Berjalan dalam Takut dan Hormat akan Panggilan dan Pimpinan Tuhan
Sebelumnya pada edisi bulan lalu, kita menemukan alasan-alasan Paulus memberitakan Injil. Oleh alasan-alasan itulah Paulus berani berkata, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” Dia menganggap kegagalan atau kelalaian memberitakan Injil sebagai suatu petaka. Kali ini, kita akan mengamati betapa prinsipnya itu membawanya melangkah tanpa tergoyahkan dalam memenuhi panggilan Tuhan, dengan rasa takut dan hormat terhadap pimpinan Tuhan. Kisahnya terdapat dalam Kisah Para Rasul pasal 27.
Memercayakan Diri di Bawah Kendali Tuhan
Meskipun dituntun oleh Roh Kudus, Paulus tidak bertindak semaunya. Dia mempercayakan dirinya di bawah kendali Tuhan, yakni lewat otoritas di atasnya. Kala itu, Paulus menjadi salah satu tahanan, dan yang berwenang untuk memutuskan segala hal atas dirinya adalah pejabat terkait. “Setelah diputuskan, bahwa kami akan berlayar ke Italia, maka Paulus dan beberapa orang tahanan lain diserahkan kepada seorang perwira yang bernama Yulius dari pasukan Kaisar. Kami naik ke sebuah kapal dari Adramitium yang akan berangkat ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Asia, lalu kami bertolak,” (Kis. 27:1-2). Dalam perjalanan itu, mereka tidak sendirian; Aristarkhus dari Tesalonika menyertai mereka. Lalu, pada keesokan harinya mereka singgah di Sidon. Mungkin karena sikap Paulus santun, bahkan disertai penundukan diri yang didasari takut dan hormatnya kepada Tuhan, di kapal itu “Yulius memperlakukan Paulus dengan ramah dan memperbolehkannya mengunjungi sahabat-sahabatnya, supaya mereka melengkapkan keperluannya”.
Paulus adalah utusan Allah, yang jelas mengenal tuntunan Allah bagi setiap langkahnya, tetapi dia tidak memberontak kepada otoritas yang berkuasa atas dirinya. Paulus mengerti bahwa Allah berdaulat penuh atas kehidupan manusia. Panggilan-Nya yang diberikan kepada Paulus adalah kehormatan yang harus dilaksanakannya dengan mengikuti kedaulatan Allah itu. Dari sudut pandang ini, kita pun dapat mengerti mengapa Tuhan berbicara lewat Ananias kepada Paulus, “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar,” (Kis. 22:14-15). Karena mengerti kehendak Allah, Paulus dapat tegas menyatakan prinsipnya, “Berilah rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.”
Akibat Nasihat Ilahi Diabaikan
Dalam perjalanan berlayar itu, tanpa diduga oleh seisi kapal, angin sakal bertiup membawa kapal itu sehingga terpaksa menyusur pantai Siprus. Tercatat peristiwanya, “Dan setelah mengarungi laut di depan Kilikia dan Pamfilia, sampailah kami di Mira, di daerah Likia. Di situ perwira kami menemukan sebuah kapal dari Aleksandria yang hendak berlayar ke Italia. Dia memindahkan kami ke kapal itu.”
Ketika mereka berupaya melanjutkan perjalanan, kapal hampir-hampir tidak bisa maju. Dengan susah payah, kapal itu mendekati Knidus di tengah terpaan angin yang membuat arah kapal terombang-ambing. Kapal pun menyusur pantai Kreta melewati tanjung Salmone, lalu harus dengan sangat sulit melewati tanjung itu untuk dapat sampai di Pelabuhan Indah, dekat kota Lasea.
Pada saat itulah, Paulus memberikan nasihat ilahi, yang sebenarnya sangat berharga untuk perjalanan itu. Sayang, nasihat ilahi itu diabaikan oleh perwira yang mengawal mereka. Kata Paulus, “Saudara-saudara, aku lihat, bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita.” Namun, perwira yang mengawal mereka lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda, dan mengabaikan nasihat yang diberikan Paulus. Mereka berpendapat bahwa tidak baik untuk tinggal di pelabuhan itu selama musim dingin, maka mereka berlayar terus dan mencoba mencapai kota Feniks, yang lebih layak untuk ditinggali.
