//Seri Paulus 13 : Pintu yang Terbuka di Tembok yang Tebal

Seri Paulus 13 : Pintu yang Terbuka di Tembok yang Tebal

Pada edisi sebelumnya, kita telah mengamati cara pandang Paulus tentang penderitaan yang dialaminya sebagai seorang murid Kristus. Karena cara pandangnya itu, di tengah-tengah segala penderitaan tekadnya tidak goyah untuk memberitakan Injil sesuai janji Allah lewat Ananias, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.,” (Kis. 9:15-16). Apa pun rintangan yang menjadi tembok tebal di hadapannya, Paulus mengemban tugas dari Tuhan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja, dan orang-orang Israel sendiri.

 

Dalam perjalanannya yang terakhir kita bahas, Paulus tiba di Yerusalem, dan dia ditangkap di kota itu. Masyarakat rusuh dan gempar. Setelah kegemparan yang terjadi oleh penangkapannya itu, akhirnya Paulus membuka suara, “Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga dari kota yang terkenal di Kilikia; aku minta, supaya aku diperbolehkan berbicara kepada orang banyak itu.” Paulus siap menerobos tembok tebal rintangan, memberitakan Injil melalui kesaksian pembelaannya di hadapan orang-orang. Kita akan melihat bahwa keputusan Paulus ini juga membuka pintu kesempatan bagi pemberitaan Injilnya dan menunjukkan penyertaan Tuhan atasnya.

 

 

Kesaksian pribadi tentang kehidupan lama, titik awal penerimaan pendengar

Saat ditangkap dan dihakimi, Paulus siap untuk berbicara apa adanya di hadapan orang-orang Yahudi. Orang-orang itu pun menantikan kesaksian pembelaan Paulus. Kita dapat membacanya dalam Kisah Para Rasul mulai pasal 22. Tuhan mengendalikan situasi itu dan menjadikannya pintu yang terbuka bagi pemberitaan Injil, karena orang-orang Yahudi (Israel) memang merupakan kelompok fokus yang telah dinubuatkan sebagai tugas pelayanan Paulus dari Tuhan. Paulus pun menyadarinya, sehingga dia memulai kesaksian itu dengan menunjukkan kesamaannya dengan orang-orang Yahudi itu, dalam bahasa Ibrani, “Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.”

 

Paulus menjelaskan asal usul kelahiran dan pendidikannya, termasuk siapa rabi yang mendidiknya sejak usia mudanya. Setelah penjelasan awal itu singkat, dia membeberkan pekerjaan yang dilakukannya sebagai pelayan agama Yahudi, sebelum bertobat menjadi pengikut Kristus, “Aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.” Bahkan, disebutkannya koneksi pembesar yang memberinya perintah dan menjamin misinya yang kejam itu, “Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-tua dapat bersaksi. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.” Informasi yang blak-blakan sekaligus mengerikan, tetapi membuat orang-orang Yahudi melihat kesamaan posisi Paulus dengan diri mereka sendiri.

 

 

Kisah titik balik perubahan hidup, kebenaran yang dinyatakan dengan kuasa Tuhan

Kemudian, Paulus menunjukkan titik balik hidupnya dengan kesaksian yang sama gamblangnya, yaitu bagaimana tepatnya perjumpaan dan perkenalan pribadinya dengan Yesus Kristus terjadi. “Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah mendekati Damsyik, kira-kira tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Lalu rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu,” (Kis. 22:6-8). Selanjutnya, Paulus juga menceritakan visi Tuhan atas pertobatan dirinya, tetapi orang-orang banyak yang mendengarnya mulai rusuh karena tak mau menerima kebesaran Yesus Kristus. Mereka kembali berteriak-teriak, “Enyahkan orang ini dari muka bumi! Ia tidak layak hidup!”

 

Dalam kekisruhan itu, akhirnya Paulus dibawa ke markas untuk diperiksa dan hendak dicambuk. Namun, itu bukanlah akhir pemberitaan Injil Paulus. Tuhan menyertai kesaksiannya dengan penuh kuasa. Pada waktu hukuman cambuk akan dimulai, Paulus diberi hikmat untuk kembali melakukan pembelaan yang tepat. Dia berkata kepada perwira Romawi yang bertugas berdasarkan status kewarganegaraannya, “Bolehkah kamu mencambuk seorang warga negara Roma, apalagi tanpa diadili?” Seketika itu, perwira Romawi itu ketakutan. Pada masa itu memang ada hukum yang melarang untuk mencambuki warga negara Roma, dan orang yang melanggar aturan itu akan menerima sanksi berupa hukuman mati. Paulus menunjukkan statusnya sebagai warga negara Roma, oleh hikmat yang Tuhan berikan, sehingga dirinya batal dicambuk dan dapat melanjutkan misi pemberitaan Injil.

 

Pembelaan diri Paulus saat ditangkap menunjukkan bukan sikap yang menghindar dari penderitaan, melainkan justru penyertaan, hikmat, dan kuasa Tuhan atas Paulus. Semua itu tidak pernah habis bagi orang-orang yang mengandalkan-Nya. Karena Paulus percaya bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidupnya, dia mengalami Tuhan tidak membiarkannya menderita begitu saja. Pada perkembangan peristiwanya, akhirnya Paulus diperhadapkan kepada imam-iman kepala dan sidang mahkamah agama, sehingga berkesempatan memberitakan Injil dengan lebih lugas lagi kepada orang-orang terkemuka. Apa yang terjadi dengan Paulus di hadapan mahkamah agama itu? Mari nantikan kisahnya di eBuild! edisi selanjutnya.

2024-04-26T11:29:54+07:00