//Seri Paulus : Keberanian Seorang Saksi Kristus

Seri Paulus : Keberanian Seorang Saksi Kristus

Menghadapi Apa pun dan Siapa pun karena Kristus

Menjadi saksi dan pelayan Kristus adalah tanggung jawab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sejak edisi-edisi lalu, kita melihatnya dalam kehidupan Paulus. Kini dalam artikel ke-16 seri Paulus, kita akan mengamati secara khusus keberaniannya sebagai saksi Kristus.

 

Dipenjara, Disasar untuk Dibunuh, Dikenai Dakwaan Palsu

Sebelumnya, kita tahu Paulus ditahan di Kaisarea dibawah pengawasan Gubernur Feliks. Namun setelah dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus sebagai gubernur yang baru, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, sang gubernur baru membiarkan Paulus tetap dalam penjara.

Selanjutnya dalam Kisah Rasul pasal 25-26 tercatat, “Tiga hari sesudah tiba di provinsi itu berangkatlah Festus dari Kaisarea ke Yerusalem.” Di Yerusalem itulah, Festus bertemu dengan para imam dan orang-orang Yahudi terkemuka, yang walaupun waktu sudah lewat dua tahun mereka tetap ingin mendakwa Paulus; bahkan, mereka berencana untuk membunuh Paulus dengan suatu pengaturan skenario perjalanan. Syukurlah, Tuhan membimbing Festus untuk menolak siasat jahat itu. Tuhan membuktikan Dia berdaulat atas kehidupan setiap hamba-Nya. Dia selalu melingkupi Paulus dengan kasih setia-Nya sehingga terluput dari rencana-rencana orang-orang jahat. Paulus lolos dari siasat pembunuhan. Hal ini terbukti dari terhindarnya Paulus dari rencana-rencana jahat.

Selepas itu, Festus menyuruh “orang-orang berwewenang” untuk menyertai dirinya kembali ke Kaisarea untuk mengajukan dakwaan terhadap Paulus. Sesudah Festus kembali di Kaisarea, dia mengadakan sidang dan menyuruh agar Paulus dibawa menghadap di sidang itu. Datanglah pula semua orang Yahudi dari Yerusalem, yang mengemukakan banyak tuduhan palsu terhadap Paulus. Paulus pun membela diri, karena memang dia tidak bersalah dalam segala hal yang dituduhkan. “Aku sedikit pun tidak bersalah, baik terhadap hukum Taurat orang Yahudi maupun terhadap Bait Allah atau terhadap Kaisar.” Paulus menyatakan dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun terhadap orang Yahudi maupun hukum mereka, bahkan dia sesungguhnya memelihara hukum moral. Demikian pula, baginya hukum Taurat itu kudus, baik, dan rohani, mengungkapkan watak Allah dan menuntut hidup yang benar. Di sisi lain, dia mengakui tidak menaati hukum Taurat sebagai kitab undang-undang atau patokan untuk menentukan status kebenarannya, karena hidup benar memerlukan karya Roh Kudus. Paulus menyatakan diri tidak bersalah, tetapi tegas menyatakan prinsip kebenaran yang dipegangnya.

Perdebatan yang tidak berujung dalam sidang itu akhirnya ditutup dengan keputusan Festus yang “cari aman”. Demi mengambil hati orang-orang Yahudi, Festus memutuskan untuk menyidangkan Paulus di Yerusalem. Namun, Paulus menolaknya. Dia justru mengajukan naik banding kepada Kaisar. Jadilah, Paulus diperhadapkan kepada Kaisar.

 

Diperbincangkan para Pejabat Tinggi karena Kebenaran

Mungkin orang sulit memahami mengapa Paulus rela dan berani dalam proses yang begitu panjang dan rumit dalam membela kebenaran Kristus. Namun, Paulus merasa hidupnya telah menjadi milik Kristus. Dia tetap berpegang pada janji Kristus, bahwa dirinya adalah “alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”, dalam melewati segala sesuatunya. Karena janji itulah, Paulus setia menyelesaikan panggilan-Nya.