Lukas menulis kelanjutan kejadiannya, “Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin ‘Timur Laut’. Kapal itu dilanda angin kencang dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing.” Kapal hanyut ke pantai Kauda dan para awak kapal berjuang keras menguasai sekoci kapal. Namun, kapal terus saja terombang-ambing. Akhirnya, mereka membuang alat-alat kapal dan selama beberapa hari matahari dan bintang tidak kelihatan. Seisi kapal terjebak dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya maut karena mengabaikan nasihat ilahi.
Kunjungan Malaikat Utusan Allah
Dapatkah Anda membayangkan jika Anda sendiri berada dalam keadaan yang demikian? Putus harapan untuk bertemu kembali dengan keluarga, bayangan kematian sudah di depan mata, dan persediaan makanan sudah pasti tak cukup untuk semua orang bertahan hidup. Pada saat yang menakutkan itu, berdirilah Paulus. Dia menyuarakan nasihat ilahi berikutnya dan menenangkan kepanikan yang terjadi di dalam kapal tersebut, “Saudara-saudara, jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini!” Seketika itu, semua orang di kapal terdiam. “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini,” lanjut Paulus.
Pertanyaannya, bagaimana Paulus bisa begitu yakin, bahwa meyakinkan seluruh penghuni kapal tersebut yang sedang panik? Jawabannya adalah pesan Tuhan sendiri yang diterimanya melalui malaikat utusan Tuhan sebelumnya. Paulus bercerita tentang pesan Tuhan itu, “Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, dan dia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.” Karena mendengar jaminan kehidupan itu, mulai muncul harapan di hati orang-orang. Rencana Allah adalah Paulus harus menghadap kaisar, dan mereka semua bagian dari rencana Allah itu. Jelaslah, semua orang pasti selamat dari badai.
Pesan Tuhan melalui malaikat-Nya itu adalah bagian dari seluruh rencana-Nya atas Paulus. Awal rencana itu disampaikan lewat Ananias, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus dia tanggung oleh karena nama-Ku,” (Kis. 9:15-16). Bertolak dari titik awal itulah, Paulus selalu yakin bahwa Tuhan menjamin langkah-langkahnya. Dia tahu dia harus menghadap Kaisar, maka dia yakin angin badai pun tak bisa menggagalkannya. Paulus menghidup kebenaran yang pernah dicatat dalam kitab Mazmur, “Ingatlah Firman yang Kaukatakan kepada hamba-Mu, oleh karena Engkau telah membuat aku berharap. Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku,” (Mzm. 119:49-50).
Di sisi lain, karena mereka yang ada di dalam kapal adalah orang-orang yang belum percaya, maka mereka berusaha untuk kabur ke darat. Karena itu, Paulus berpesan kepada perwira dan prajurit-prajurit, “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.” Alhasil, mereka memotong tali sekoci dan membiarkan kapal hanyut. Di tengah situasi yang secara manusiawi makin mencekam itu, Paulus kembali menyuarakan nasihat, “Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.”
Ketika Paulus bertindak dalam ketaatan yang teguh pada pimpinan Tuhan, tindakan Paulus itu membangkitkan ucapan syukur kepada Allah. Kali ini, orang-orang di kapal menyambut baik nasihatnya. Kemudian, “… dia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. Maka kuatlah hati semua orang itu, dan mereka pun makan juga.” Pada akhirnya, kepercayaan Paulus untuk tetap berpegang pada janji Tuhan membawa seisi kapal, yaitu 276 orang, selamat dan mencapai daratan tanpa celaka.
Selanjutnya, bagaimana akhir perjalanan misi Paulus menggenapi rencana Tuhan sesampainya dia di Roma? Nantikan artikel berikutnya di eBuild! edisi berikutnya.