//Seri Paulus (9) : Manifestasi Kuasa Roh Kudus yang Tak Terbendung

Seri Paulus (9) : Manifestasi Kuasa Roh Kudus yang Tak Terbendung

Kita telah membaca dari artikel tentang Paulus dalam edisi e-Build! yang lalu bahwa terjadi kegemparan di kota Efesus karena mukjizat yang terjadi atas nama Tuhan. Kuasa Roh Kudus bekerja dengan dahsyat sehingga banyak orang bertobat dan menjadi percaya kepada Tuhan. Itulah yang disebut kebangunan rohani! Tidak ada kuasa apa pun yang bisa menghentikan kuasa Tuhan. Setelah itu, buah-buah pertobatan yang ditunjukkan oleh orang-orang yang baru percaya Yesus itu benar-benar meruntuhkan kepercayaan lama mereka kepada berhala dan ilah-ilah palsu sehingga mereka mengerti bahwa dasar kepercayaan lama mereka itu hanyalah tipuan iblis. Itulah sebabnya, mereka berani mengaku di depan umum bahwa kuasa yang mereka percayai selama ini berasal dari iblis, dan dengan demikian nama Tuhan makin dimasyhurkan. Lukas mencatat efek ini, “Dengan jalan ini makin tersiarlah Firman Tuhan dan makin berkuasa,” (Kis. 19:20).

Dalam edisi ini, kita akan terus mengikuti pekerjaan Roh Kudus yang penuh kuasa dalam pelayanan Paulus selanjutnya.

 

Kemenangan Kuasa Roh Kudus atas Tipuan Iblis

Setelah dua tahun memberitakan Kerajaan Allah di Efesus, Paulus memutuskan untuk melanjutkan perjalanan misinya ke Yerusalem. Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Paulus akan singgah di Makedonia dan Akhaya untuk berkunjung sejenak. Setelah itu, Paulus juga akan singgah di kota Roma. Untuk keperluan itu, dia mempersiapkan dua orang muridnya, yaitu Timotius dan Erastus untuk mendahuluinya ke Makedonia, sementara Paulus sendiri tetap tinggal dulu di Efesus. Dengan demikian, kedua muridnya dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik sebelum Paulus tiba nanti.

 

Dalam persiapan kelanjutan perjalanan Paulus dari Efesus ke Yerusalem dengan setiap persinggahan yang direncanakan itu, tentu ada faktor serangan balik. Iblis tidak suka jika manusia berbalik dari dia sehingga memperoleh keselamatan dalam Yesus. Maka, dia merancang hal-hal jahat melalui Demetrius, seorang tukang perak yang tinggal di Efesus. Lukas menuliskan peristiwa yang terjadi, “Kira-kira pada waktu itu timbul huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan,” (Kis. 19:23). Demetrius adalah pekerja pembuat kuil-kuilan Dewi Artemis dari bahan perak, dan usaha produksi dan penjualan benda-benda berhala ini telah lama mendatangkan penghasilan bagi tukang-tukangnya. Namun saat itu usahanya hampir bangkrut karena banyak orang yang bertobat dan percaya kepada Tuhan, serta meninggalkan kepercayaan lama mereka kepada berhala. Karena itulah, Demetrius memprovokasi dan memfitnah Paulus bahwa Paulus telah menyesatkan banyak orang agar tidak lagi menyembah Dewi Artemis. Melalui fitnahnya itu dia memicu huru-hara dan menghasut orang-orang Efesus bahwa Paulus telah menyebabkan Dewi Artemis dianggap remeh dan kebesarannya diinjak-injak.

 

Penduduk Efesus termakan hasutan Demetrius; mereka marah dan akhirnya seluruh kota menjadi kacau. Mata orang-orang Efesus saat itu telah dibutakan oleh setan, sehingga mereka tak melihat terang dari Allah dalam Yesus. Kerusuhan pun pecah. Orang-orang menangkap Gayus dan Aristarkhus karena dianggap bersekongkol dengan Paulus, menyeret kedua orang tersebut ke gedung kesenian, dan menghakimi keduanya. Saat itu Paulus ingin mengikuti Gayus dan Aristarkhus, tetapi banyak orang melarangnya. Bahkan, beberapa pembesar yang bersahabat dengan Paulus pun tidak mengizinkan Paulus datang ke gedung tersebut.

