Sebuah Warisan Kehidupan dalam Panggilan Allah
Artikel kedua puluh ini membahas isi kitab Kisah Para Rasul pasal 28, dan merupakan artikel terakhir dalam seri Paulus kita. Pasal ke-28 kitab tersebut adalah tulisan akhir tabib Lukas tentang kisah awal kekristenan dan perjalanan Paulus. Jika kita cermati, pasal 28 itu berakhir dengan tiba-tiba, tanpa memberikan penutup yang menyebutkan peristiwa kematian Paulus maupun kesimpulan tentang kelanjutan dari pekerjaan Roh Kudus melalui para rasul. Seakan-akan, kisahnya meninggalkan halaman kosong yang harus kita lanjutkan isinya dengan kisah pekerjaan Roh Kudus berikutnya dalam memakai pelayan-pelayan Kristus untuk memberitakan Injil kepada dunia sampai kesudahan zaman. Dan, itulah makna yang kita soroti dalam artikel ini.
Senantiasa dicobai, tetapi selalu disertai
Tuhan yang memanggil dan menetapkan Paulus untuk melakukan pekerjaan-Nya adalah Allah yang setia. Dia selalu meluputkan Paulus dari berbagai ancaman bahaya dan maut selagi Paulus sedang berjalan dalam panggilan-Nya. Pada suatu peristiwa, setelah Paulus dan seisi kapal selamat dari amukan topan badai, akhirnya mereka tiba di daratan. Kata Lukas, “Setelah kami tiba dengan selamat di pantai, barulah kami tahu, bahwa daratan itu adalah Pulau Malta.” Sungguh, janji Tuhan untuk penyertaan kepada orang pilihan-Nya adalah sempurna. Paulus dan rombongannya dapat tiba di pulau Malta dengan selamat, bahkan, “Penduduk pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah mulai hujan dan hawanya dingin.”
Meski begitu, ada saja gangguan Iblis selalu ikut hadir untuk mengganggu pekerjaan Allah. Lukas mencatat, “Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Ketika orang-orang itu melihat ular itu terpaut pada tangan Paulus, mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Orang ini sudah pasti seorang pembunuh, sebab, meskipun dia telah luput dari laut, dia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan.’” Coba Anda bayangkan sebentar, jika Anda adalah Paulus yang sedang diincar maut tiap waktu, apakah Anda akan mengeluh dan bersungut-sungut seakan-akan Tuhan tidak menolong Anda? Paulus tidak demikian. “Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan dia sama sekali tidak menderita sesuatu.” Paulus tidak membuka celah kekecewaan di dalam hatinya agar iblis tidak dapat mencelakai hidupnya. Paulus teguh memercayai kuasa Tuhan untuk melindungi dirinya. Karena iman kepada kuasa Allah itu, racun ular tidak membahayakan dirinya. Orang-orang pun melihat bahwa ancaman maut tidak berkuasa atas Paulus.
Namun, justru karena Paulus lolos dari kematian akibat gigitan ular, godaan berikutnya yang dilancarkan Iblis adalah kesombongan. Paulus disangka dewa oleh orang-orang di sana. “Namun mereka menyangka, bahwa dia akan bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa dia seorang dewa.” Bayangkan sekali lagi jika Anda adalah Paulus, bukankah ini sesuatu yang sangat membanggakan? Sebaliknya, Paulus tidak termakan sanjungan manusia yang kosong itu. Dia tidak terjerumus ke dalam jebakan iblis. Sekali lagi, Paulus menang oleh iman dan keteguhan hatinya.
Pintu-pintu mukjizat terbuka satu demi satu
Setelah mukjizat keselamatan dari topan badai dan keluputan dari maut akibat gigitan ular, Paulus mengalami Tuhan membukakan pintu mukjizat yang lain. Mereka bertemu dan disambut oleh gubernur Pulau Malta. “Tidak jauh dari tempat itu ada tanah milik gubernur pulau itu. Gubernur itu namanya Publius. Dia menyambut kami dan menjamu kami dengan ramahnya selama tiga hari.”
