//Seri Paulus : Serupa dalam Kematian Kristus

Seri Paulus : Serupa dalam Kematian Kristus

Kerelaan Paulus untuk Menderita bagi Kristus dan Misi-Nya

Pada edisi yang lalu, kita mengikuti kunjungan Paulus di Kaisaera sebagai kota persinggahan yang terakhir dalam perjalanan misi ketiganya. Di sanalah Paulus mendapat nubuatan dari Nabi Agabus tentang penderitaan yang menantinya di Yerusalem, lalu jemaat melarang Paulus berangkat ke Yerusalem. Namun, tekad Paulus tidak terhentikan. Seakan tidak menghiraukan nyawanya sedikit pun, Paulus berangkat menyelesaikan tugas yang diembannya dari Allah, yaitu memberitakan kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah kepada suku-suku bangsa.

Allah memang tidak pernah salah memilih Paulus untuk menjalankan misi-Nya. Paulus adalah orang yang setia akan panggilannya. Walau banyak ancaman, penderitaan, aniaya, bahkan topan badai, tekad Paulus tidak surut untuk menunaikan panggilan Allah atas hidupnya. Pertobatannya dari masa lalunya yang kejam membawa Paulus berbalik menjadi orang yang siap sedia ketika dikhususkan Allah untuk membawa berita Injil bagi bangsa-bangsa.

 

Di Yerusalem, Nubuat tentang Aniaya Digenapi

Tibalah waktunya bagi Paulus untuk berangkat ke Yerusalem, kota yang sedang menanti penderitaannya sebagai utusan Kristus. Pada keberangkatannya ke sana, Paulus juga disertai oleh beberapa murid-murid; salah satunya adalah Titus, seorang Yunani yang tidak dipaksa untuk menyunatkan diri. Dengan keberadaan dan kondisi Titus itu, orang-orang dapat melihat bahwa kepada Paulus telah dipercayakan pula pemberitaan Injil kepada orang-orang yang tidak bersunat.

Begitu tiba di Yerusalem, Paulus disambut dengan suka hati oleh murid-murid setempat yang telah menanti kedatangannya. Keesokan harinya, Paulus bertemu dengan Yakobus dan beberapa penatua-penatua. Dia menyampaikan kesaksiannya dan mengajar mereka di sana. Paulus menceritakan dengan terperinci apa yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa lain. Mereka yang mendengar kabar itu lalu memuliakan Allah. Di sisi lain, mereka juga menceritakan desas desus tak enak yang sempat mereka dengar tentang Paulus, termasuk berita-berita negatif bahwa Paulus mencela hukum Musa dan menajiskan bait Allah dengan membawa masuk orang-orang Yunani ke dalam bait Allah.

Setelah lewat beberapa hari di Yerusalem, ternyata banyak penyusup datang ke tengah-tengah warga kota. Mereka menghasut masyarakat dan akhirnya menangkap Paulus. Dari hasutan mereka itulah, orang-orang menjadi kacau balau. Kebenaran Injil Kristus diputarbalikkan oleh orang-orang pada saat yang rusuh itu, tetapi Paulus tidak tunduk pada mereka. Justru, kebenaran Injil dipertahankan di antara bangsa-bangsa lain, karena Paulus tahu bahwa bangsa-bangsa lain harus mengalami hidup dalam kemerdekaan yang diberikan oleh Injil lewat Yesus.

Situasi saat itu rusuh dan gempar. Nubuatan Nabi Agabus tentang aniaya tergenapi. Seluruh kota dan rakyat berkerumun untuk menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari bait Allah. Mereka bahkan berusaha untuk membunuh Paulus. Mendengar keributan tersebut, kepala pasukan Romawi segera bertindak dengan prajurit dan perwira-perwiranya. Di bawah tindakan sang kepala pasukan yang berwenang itu, orang-orang berhenti memukuli Paulus. Kemudian, kepala pasukan itu sendiri menangkap Paulus dan mengikat dia dengan rantai. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga menimbulkan keributan seburuk itu, dia membawa Paulus ke markas sementara orang banyak masih berteriak-teriak, “Enyahkanlah dia!”

