//Seri Paulus : Perjalanan Misi Paulus yang Kedua

Seri Paulus : Perjalanan Misi Paulus yang Kedua

Dalam sebuah tim pelayanan, masing-masing orang memiliki karakter dan pendapat berbeda, dan begitu pula halnya dengan Paulus dan Barnabas. Walau mereka diutus Roh Kudus, konflik pun terjadi di antara mereka. Sebelum melakukan perjalanan misi yang kedualah konflik terjadi di antara Paulus dan Barnabas. Saat itu Paulus dan Barnabas akan mengunjungi kembali kota-kota yang pernah disinggahi sebelumnya. Barnabas hendak mengajak Markus kembali ikut serta, tetapi Paulus menolaknya karena Markus pernah mundur di tengah perjalanan sebelumnya.

 

Memulai perjalanan: konflik tajam yang berakhir dengan indah

Akibat perbedaan pendapat yang tajam, akhirnya Paulus dan Barnabas berpisah (Kis. 15:33-41). Barnabas membawa Markus berlayar ke Siprus karena dia melihat potensi ilahi di dalam dirinya; mungkin sama seperti sebelumnya dia pernah melihat potensi ilahi di dalam diri Paulus yang baru bertobat, sehingga dia rajin mengajak Paulus ke hadapan para rasul lainnya agar diterima dalam pelayanan bersama. Alhasil atas bimbingan Barnabas, Markus dibentuk dan bertumbuh dewasa. Kita bisa menikmati buahnya sampai hari ini, yaitu kitab Injil Markus. Di sisi lain, Paulus memandang bahwa misi adalah sesuatu yang sangat serius dan membutuhkan komitmen teguh, sehingga dia tidak mau mengambil risiko Markus akan mundur di tengah jalan lagi. Paulus memilih Silas dan bersama Silas dia mengelilingi Siria dan Kilikia untuk meneguhkan jemaat-jemaat setempat.

Syukurlah, kisah konflik ini berakhir dengan damai dan indah. Baik Barnabas dan Markus maupun Paulus dan Silas, kedua tim tetap melakukan pekerjaan Tuhan dengan setia. Mereka masing-masing tumbuh matang sebagai hamba Tuhan. Pada akhir perjalanan hidup Paulus, kita membaca surat-surat Paulus yang menerima kembali Barnabas dan Markus, “Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas — tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu — dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku,” (Kol. 4:10-11). Selain itu, mendekati akhir hidupnya, Paulus mengirim permintaan kepada Timotius dari penjara Romawi, “Jemputlah Markus dan bawalah dia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku,” (2 Tim. 4:11).

Kali ini, kita akan menyoroti secara khusus perjalanan Paulus (bersama Silas). Perjalanan misinya yang kedua ini mengunjungi kota Listra, Derbe, dan Filipi. Lokasi dua kota pertama ini sekarang merupakan wilayah Turki, sedangkan Filipi terletak di pedalaman Yunani.

 

Kunjungan ke Listra dan Derbe: menemukan buah pelayanan sebelumnya

Dalam perjalanan misi keduanya, Paulus kembali ke Listra, dan di kota itulah Paulus menemukan Timotius, buah dari pelayanan Paulus di perjalanan misi sebelumnya. Eunike, ibu Timotius yang berkebangsaan Yahudi, dan neneknya, Lois, juga wanita-wanita yang saleh. Mereka mengajarkan iman kepada Timotius sehingga Timotius tumbuh menjadi orang yang dikenal baik oleh saudara-saudaranya di Listra dan di Ikonium. Melihat pertumbuhan Timotius yang baik, Paulus menjadikan Timotius anak rohaninya dan mengikutsertakan Timotius dalam perjalanan misinya yang kedua. Di kemudian hari, Timotius menjadi penatua jemaat di Efesus.

Masih di perjalanan misi Paulus yang kedua ini, mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia. Sementara mereka berencana tentang arah perjalanan selanjutnya, Roh Kudus melarang mereka untuk memberitakan injil di Asia. Lalu ketika mereka sampai di Troas, Paulus mendapatkan penglihatan ada seorang Makedonia berseru kepadanya, “Menyeberanglah kemari, tolonglah kami,” (Kis. 16:9). Atas arahan Roh Kudus itu, Paulus dan tim berangkat ke Makedonia. Akhirnya tibalah mereka di Filipi, kota pertama di Makedonia zaman itu yang disinggahi Paulus dan Silas.

