//Seri Paulus : Tidak Kenal Menyerah di Tengah-Tengah Tantangan

Seri Paulus : Tidak Kenal Menyerah di Tengah-Tengah Tantangan

Hidup yang Dipersembahkan sebagai Saksi dan Pelayan Kristus

Pada edisi sebelumnya, kita melihat bahwa beberapa orang dari komplotan Yahudi ingin membunuh Paulus. Syukurlah, kepala pasukan yang bernama Klaudius Lisias menyelamatkannya dan memindahkan Paulus ke Kaisarea dengan kawalan 200 prajurit, 70 tentara berkuda, dan 200 tentara bertombak, yang membawa surat pengantar darinya kepada Gubernur Feliks mengenai alasannya menyerahkan Paulus ke tangan sang gubernur, termasuk peristiwa yang terjadi hingga membuat Paulus ditangkap. Mari amati yang terjadi selanjutnya pada Paulus.

 

Penjagaan Tuhan atas Saksi dan Pelayan-Nya

Dalam surat pengantarnya, Lisias menulis, “Ternyatalah bagiku, bahwa dia didakwa karena soal-soal hukum Taurat mereka, tetapi tidak ada tuduhan, atas mana dia patut dihukum mati atau dipenjarakan.” Tuhan memakai Lisias untuk membela Paulus dengan kata-kata itu, bahkan melindungi Paulus dari bahaya, “Kepadaku telah diberitahukan, bahwa ada komplotan merencanakan membunuh dia. Karena itu aku segera menyuruh membawa dia kepadamu, sedang kepada para pendakwa telah kuberitahukan, bahwa mereka harus mengajukan perkara itu kepadamu.”

 

Sesampainya Paulus di Kaisarea, Gubernur Feliks menerima surat tersebut dan menanyakan Paulus berasal dari provinsi mana, Paulus menjawab bahwa dia berasal dari Kilikia. Kamudian, Feliks menahan Paulus di istana Herodes, yang berarti kepastian keselamatan Paulus terjamin. Maka, orang-orang yang telah berpuasa dan bersumpah untuk membunuh Paulus telah gagal total.

 

Namun, ancaman tidak hilang begitu saja. Musuh tetap menyerang Paulus. Lukas mencatatnya, “Lima hari kemudian datanglah Imam Besar Ananias bersama-sama dengan beberapa orang tua-tua dan seorang pengacara bernama Tertulus.” Mereka menghadap Feliks dan menyampaikan dakwaan, sehingga Paulus harus kembali disidang. Setelah berbasa-basi, salah seorang pendakwa yang bernama Tertulus berkata, “Aku minta, supaya engkau mendengarkan kami… Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa dia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani. Malahan dia mencoba melanggar kekudusan Bait Allah.” Tiga pokok dakwaan Tertulus terhadap Paulus ujungnya mengharapkan agar Feliks menjatuhkan hukuman mati kepada Paulus, tetapi Tertulus dan beberapa orang lain dari komplotan Yahudi tidak menyadari bahwa Allah sendirilah yang bertindak sebagai Pembela bagi Paulus. Alhasil, dakwaan yang diputar balik dari Tertulus itu pun mental di tangan Tuhan.

 

Paulus pun memegang kuat janji Tuhan ketika Tuhan datang berdiri di sisinya saat dia berada dalam penjara, bahwa Tuhan akan membawa dia ke Roma untuk menjadi saksi-Nya. Karena itu, Paulus tidak gentar dan segera melakukan pembelaan dengan hikmat yang diberikan Allah kepadanya.

 

 

Pembelaan Paulus yang Tanpa Gentar di Hadapan Feliks

Ketika saatnya tiba untuk giliran Paulus berbicara menanggapi perihal dakwaan Tertulus, dengan lantang Paulus menyatakan kebenaran. “Engkau dapat memastikan, bahwa tidak lebih dari dua belas hari yang lalu aku datang ke Yerusalem untuk beribadah. Dan tidak pernah orang mendapati aku sedang bertengkar dengan seseorang atau mengadakan huru-hara, baik di dalam Bait Allah, maupun di dalam rumah ibadat, atau di tempat lain di kota. Dan mereka tidak dapat membuktikan kepadamu apa yang sekarang dituduhkan mereka kepada diriku.” Di sela-sela pembelaannya itu pun Paulus menyelipkan kesaksiannya, “Tetapi aku mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut sekte. Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar. aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” Mendengar perkataan Paulus yang tegas itu, Gubernur Feliks yang sudah mengetahui banyak tentang ajaran Yesus pun mengakhiri siding lalu tetap menahan Paulus dengan tahanan ringan.

Kesaksian Paulus itu ternyata menggugah hati Gubernur Feliks untuk mengetahui lebih lanjut tentang kepercayaan kepada Yesus, sehingga dia mengajak istrinya untuk mendengarkan Paulus. Benih Firman kebenaran pun ditaburkan kepada Gubernur Feliks beserta istrinya, melalui keteguhan Paulus yang pantang menyerah sebagai saksi dan pelayan Kristus.

 

Menjadi saksi dan pelayanan Kristus adalah tanggung jawab yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Di mana pun kita berada, kapan pun waktunya, setiap murid Kristus harus siap memberitakan Injil, sejak dia memutuskan untuk mempersembahkan hidupnya bagi Kristus. Itulah pula yang kita saksikan pada kehidupan Paulus. Selalu haus memberitakan Injil di mana pun dan kapan pun, Paulus tidak pernah menyerah dalam memberitakan Injil, karena kesadaran bahwa hidupnya telah dipersembahkan sebagai saksi dan pelayan Kristus. Kita, yang telah menerima mandat yang sama dan janji yang sama dari Kristus pun sepatutnya hidup dengan keteguhan yang sama dengan Paulus, seperti yang dikatakannya di 1 Korintus 9:16, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”

 

Siapkah Anda untuk tetap teguh hidup sebagai saksi dan pelayan Kristus? Kiranya Tuhan menyatakan penjagaan dan anugerah-Nya atas Anda dalam keteguhan itu, dan mari kita ikuti terus kelanjutan kisah Paulus pada edisi selanjutnya.

2024-06-27T11:38:02+07:00