/, Tokoh Alkitab/Seri Paulus (14) – Luput secara Ajaib dari Siasat Kejahatan

Seri Paulus (14) – Luput secara Ajaib dari Siasat Kejahatan

Penyertaan Tuhan yang Nyata atas Paulus dalam Kesaksiannya

Pada edisi sebelumnya, kita telah melihat bagaimana Paulus dengan berani bersaksi pada orang-orang Yahudi tentang kuasa Injil Kristus. Kali ini, kita akan mendengar isi kesaksian Paulus kepada para pemimpin agama, yaitu secara khusus di hadapan Mahkamah Agama di Yerusalem.

 

Sekilas kembali tentang situasinya, Paulus saat itu menghadapi tuduhan menyebarkan ajaran hujat dan sesat, kemudian disidang di Yerusalem. Dia membela diri di hadapan Mahkamah Agama di Yerusalem dengan berkata, “Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.” Rupanya, pernyataan tegas Paulus itu justru menimbulkan kejadian yang tidak disangka. Imam Besar Ananias menyuruh orang yang berdiri di dekat Paulus menampar mulut Paulus untuk menghentikan pembelaannya. Namun, respons Paulus menohok imam besar tersebut, “Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku.” Respons Paulus yang berani itu berhasil membumkam mulut imam besar Ananias, tetapi sekaligus menimbulkan kemarahan orang-orang yang hadir yang menganggap Paulus mengejek imam besar tersebut.

 

Dengan hikmat Tuhan yang memimpinnya, Paulus mencari celah dalam situasi itu agar terlepas dari ricuhnya Mahkamah Agama dengan menyebut bahwa dia adalah golongan Farisi dan memaparkan ajaran kaum Farisi tentang kebangkitan orang mati yang memang menjadi pertentangan antara golongan Farisi dan Saduki. Rencana Paulus ini berhasil membuat semakin ricuh suasana karena golongan Farisi jadi berdebat keras dengan golongan Saduki. Kali itu, Paulus mendapat dukungan dari golongan Farisi dan alhasil dia pun dibawa ke markas untuk diamankan dari situasi yang semakin kacau.

 

Tuhan yang memanggil Paulus untuk menjadi alat-Nya memberitakan Injil keselamatan, Tuhan jugalah yang menjadi perisai bagi Paulus. Tuhan yang telah berjanji itu adalah setia. Tuhan menyertai setiap perjalanan hidup Paulus untuk menggenapi rencana Tuhan. Ini dibuktikannya pada setiap situasi maupun kejadian yang Paulus alami, selalu ada penyertaan Tuhan atasnya. Kelanjutan peristiwa yang Paulus alami menyatakan keluputan yang ajaib dari ancaman kejahatan.

 

Setiap kali Paulus berhasil melewati satu titik atau langkah baru sesuai kesempatan yang dibuka oleh Tuhan, dia mendapat penghiburan dari Tuhan. Pada malam berikutnya, Tuhan datang berdiri di sisi Paulus untuk menguatkan dia. Tentu hal itu merupakan pengalaman yang amat sangat indah, dihampiri Allah dan dibisikkan kata-kata yang membangkitkan kekuatan dan keyakinan diri di tengah-tengah beratnya penderitaan. Di saat Paulus sebagai manusia tentu gelisah karena mengira dirinya akan mati di Yerusalem sehingga tidak sempat pergi ke Roma, Yesus hadir di sisi Paulus dan berkata, “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.” Seperti mendapat air sejuk di tengah-tengah padang gurun, Paulus kembali disegarkan dan dikuatkan oleh janji Allah bahwa Dia akan membawa Paulus menjadi saksi-Nya di Roma.

 

Setelah Tuhan menguatkan Paulus, Dia melakukan intervensi dalam urusan keselamatan jiwa Paulus. Itulah sebabnya, meskipun orang-orang Yahudi berkomplot dan bersiasat jahat, bahkan bersumpah dengan mengutuk diri untuk membunuh Paulus, siasat mereka itu gagal. Mereka bersumpah untuk tidak makan atau minum sebelum membunuh Paulus. Maka, orang-orang itu pergi menghadap imam kepala dan para tua-tua untuk memberitahukan rencana mereka membunuh Paulus. Namun, keponakan Paulus mendengar rencana itu sehingga terbongkarlah rahasia mereka. Kepala pasukan mencegahnya terjadi dan melepaskan Paulus dari rencana pembunuhan itu. Tuhan menunjukkan penyertaannya atas Paulus.

 

Akhirnya, Paulus dipindahkan ke Kaisarea untuk dibawa kepada Gubernur Feliks, dengan kawalan 200 orang prajurit, 70 orang berkuda, dan 200 orang bertombak. Pengamanan itu luar biasa. Hanya untuk memindahkan seorang Paulus yang sebetulnya bukan orang penting di Roma, pasukan pengamanan yang sedemikian kuat dikerahkan. Itulah pula penyertaan Tuhan atas orang-orang yang taat melakukan kehendak-Nya.

 

Keluputan Paulus dari siasat jahat mengajar kita untuk mengerti bahwa Tuhan adalah sumber keluputan bagi orang yang berharap kepada Dia. Karena itu, janganlah kita takut terhadap apa pun saat melakukan kehendak-Nya, karena Tuhan berdaulat atas hidup kita, Tuhan pasti menyertai kita demi rencana-Nya dalam hidup kita tergenapi.

 

Inginkah Anda mengalami yang Paulus alami itu? Mari terus ikuti kelanjutan kisah Paulus menuju Kaisarea pada edisi selanjutnya.

2024-05-29T12:18:08+07:00