//Seri Paulus : Mengajar dengan Kuasa Mukjizat, Memimpin dengan Otoritas Roh

Seri Paulus : Mengajar dengan Kuasa Mukjizat, Memimpin dengan Otoritas Roh

Pelayanan Paulus untuk jemaat di Roma dan jemaat di Efesus

Dalam edisi ini, kita mengikuti kelanjutan karya pelayanan Paulus, khususnya untuk jemaat di Roma dan jemaat di Efesus. Dari hati yang berkobar-kobar untuk membawa banyak jiwa kepada Kristus, Paulus setia melayani jiwa-jiwa dalam pertumbuhan rohani mereka dan memastikan bahwa mereka menjadi murid Kristus yang sejati. Kita akan menyoroti bagaimana dalam pelayanannya itu Paulus mengajar dengan kuasa mukjizat dan memimpin dengan otoritas Roh.

 

 

Tak Gentar oleh Kekuatan Kasih kepada Jiwa-Jiwa

Dari Filipi, Paulus mengutus para muridnya untuk berangkat lebih dahulu dan menantikan dia di Troas. Lukas mencatat, “Sesudah hari raya roti tidak beragi kami berlayar dari Filipi dan empat hari kemudian sampailah kami di Troas dan bertemu dengan mereka. Di situ kami tinggal tujuh hari lamanya.” Patut kita ingat bahwa orang-orang yang ada di Troas itu adalah yang telah berusaha membunuh dia sebelumnya. Paulus tetap datang dan tinggal selama tujuh hari di sana, tanpa ragu atau gentar, karena cintanya kepada jiwa-jiwa yang belum diselamatkan.

Dari kota Troas inilah Paulus menulis surat untuk jemaat di Roma, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya yang secara jasmani berasal dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita,” (Roma 1:1-4).

 

Paulus menjelaskan alasan penting mengapa kita seharusnya tidak menyerah kepada keadaan. “Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.  Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang yang dibenarkan karena imannya, akan hidup.’,” (Roma 1:15-17). Paulus tetap bersemangat untuk melayani jiwa-jiwa dan tidak bisa dihentikan oleh apa pun.

 

 

Mukjizat kebangkitan Eutikhus dari kematian

Lukas mencatat yang Paulus lakukan selanjutnya, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara seiman di situ, karena dia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu,” (Kis. 20:7-8). Khotbah di gereja-gereja zaman sekarang hanya berlangsung kira-kira 30-45 menit, tetapi saat itu tidak demikian. Para murid Paulus dan Gereja mula-mula tidak memedulikan waktu dalam kehausan mereka untuk belajar dari Firman Tuhan. Tanpa mereka sangka-sangka, malam itu Tuhan melakukan mukjizat melalui pelayanan Paulus saat mengajar.

Ayat-ayat selanjutnya dalam catatan Lukas menceritakan, “Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya dia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika dia diangkat orang, dia sudah meninggal,” (Kis. 20:9). Rupanya, kabar kematian itu pun tidak menghentikan Paulus. Dia turun ke bawah, merebahkan diri ke atas jasad Eutikhus, lalu mendekap dan membangkitkan dia kembali dari kematian. Mukjizat terjadi oleh kuasa Tuhan. Eutikhus hidup kembali.

 

Itu adalah pengalaman yang luar biasa bagi seluruh murid yang hadir malam itu. Setelah mukjizat itu, Paulus kembali di ruang atas dan memecah-mecahkan roti untuk mereka makan bersama lalu dengan penuh semangat melanjutkan pengajarannya sampai fajar menyingsing. Kemudian, dia berangkat lagi meneruskan perjalanannya. Karena menyaksikan kuasa Tuhan dalam mukjizat kebangkitan itu, para murid mengantarkan Eutikhus kembali ke rumahnya dan melepas kepergian Paulus dengan hati berkobar-kobar. Mereka semua merasa sangat terhibur dan dikuatkan.