Ketika itu, ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Mukjizat berikutnya terjadi. Paulus masuk ke kamar sang ayah; dia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia. Itulah manifestasi kuasa Allah yang dinyatakan lewat Paulus. Melalui peristiwa ini, banyak orang sakit di pulau itu yang datang kepada Paulus untuk disembuhkan.
Mukjizat demi mukjizat menjadi kesempatan bagi Paulus untuk memberitakan Yesus kepada orang-orang yang dijumpainya. Selama tiga bulan Paulus tinggal di Malta, ketaatan kepada pimpinan dan tuntunan Tuhan terbukti selalu mendatangkan kebaikan baginya.
Tiba di garis akhir
Setelah menyelesaikan segala sesuatunya di Malta, Paulus dan tim berangkat menuju Roma. Sebelum tiba di Roma, mereka singgah di beberapa tempat. Di mana pun Paulus singgah, Tuhan menyertainya selalu, sehingga ada pekerjaan Roh Kudus dan kuasa Tuhan yang dinyatakan.
Setibanya di Roma, Paulus bukan lagi menjadi orang yang bebas, melainkan seorang tahanan. Namun, Paulus tetap mengerjakan pekerjaan Roh Kudus untuk memberitakan Kerajaan Allah seluas-luasnya di mana pun dia berada. Paulus tahu masa hidupnya tak lama lagi. Dalam waktu yang tersisa, Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi untuk berkumpul. Paulus langsung menerangkan dan “memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi dia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore”. Satu hari penuh, Paulus menjelaskan isi kitab Musa, lalu kitab para nabi, hanya dengan maksud meyakinkan tentang Yesus dan Kerajaan Allah. Dari pertemuan tersebut, ada beberapa orang yang diyakinkan dan ada pula yang menolak.
Setelah itu, Paulus tetap dipenjara selama dua tahun, tetapi diperbolehkan menerima tamu dan memberitakan Injil. Sekitar tahun 63, Paulus dibebaskan dan melanjutkan perjalanan pengabaran Injil ke berbagai tempat. Kemudian, Paulus kembali ditangkap sekitar tahun 67 dan dibawa kembali ke Roma. Masa tahanan Paulus berakhir dengan kematiannya sebagai syahid pada masa pemerintahan Kaisar Nero. Peristiwa kematian Paulus ini tidak dicatat di dalam Alkitab, tetapi menurut analisis para ahli sejarah terjadi tak lama setelah penahanannya kembali itu, dengan cara eksekusi penggal. Itu merupakan bentuk hukuman mati yang “ringan”, karena kematian terjadi dengan seketika, yang dianugerahkan atas Paulus karena dia memiliki kewarganegaraan Romawi.
Tugas panggilan Allah kepada Paulus telah dia jalani dengan setia sampai akhir, sekalipun jalannya tidak mudah. Dia harus menghadapi berbagai cercaan, aniaya, dipenjara, hampir mati karena kapalnya harus menghadapi topan badai, hingga akhirnya harus mati syahid. Namun, iman dan kesetiaan Paulus kepada Tuhan tidak gugur. Pantaslah Paulus berkata menjelang kematiannya, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Dia tiba di garis akhir dan sungguh telah memelihara iman. Mahkota telah tersedia baginya.
Kini, kita adalah pelayan-pelayan Kristus yang memiliki warisan kehidupan dari Paulus. Sebuah kehidupan yang total dipersembahkan bagi panggilan Allah. Tongkat estafet itu ada di tangan kita. Allah ingin kita meneruskan pertandingan ini, karena masih banyak orang-orang yang harus kita rebut dari kebinasaan. Itulah sebabnya, Allah mau kita meneruskan Kisah Para Rasul ini dengan kisah kita sendiri bergerak bersama Roh Kudus mengerjakan misi Bapa bagi dunia ini. Biarlah iman dan teladan Paulus ini menjadi cermin bagi kita dalam kita menunaikan panggilan Allah bagi hidup kita. Selamat berkarya bagi Yesus.