Menjalankan Setiap Tugas Ilahi tanpa Memikirkan Risikonya
Pada edisi yang lalu, kita melihat bagaimana Paulus berani bersaksi di hadapan Perkius Festus dan Agripa. Kali ini, kita akan mengamati alasan di balik keberanian Paulus itu, yaitu yang ditulisnya sendiri, “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus,” (Gal. 1:11-12). Ternyata, Paulus menerima tugas-tugas ilahi yang dijalankannya dengan penuh ketaatan itu karena dia memandangnya sebagai mandat surgawi dari Allah sendiri. Mandat itu diterimanya saat berjumpa dengan Yesus, dan baginya wajib dilaksanakan atau ditaati.
Ketaatan yang Serius dan Sungguh-Sungguh
Banyak orang Kristen rindu untuk mengalami pengalaman seperti Paulus dalam hal penyertaan Tuhan. Namun, kita harus menyadari bahwa Paulus mengalami semua itu sebagai bagian dalam konteks dia menerima mandat dari Tuhan, sesuai yang kita baca dalam kitab Galatia sebelumnya. Karena mandat dan tugas dari Tuhan berbeda-beda kepada masing-masing murid-Nya, tentu pengalaman kita masing-masing dalam hal penyertaan Tuhan juga berbeda-beda.
Paulus sendiri menjelaskan mandat surgawi yang diterimanya dalam kesaksiannya, yaitu tentang ketika dia bertemu Yesus dan mendengar suara, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.” Paulus sempat bertanya dan mendengar Tuhan menjawab, “Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.” Setelah Tuhan menyatakan siapa diri-Nya, Paulus mendapat mandat surgawi itu. Tuhan menggunakan hak prerogatif-Nya atas Paulus. “Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.” Bagi Paulus, tidak mungkin untuk menolak mandat dari surga itu.
Kemudian, Tuhan menambahkan perintah lain kepada Paulus. Lukas mencatatnya dalam Kisah Para Rasul, bahwa Tuhan berkata, “Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.” Paulus diberi tugas untuk membuka mata rohani orang-orang terlebih dahulu, sebelum orang-orang itu dapat datang kepada terang pengenalan akan Tuhan. Tugas itu Tuhan berikan karena mata rohani orang-orang memang masih tertutup dan buta, sehingga mereka tidak bisa berbalik dari kegelapan kepada terang. Jika mata mereka sudah celik, mereka bisa berbalik dari kuasa iblis kepada terang Kristus. Itulah tugas Paulus yang berikutnya.
Paulus juga ditugasi untuk membawa orang-orang yang mata rohaninya sudah celik itu untuk berbalik dari iblis kepada Allah. Paulus menganggap tugas itu sangat serius dan dia taat dengan sungguh-sungguh menjalankannya. Dia memaparkan senjatanya dalam menjalankan tugas itu, “… karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” (2 Kor. 10:4-5). Dengan ketaatan yang serius dan sungguh-sungguh, Paulus mempraktikkan kuasa Allah dalam tugas ilahi yang dijalankannya.
Ketaatan yang Segera dan Tanpa Hitung-hitungan
Di sisi lain, kita perlu memperhatikan pula bahwa sekalipun mandat dari surga itu luar biasa, tugas ilahi yang terkait bisa berjalan karena keputusan Paulus untuk taat dalam menerima mandat itu. Paulus taat dengan segera dan tanpa hitung-hitungan dalam sepanjang perjalanan pelayanannya. Ketaatan itu pun diakuinya dengan tegas saat bersaksi di hadapan Raja Agripa, “Sebab itu, ya Raja Agripa, kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat.” Keputusan yang luar biasa! Sungguh berbeda dengan sikap kebanyakan orang Kristen saat menerima panggilan Tuhan, yang cenderung banyak menimbang-nimbang dan menunda-nunda. Paulus menjelaskan keputusannya yang bulat itu untuk taat, “Tetapi waktu Dia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia,” (Gal. 1:11-12, 15-16).
Selanjutnya, Paulus tidak menunggu untuk mendapat tugas yang besar dan spektakuler dahulu untuk mulai taat. Dia taat segera mulai dari perkara-perkara yang kecil. Proses langkah ketaatannya pun dia jelaskan, “Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Banyak orang Kristen pada zaman ini taat kepada panggilan hanya jika ditugasi melakukan hal-hal yang luar biasa. Biarlah kita tidak lupa bahwa Paulus saja memulai ketaatannya dengan melakukan perkara-perkara yang kecil dan sederhana. Prinsip Paulus ini layak untuk kita teladani, karena sesuai dengan ajaran Yesus sendiri, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, dia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, dia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar,” (Luk. 16:10). Tuhanlah yang akan membawa kita naik tingkat dari perkara-perkara kecil ke perkara-perkara besar.
Mari, jika kita pun telah menerima tugas dan panggilan Allah di dalam hidup kita, kita harus taat untuk melakukannya, dengan serius dan sungguh-sungguh, dengan segera tanpa hitung-hitungan memikirkan risikonya. Itulah teladan Paulus yang kita pelajari dari ini dalam menghargai mandat surgawi yang diterimanya dari Tuhan. Penyertaan Tuhan yang sama hebatnya, meski mungkin dengan wujud pengalaman yang berbeda-beda juga tersedia bagi kita. Allah pasti melindungi kita dan menyertai kita untuk menggenapi rencana yang telah Dia rencanakan dalam kita. Hari ini, ambillah keputusan penting ini: taat untuk melakukan apa pun yang ditugaskan oleh Allah.
Selamat berjalan dalam ketaatan, dan sampai jumpa di artikel berikutnya pada edisi yang akan datang.