Di luar pengetahuan Paulus, saat itu sebenarnya Raja Agripa dan Bernike datang mengunjungi Festus yang baru diangkat menjadi gubernur. Kunjungan itu menjadi kesempatan bagi Gubernur Festus untuk menceritakan perihal Paulus kepada Raja Agripa. Rupanya, karena Festus pun tidak menemukan celah kesalahan pada diri Paulus meskipun orang Yahudi melemparkan tuduhan-tuduhan palsu, Festus bercerita panjang lebar dengan penuh semangat. Mendengar semua celoteh Festus tentang Paulus itu, Raja Agripa menjadi penasaran. Dia pun meminta kepada Festus untuk bertemu langsung dengan Paulus, “Aku ingin mendengar orang itu sendiri.”

 

Memberi Kesaksian di Hadapan Raja

Keesokan harinya, persidangan kembali dibuka. Paulus diperhadapkan dengan Raja Agripa dan Bernike. Persidangan itu tentu mendebarkan hati Paulus, tetapi kita tahu dia tetap teguh meyakini, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” (Flp. 4:13).

Kita percaya bahwa ketika Allah telah membuka pintu, tidak seorang pun dapat menahan atau menutup pintu tersebut. Tuhan memakai orang-orang yang memiliki otoritas untuk menyelamatkan Paulus dalam masa kesesakan, seperti sebelumnya Dia telah memakai Festus untuk membantu Paulus memberi “sedikit” kesaksian jujurnya kepada Raja Agripa dan Bernike, “Tetapi ternyata kepadaku, bahwa dia tidak berbuat sesuatu pun yang setimpal dengan hukuman mati dan karena dia naik banding kepada Kaisar, aku memutuskan untuk mengirim dia menghadap Kaisar. Tetapi tidak ada apa-apa yang pasti yang harus kutulis kepada Kaisar tentang dia.”

Oleh karena kesaksian Festus itulah, Raja Agripa mempersilakan Paulus berbicara. Paulus membeberkan akar persoalannya, sehingga Festus bisa meletakkan duduk perkara pada posisi yang benar. “Semua orang Yahudi mengetahui jalan hidupku sejak masa mudaku, … Dan sekarang aku harus menghadap pengadilan oleh sebab aku mengharapkan kegenapan janji, yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita, dan yang dinantikan oleh kedua belas suku kita, sementara mereka siang malam melakukan ibadahnya dengan tekun. Dan karena pengharapan itulah, ya Raja Agripa, aku dituduh orang-orang Yahudi.” Paulus menunjukkan bukti-bukti yang akurat dalam kasusnya.

Tidak hanya itu, Paulus bahkan dengan penuh semangat memakai kesempatan itu untuk bersaksi tentang panggilan Tuhan dalam perjalanannya menuju Damsyik, pertobatannya, dan imannya tentang Tuhan Yesus. Di hadapan sang raja pun Paulus tidak takut atau gentar untuk memberitakan nama Yesus. Kesaksian itu sungguh berkuasa dan membuat mata para pendengarnya terbelalak, termasuk Raja Agripa yang berseru, “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” Komentar itu menghentikan kesaksian Paulus, tetapi sikap Paulus tetap sama. Jawab Paulus, “Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.” Paulus justru tegas menyatakan harapan dan doanya agar mereka semua pun menjadi orang percaya!

Saat berada dalam masa yang sulit, Paulus justru berdoa bagi keselamatan orang-orang yang menyulitkannya, supaya ada pertobatan bagi mereka sehingga mereka memperoleh keselamatan di dalam Kristus. Paulus senantiasa teguh dalam keberaniannya, menghadapi apa pun dan siapa pun karena Kristus. Bagaimana dengan kita sendiri? Setiap murid Kristus seharusnya pun sama, membawa kesaksian Kristus di mana pun dan kapan pun, supaya makin banyak jiwa diselamatkan serta menjadi murid-Nya. Mari kita teladani Paulus dalam keberaniannya sebagai saksi Kristus, dan terus nantikan kelanjutan pembelajaran dari kehidupan Paulus pada edisi selanjutnya.

 

2024-07-26T11:09:49+07:00