, dia menerima berkat Tuhan pada posisi kesulungan. Kata Ishak saat menjelaskan hal ini kepada Esau, “Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu. Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?” (Kej. 27:37).

 

 

Yakub sebagai Adik Esau: Dikejar sebagai Penipu, Sendirian, dan Belajar Mengandalkan Tuhan

Karena marah setelah menyadari arti transaksi kacang merah semasa mudanya itu, Esau berkata, “Bukankah tepat namanya Yakub, karena dia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku,” (Kej. 27:36). Sebetulnya, bukan perampasan yang dilakukan Yakub itu, karena transaksi pertukaran itu sah di mata manusia maupun di mata Tuhan. Tidak ada paksaan apa pun dan kedua belah pihak melakukan bagiannya, tetapi memang Esau sangat kecewa dengan konsekuensi yang menimpa dirinya.

 

Dari kekecewaan dan kemarahan itulah Esau membuat rencana untuk membunuh Yakub. Namun, sesuai dengan berkat kesulungan yang diterimanya, Yakub dilindungi Allah. Doa Ishak atas Yakub dalam berkat kesulungan itu, “Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu dan membuat engkau menjadi banyak, sehingga engkau menjadi sekumpulan bangsa-bangsa. Moga-moga Dia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadamu serta kepada keturunanmu, sehingga engkau memiliki negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham,” (Kej. 28:3-4). Luar biasa berkat yang Yakub terima: berkat dan perlindungan yang tak habis-habisnya sampai ke keturunan-keturunan berikutnya.

 

Dalam posisinya yang kini dikejar-kejar oleh kemarahan Esau, Yakub melarikan diri. Atas petunjuk Ribka, ibunya, dia berangkat ke Padan-Aram, yakni kampung halaman Ribka. Padan-Aram berjarak cukup jauh dari rumah keluarga Yakub, sehingga dalam perjalanan itu matahari keburu terbenam sementara dia masih di tengah jalan. Sendirian, Yakub harus menginap di tengah padang gurun. Dia pun mengambil batu dan memakainya sebagai alas tidur, lalu segera jatuh tertidur dan bermimpi. “Maka bermimpilah dia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu,” (Kej. 28:12). Ini bukan mimpi biasa, karena isinya menunjukkan pesan Tuhan atas Yakub. Ini adalah penglihatan di waktu malam, yang datang kepada Yakub saat dia berdua saja dengan Tuhan.

 

Penglihatan di dalam mimpi itu memang jelas. Allah menampakkan diri-Nya untuk meneguhkan berkat kesulungan Yakub, “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu,” (Kej. 28:13-15). Memang Yakub telah menipu, tetapi dia pun bagian dari rencana kekal Allah yang sempurna bagi bangsa-bangsa. Penglihatan ini adalah peneguhan dan janji berkat Allah, sekaligus jaminan perlindungan untuk Yakub.

 

Yakub berespons tanggap terhadap peneguhan Tuhan itu, “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya. Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga,” (Kej. 28:16-17). Dia mengambil batu alas tidurnya itu, membuat tugu dengan batu itu, dan menuang minyak ke atasnya. Inilah reaksi alami seseorang yang bersyukur kepada Tuhan, yang tentu telah dibangun dari hubungan pribadi dan pengenalannya kepada Tuhan sejak masa kecilnya di rumah. Dalam ucapan syukurnya, Yakub bernazar, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu,” (Kej. 28:20-22). Yakub mulai belajar mengandalkan Tuhan saja, bukan mengandalkan akalnya untuk menipu orang agar mendapatkan keselamatan, berkat, dan hal-hal lain yang dia butuhkan.

 

 

Dalam langkah-langkahnya yang selanjutnya, Yakub benar-benar menepati nazarnya. Dia terbukti telah mengikatkan dirinya pada perjanjian di antara Allah dengan dirinya itu. Bagaimana dengan kita? Apakah kita pun tanggap berespons terhadap setiap janji Tuhan saat mendengar Firman Tuhan? Yesus telah mati bagi kita, darah-Nya memeteraikan perjanjian yang baru itu atas kita, maka iman kita pun harus dibarengi dengan tindakan iman. Seperti Yakub berespons tepat terhadap janji Allah, kita pun seharusnya demikian. Percayalah kepada janji-Nya dan lakukan perintah Tuhan atas kehidupan Anda, karena inilah yang seharusnya menjadi respons iman kita kepada Tuhan.

 

Mari catatkan kisah perjalanan hidup yang penuh iman, meski mungkin Anda pernah memiliki masa lalu yang buruk, seperti Yakub, “Yakub melarikan diri ke tanah Aram, dan Israel memperhambakan diri untuk mendapat isteri, ya, untuk mendapat isteri dia menjadi gembala,” (Hos. 12:13). Allah menyertai Yakub dan melepaskan keturunannya dari perbudakan di Mesir, “Israel dituntun oleh TUHAN keluar dari Mesir dengan perantaraan seorang nabi, ya, dia dijaga oleh seorang nabi,” (Hos. 12:14). Yakub menarik perhatian Tuhan serta diperkenan Tuhan, dan menerima seluruh berkat kesulungan yang diperolehnya saat muda itu. Nantikan kelanjutan perjalanan iman Yakub pada Build! edisi yang akan datang, untuk kita terus meneladani serta belajar dari imannya.

2021-09-28T11:47:06+07:00