 

Menderita bagi Kristus dari Kerelaan yang Penuh

Di bawah segala tekanan aniaya yang sedang terjadi tanpa diketahui jalan keluarnya, Paulus rupanya justru tetap bersukacita. Catatan dalam kitab Roma menunjukkan bahwa dia benar-benar menikmati pangilannya dari Allah. Dia berkata, “… aku menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa lain sebagai imam dalam pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi, dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, dengan perkataan dan perbuatan, dengan kuasa tanda-tanda ajaib dan mukjizat-mukjizat dan dengan kuasa Roh Allah. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus,” (Roma 15:16-19). Untuk menunaikan panggilannya itu, Paulus tahu pasti  akan banyak penderitaan dan aniaya yang dia terima, dan dia tetap memilih untuk menderita bagi Kristus.

Pertanyaannya, dari mana sumber kerelaan Paulus untuk menderita bagi Kristus? Mengapa kerelaan itu sungguh tak tergoyahkan meskipun didera dengan berbagai tekanan? Mari kita perhatikan beberapa alasannya, yang dapat kita temukan dari pengakuan Paulus sendiri dalam berbagai surat yang ditulisnya kepada jemaat-jemaat.

 

  1. Paulus mengalami kebenaran bahwa penderitaan justru mendatangkan penghiburan secara khusus (2 Kor. 1:1-5). Dalam kondisi menderita, Paulus memuji Allah yang penuh belas kasihan dan sumber penghiburan, yang menghibur dirinya dalam segala penderitaan itu, sehingga Paulus sanggup menghibur orang yang berada dalam penderitaan juga. 
  1. Paulus mengalami persekutuan dan keserupaan dengan Kristus melalui penderitaan. Paulus menulis, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus,” (Flp. 3:10-12). Bagi Paulus, mengenal Yesus adalah kepuasan dan kebahagiaan hidupnya, karena pengenalan itu membuatnya dapat memiliki hubungan yang dekat dengan Allah. Hubungan yang erat membuat manusia menjadi satu dengan Yesus, sehingga melalui persekutuan dalam penderitaannya dia mengalami keserupaan dengan Kristus.
  1. Penderitaan mendatangkan jawaban doa dan kuasa Kristus atas Paulus. Paulus menerima jawaban doa saat berdoa tentang penderitaannya. Tuhan menjawab doa Paulus, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Kata Paulus, “Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesengsaraan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat,” (2 Kor. 12:9-10). Karena itulah Paulus bukan hanya rela, melainkan bangga (bermegah) akan kuasa Kristus itu. 
  1. Penderitaan Paulus mempersiapkan dirinya untuk mengalami pembaharuan menuju kemuliaan. Paulus yakin bahwa Tuhan pasti menyediakan yang terbaik bagi dirinya. Dia tidak tawar hati saat menghadapi penderitaan. Hati Paulus dibaharui setiap hari, melalui setiap penderitaan. Maka, Paulus yakin dan mengajarkan kepada jemaat bahwa ada kemuliaan kekal di akhir penderitaan yang sedang dialami, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal,” (2 Kor. 4: 17-18).

 

Dalam perjalanan hidupnya sebagai pengikut Kristus dan pembawa misi Allah, Paulus tidak takut menghadapi penderitaan. Dia sepenuhnya rela dan siap menerima aniaya apa pun yang Tuhan izinkan terjadi atasnya, termasuk di Yerusalem. Dia tahu bahwa penderitaan adalah bagian dari rencana Allah bagi hidupnya. Mari teladani kerelaan Paulus ini, sambil kita nantikan sorotan selanjutnya mengenai Paulus pada edisi berikutnya.

2024-03-27T11:02:56+07:00