 

Paulus berjalan kaki melalui darat ke pelabuhan Asos, sedangkan Lukas dan yang lain naik kapal untuk berlayar ke Asos. Paulus naik kapal di Asos dan melanjutkan pelayarannya ke Metilene. Mereka melewati pulau Khios menuju Samos dan tiba di Miletus. Paulus tidak singgah di Efesus dan akan berada di Yerusalem di hari raya Pentakosta, maka dia menyuruh orang dari Miletus ke Efesus agar para penatua jemaat datang ke Miletus, karena dia bermaksud memberikan petunjuk penting untuk jemaat di Efesus.

 

 

Petunjuk Kepemimpinan bagi para Penatua Jemaat

Paulus menyuruh para penatua di Efesus datang dan bertemu dia di Miletus, supaya diberi beberapa petunjuk untuk melayani jemaat di Efesus. Inilah sekilas pelayanan Paulus dalam memberi petunjuk kepada para penatua jemaat itu:

 

  1. Sebagai hamba Tuhan. Paulus melayani Tuhan dengan kerendahan hati. Dia banyak mencucurkan air mata dan sabar ketika banyak mengalami pencobaan dari semua pihak (Kis. 20:19). Dengan demikian, para penatua jemaat yang juga murid-muridnya itu memiliki gambaran yang jelas tentang bagaimana menjadi seorang hamba Tuhan.

 

  1. Sebagai guru. Sebagai seorang guru, dia menjelaskan tentang semua yang berguna kepada para muridnya, bahkan dia tak pernah lalai memberitakan dan mengajarkan kebenaran kepada mereka. Paulus benar-benar memberitakan seluruh maksud Allah (Kis. 20:20, 27) tanpa mengurang-ngurangi. Dari hal ini kita pun belajar hal yang penting untuk kita pun tidak lalai mengajarkan kebenaran atau berkompromi terhadap Firman Tuhan.

 

  1. Sebagai pemberita Injil. Tujuan Paulus untuk bersaksi adalah agar orang-orang bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Kis. 20:21, 26). Maksud dan niatnya tidak lain adalah memberitakan Injil, bukan menaikkan pamornya atau mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Dalam melayani, dia bersih di hadapan manusia dan di hadapan Allah.

 

  1. Sebagai teladan. Paulus melayani dengan memberikan contoh dan teladan kepada para muridnya. Dia tidak pernah menginginkan perak atau emas atau pakaian yang bagus, tidak pernah mencari kemewahan atau kenikmatan bagi dirinya sendiri. Dia bahkan bekerja sendiri untuk memenuhi keperluannya dan keperluan teman-teman pelayanannya. Semua cara hidupnya ini memberi teladan baik kepada para muridnya (Kis. 20:33-35).

 

Dalam pelayanannya memberi petunjuk kepada para penatua jemaat Efesus, Paulus memberikan pandangannya tentang masa kini dan tentang masa depan, agar kita senantiasa siap sedia, setiap waktu. Tentang masa kini, jika kita hidup dalam pimpinan Roh, ada beberapa hal terjadi menurut petunjuk Paulus:

 

  1. Roh Kudus memimpin hidup kita. Paulus berkata, “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. … Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah,” (Kis. 20:22-23, 25). Paulus menunjukkan bahwa dalam pimpinan Roh, kita harus siap menghadapi situasi apa pun.

 

  1. Roh Kudus mengawasi jalan hidup kita. Paulus memberikan bimbingannya dengan peringatan tegas, “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. … Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka,” (Kis. 20:28, 30). Ini berarti kita sebagai pemimpin dan pelayan yang dipercayakan jemaat Tuhan harus berhati-hati untuk bertindak. Kita harus mengawasi mereka yang kita muridkan.

 

Selain tentang masa kini, Paulus juga memberikan tinjauan akan masa depan. Dia berkata, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah,” (Kis. 20:24). Kita harus berjaga-jaga dan tak berhenti menasihati orang-orang yang kita muridkan, sehingga kita berani berkata seperti Paulus, “Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya,” (Kis. 20:32).

 

Dari pelayanan Paulus ini, marilah kita menempa kembali semangat kita untuk berlomba-lomba mengejar panggilan Allah dalam kita dan memuridkan orang lain yang perlu dimuridkan. Di artikel kesebelas dalam edisi mendatang, kita akan belajar lebih banyak lagi dari pelayan Tuhan yang luar biasa ini.

2024-01-31T11:52:54+07:00