 

 Kunjungan ke Filipi: buah-buah yang baru karena arahan dan kuasa Roh Kudus

Sesampainya di Filipi, Paulus dan rombongannya langsung menyusur tepi sungai. Di sana terdapat sinagoge (rumah ibadah orang Yahudi) yang ramai dikunjungi oleh penduduk setempat pada hari Sabat. Paulus tidak membuang-buang kesempatan tersebut. Dia langsung memberitakan injil Kristus di sinagoge itu. Ketika itu banyak wanita hadir untuk beribadah dan mereka mendengarkan khotbah Paulus; salah satunya adalah Lidia, perempuan penjual kain ungu di Tiatira. Penjual kain ungu adalah pebisnis yang kaya dan terpandang pada zaman itu, karena nilai kain ungu yang begitu mahal. Lidia begitu tertarik dengan khotbah Paulus dan Tuhan membuka hati Lidia sehingga dia menerima Kristus dalam hidupnya dan bersedia dibaptis. Bahkan, Lidia juga mengajak keluarganya untuk percaya kepada Yesus dan dia membuka rumahnya untuk dipakai Paulus beribadah bersama orang-orang Filipi. Rumah Lidia kemudian menjadi lokasi jemaat mula-mula di kota Filipi.

Saat di Filipi, suatu kali ketika mengunjungi sinagoge, Paulus berjumpa dengan perempuan yang dirasuki roh tenung. Banyak orang memanfaatkan tenungan-tenungan dari perempuan ini untuk mencari penghasilan, sehingga perempuan ini sangat dicari. Mungkin, ini seperti orang-orang yang mencari nasihat dukun atau melakukan ritual pesugihan pada zaman sekarang. Sementara Paulus berada di sinagoge, perempuan ini selalu mengikuti Paulus dan sangat mengganggu dengan teriakan-teriakannya. Lama kelamaan, Paulus tidak tahan lagi dan akhirnya menengking roh tenung yang ada di dalam perempuan itu. Seketika itu, keluarlah roh tenung itu dan perempuan itu pulih. Melalui Paulus, Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas roh jahat.

Sayangnya, akibat roh tenung sudah keluar dari diri perempuan tersebut, orang-orang yang sebelumnya mendapat keuntungan materi dari tenungan-tenungan perempuan itu menjadi marah. Mereka menangkap Paulus dan Silas lalu menghadapkan keduanya kepada penguasa kota. Atas kesaksian kebencian mereka, Paulus dan Silas didera lalu dilemparkan ke penjara. Kepala penjara memasukkan Paulus dan Silas ke dalam penjara paling tengah dan memasung kaki keduanya, tentu dengan pemikiran bahwa Paulus dan Silas tidak mungkin lepas atau kabur. Ternyata pemikiran itu salah. Sang kepala penjara tidak melihat Penolong Paulus dan Silas, yang selalu hadir menyertai dan tidak dapat dibatasi oleh kekuatan apa pun.

Di tengah malam sementara Paulus dan Silas berdoa serta memuji Tuhan dalam kondisi sehabis didera dan dipasung di dalam liang penjara, Tuhan bekerja. Malaikat-Nya diutus. Gempa bumi yang hebat terjadi. Tembok-tembok penjara itu terguncang, pintu-pintu penjara terbuka, bahkan semua belenggu-belenggu juga terlepas. Kepala penjara melihat kejadian itu dan ketakutan. Dia bahkan hendak bunuh diri karena tak sanggup menanggung hukuman kalau semua tahanan melarikan diri, tetapi Paulus dan Silas mencegahnya. Di tengah-tengah ketakutannya, kepala penjara ini melihat kebesaran Tuhan yang tidak terbatas. Dia akhirnya percaya dan seluruh keluarganya pun menerima Yesus sebagai Tuhan dan Raja atas kehidupan mereka masing-masing.

Tuhan menunjukkan diri sebagai Allah yang sanggup melepaskan kita dari kekuatan belenggu apa pun.

Rupanya, bukan hanya sang kepala penjara yang menjadi takut akan Tuhan. Di siang keesokan harinya, pejabat-pejabat kota itu memerintahkan agar kepala penjara melepaskan Paulus dan Silas. Tidak hanya itu, mereka juga meminta maaf atas tindakan mereka yang telah memenjarakan Paulus dan Silas. Tuhan sekali lagi menyatakan diri. Kali itu, sebagai Sahabat dan Penyerta yang tidak akan membiarkan orang yang setia dan taat kepada-Nya tetap ada dalam bahaya. Dia menjadi Penolong dan Perisai dalam setiap langkah hidup kita.

 

Melewati berbagai peristiwa yang menyatakan kasih dan kebesaran Tuhan itu, Paulus makin tak kenal takut akan rintangan apa pun dalam memberitakan injil. Dia tahu pasti Tuhan memberikan jalan keluar yang terbaik baginya dan nama Tuhan pasti dimuliakan. Di edisi selanjutnya, kita akan terus mengikuti perjalanan misi Paulus berikutnya dan menyaksikan pekerjaan Tuhan yang semakin hebat.

2023-08-30T10:00:07+07:00