 

Di dalam gedung kesenian, suasana sangat kacau. Orang banyak berteriak-teriak dengan tidak jelas dan kebanyakan mereka juga tidak tahu untuk apa mereka berkumpul. Mereka bagaikan kerasukan, karena dibutakan oleh Iblis yang mengacaukan pikiran mereka. Benarlah yang Paulus tuliskan tentang musuh yang dihadapi orang percaya, “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Kor. 10:3-5).

 

Dalam suasana yang kacau itu, panitera kota berusaha mengusulkan tindakan yang lebih tenang kepada para demonstran yang rusuh itu, “’Dan jika ada sesuatu yang lain yang kamu kehendaki, baiklah kehendakmu itu diselesaikan dalam sidang rakyat yang sah. Sebab kita berada dalam bahaya akan dituduh, bahwa kita menimbulkan huru-hara pada hari ini, karena tidak ada alasan yang dapat kita kemukakan untuk membenarkan kumpulan yang kacau-balau ini.’ Dan dengan kata-kata itu ia membubarkan kumpulan rakyat itu,” (Kis. 19:39-40). Para perusuh bubar, karena Roh Kudus bergerak melalui peran sang panitera kota. Kuasa Roh Kudus mengalahkan muslihat Iblis.

 

“Setelah reda keributan itu, Paulus memanggil murid-murid dan menguatkan hati mereka. Dan sesudah minta diri, ia berangkat ke Makedonia,” (Kis. 20:1). Paulus dan murid-murid Kristus kembali ke misi mereka. Pelayanan kepada misi Allah harus tetap berjalan, oleh kuasa Roh Kudus yang senantiasa bekerja.

 

 

Gerakan Roh Kudus di Hati yang Tulus kepada Jemaat

Roh Kudus dalam penyertaan-Nya di setiap langkah orang percaya bukan hanya bekerja untuk memerangi musuh-musuh Allah, tetapi juga bekerja di dalam hati orang percaya itu sendiri. Paulus pun mengalaminya.

 

Sebagai rasul yang juga bapa rohani bagi jemaat, Paulus adalah sosok bapa yang penuh perhatian, sekaligus penanam yang selalu memperhatikan pertumbuhan benih-benih yang telah ditanamnya. Ketika masih berada di Efesus, Paulus sempat mendapat kabar yang tidak enak dan mengganggu dia tentang kondisi jemaat di Korintus. Sepucuk surat tiba di tangannya dari utusan jemaat Korintus, yang isinya memohon petunjuk Paulus atas berbagai persoalan yang terjadi. “Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloë tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu,” (1 Kor. 1:11). Dalam hati Paulus yang tulus mengasihi jemaat Korintus, Roh Kudus bekerja. Pekerjaan Roh Kudus itu membuat Paulus menunjukkan perhatian khusus kepada persoalan jemaat Korintus, melalui nasihat yang ditulisnya dalam surat dari Efesus, yang kemudian menjadi kitab 1 Korintus.

 

Kata Paulus, “Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama,” (1 Kor. 5:9-11).

 

Paulus memberikan nasihatnya dengan rinci melalui surat-suratnya kepada orang-orang kudus di kota Korintus agar jemaat di Korintus tetap berdiri teguh dengan iman mereka dan tidak ada satupun yang gugur. Semua dilakukan Paulus agar benih yang telah ditabur dapat tumbuh dan berbuah lebat. Itulah gerakan Roh Kudus yang termanifestasi keluar lewat pelayanan yang Paulus lakukan bagi Tubuh Kristus. Marilah kita juga tetap memiliki hati yang berkobar-kobar untuk membawa banyak jiwa-jiwa kepada Kristus dan melayani jiwa-jiwa itu dalam pertumbuhan rohani mereka. Dalam edisi e-Build! berikutnya, kita akan mengikuti kelanjutan langkah pelayanan Paulus.

2023-12-21T14:01:56+07:00