//Seri Iman : Yusuf – Perjalanan Iman menuju Visi Tuhan

Seri Iman : Yusuf – Perjalanan Iman menuju Visi Tuhan

Untuk menggenapi visi dari Tuhan, kadang kita harus melewati perjalanan iman yang tidak mudah. Banyak penghalang harus kita lewati agar kita dapat menang dengan hati yang murni. Kita akan melanjutkan belajar dari tokoh Yusuf pada bagian kedua artikel tetang dirinya ini, khususnya tentang bagaimana Yusuf tetap mempertahankan imannya kepada Allah walau harus melewati berbagai penghalang, serta bagaimana liku-liku itu membuatnya bertambah kuat dan makin yakin bahwa Allah telah merancangkan yang terbaik buat hidupnya.

 

Dari budak menjadi tangan kanan petinggi istana

Pada edisi yang lalu, kita telah melihat bagaimana awal perjalanan iman Yusuf, yaitu bagaimana mimpi Yusuf mendapat jalan untuk digenapi Tuhan. Dia dijual seharga 20 syikal perak dan dibawa ke Mesir kemudian dijual sebagai budak. Yusuf lalu dipekerjakan oleh Potifar, seorang pegawai tinggi istana Firaun, yaitu sang kepala pengawal raja. Dari sinilah ujian iman Yusuf dimulai.

Tuhan menyertai orang-orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Yusuf memang menjadi budak di Mesir, tetapi dia tetap hidup berkenan kepada Tuhan dan alhasil selalu mendapat kasih karunia Tuhan. Dia selalu berhasil dalam pekerjaannya, serta mendapat kasih perkenan dari tuannya, hingga diperbolehkan tinggal di rumah tuannya dan diberi kuasa penuh atas rumah dan segala milik tuannya. Yusuf menjadi orang kepercayaan dari sang petinggi.

 

Sejak Potifar memberikan kuasa atas segala miliknya kepada Yusuf, dia melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf dengan memberkati seisi rumah tangga dan ladangnya, karena itu Potifar sangat bersukacita. Di sisi lain, Yusuf pun memiliki karakter yang luar biasa unggul. Terlepas dari kesuksesannya yang melejit, dia senantiasa bersikap sopan dan manis. Dia tidak sombong atau memandang rendah orang lain. Tingkah laku Yusuf membuktikan imannya kepada Allah.

 

Dari tangan kanan petinggi istana menjadi narapidana

Sayangnya, kadang sesama manusia memang bisa saja berbuat jahat kepada kita. Di rumah Potifar, kebaikan hati Yusuf menjadi bumerang bagi dirinya. Isteri Potifar memandang Yusuf dengan berahi dan menggodanya untuk tidur dengannya. Yusuf teguh mempertahankan kemurnian hatinya di hadapan Allah, dengan selalu menolak ajakan berdosa itu. Penolakan ini membuat istri Potifar sakit hati, hingga merancang niat jahat. Dia memfitnah Yusuf, hingga akhirnya Yusuf dijebloskan ke dalam penjara.

 

Kitab Suci mencatat apa yang terjadi selanjutnya, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya,” (Kej. 39:21-22). Rupanya, sekalipun Yusuf berada di dalam penderitaan oleh kurungan, kegelapan, dan kesewenang-wenangan, mata Tuhan selalu memandang Yusuf dan berkat-Nya tidak pernah berkurang. Yusuf tetap berlimpah kasih karunia Tuhan! Hal inilah yang membuat iman Yusuf terus menguat; dia tetap percaya bahwa Allah selalu merencanakan yang terbaik buat hidupnya, terlepas dari situasi yang sedang dia alami.

 

Dari narapidana menjadi penafsir mimpi

Suatu kali, juru minuman dan juru roti Firaun membuat kesalahan yang fatal. Karena itu, Firaun murka dan menahan mereka dalam satu penjara dengan Yusuf. Pada salah satu malam di sel penjara itu, juru roti dan juru minuman bermimpi, tetapi mereka tidak mengerti arti mimpi tersebut. Oleh hikmat Tuhan yang didapatnya, Yusuf berani menawarkan diri menjadi penafsir mimpi tersebut. Ternyata, Yusuf berhasil menjadi penafsir mimpi; dia bukan hanya pemimpi seperti olok-olok yang menimpanya semasa kecil!

 

Melalui peristiwa penafsiran mimpi itu, Tuhan mempromosikan Yusuf secara tepat waktu. “Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa dia berdiri di tepi sungai Nil,” (Kej. 41:1). Itulah waktunya bagi Allah untuk membuka tabir kebesaran-Nya kepada Firaun, yang bermimpi dua kali malam itu. Firaun bingung dan resah di dalam kebingungannya itu. Dia membutuhkan seorang penafsir yang ahli untuk mengartikan mimpinya. Keesokan paginya, dia memanggil semua ahli dan orang berilmu untuk mengartikan mimpinya, tetapi tidak seorang pun dari mereka itu berhasil. Tiba-tiba, juru minuman yang telah bebas dari penjara sesuai penafsiran Yusuf sadar, “Hari ini aku merasa perlu menyebutkan kesalahanku yang dahulu. Waktu itu tuanku Firaun murka, dan menahan aku dalam rumah pengawal istana… Pada satu malam juga kami bermimpi, aku dan kepala juru roti itu; masing-masing mempunyai mimpi dengan artinya sendiri,” (Kej. 41:10-11). Juru minuman itu bersaksi, “Bersama-sama dengan kami ada di sana seorang muda Ibrani,… kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu diartikannya kepada kami mimpi kami masing-masing. Dan seperti yang diartikannya, demikianlah terjadi: aku dikembalikan ke dalam pangkatku, dan kepala juru roti itu digantung,” (Kej. 41:12-13). Cerita juru minuman itu menjadi iklan yang mempromosikan Yusuf. Akhirnya Firaun memanggil Yusuf dan Yusuf berhasil mengartikan mimpi Firaun tersebut. Tuhan tetap setia memegang seluruh jalan hidup Yusuf.

 

 

Dari penafsir mimpi menjadi perdana menteri

Sebagai buah dari menafsir mimpi Firaun, Yusuf mendapat kebebasan dan keluar dari penjara. Tuduhan tak senonoh dari istri Potifar dulu gugur begitu saja, karena di hadapan mata Firaun sendiri Yusuf terbukti sebagai orang berbudi luhur yang diurapi Tuhan semesta alam. Bahkan, Firaun terkagum-kagum akan hikmat Allah yang ada pada Yusuf, sehingga memutuskan menempatkan Yusuf sebagai pejabat pemegang kekuasaan atas istananya. Firaun pun memberikan cincin meterai raja dari jarinya kepada Yusuf, yang menandakan bahwa Yusuf dapat berkuasa atas seluruh tanah Mesir langsung mewakili Firaun. Sebuah kepercayaan yang luar biasa, melampaui yang terpikir oleh manusia! Yusuf kini berada di posisi amat tinggi dan visi Tuhan yang muncul di mimpinya semasa kecil itu mulai terwujud: dia menjadi penguasa dan banyak orang sujud di hadapannya.

 

Pimpinan Allah atas Yusuf tidak pernah berkesudahan. Iman Yusuf pun menyambut seluruh pimpinan Tuhan itu, sehingga seluruh jalan hidupnya membuktikan bahwa Allah setia terhadap janji-janji-Nya. Nantikan edisi berikutnya dalam artikel tentang Yusuf ini, yang mengulas bagaimana perjalanan iman Yusuf membawa dia terus naik ke gunung visi Tuhan sampai tiba di puncaknya.

2022-01-26T08:50:38+07:00