//“Siapa yang Nyetir?”

“Siapa yang Nyetir?”

Saya lebih suka mengatur sendiri gerak dan kecepatan mobil, sesuai yang saya inginkan. Karena itulah, saya lebih suka mengemudikan mobil manual. Saya pun tidak ragu memilih mobil dengan transmisi manual sebagai mobil pertama saya (walaupun beberapa orang terdekat menyarankan mobil otomatis untuk saya, supaya saya tidak perlu berlelah-lelah di jalan). Hore! Kini saya bebas ke manapun, dengan cara dan kecepatan sesuka saya sendiri…

 

Hingga suatu saat, karena berkawan dengan seorang rekan yang justru menyukai (dan memiliki) mobil otomatis, saya jadi lambat laun makin sering mengemudikan mobil otomatisnya. Pada awalnya, saya menyetir dengan perasaan tak nyaman dan “keder”, karena terlanjur terlalu terbiasa dengan mobil manual. Dengan mobil manual saya sendiri, saya akan mengebut saat saya ingin mengebut, memindahkan posisi persneling kapanpun saya mau, menggenjot pedal gas saat terburu-buru (atau mulai emosional akibat kondisi jalan), dan mengerem mendadak saat ada hal-hal tak terduga yang membuat panik (akibat cara menyetir saya yang cenderung selalu terburu-buru). Dengan mobil otomatis kawan saya ini, saya bisa (dan harus) bersantai saja menikmati sistem transmisi otomatisnya mengatur posisi persneling sesuai kebutuhan mobil, serta hanya perlu menginjak pedal gas dan rem dengan halus saat dibutuhkan. Saya yang terbiasa dan menyukai kontrol saat mengemudikan mobil, kini terpaksa “pasrah” lagi kepada mobil otomatis ini… Tapi, kok makin lama saya jadi makin menikmatinya, ya..? Hmmm…

 

Membandingkan tingkat kesukaan saya dalam menyetir kedua jenis mobil ini menimbulkan perenungan yang lebih mendalam daripada sekedar jenis mobil itu sendiri. Saya menyadari, saya menyukai mobil manual karena saya suka mengendalikan diri dan perjalanan saya sendiri. Saya tidak menyukai mobil otomatis karena saya tidak suka harus pasrah dan menyerah. Kenyataannya, memang inilah sikap hidup saya selama ini. Saya suka memikirkan rencana saya sendiri, melakukan berbagai persiapan sendiri, mengatur hidup sehari-hari saya sendiri, menggunakan cara-cara, perhitungan waktu dan kesanggupan saya sendiri, serta berusaha mencapai tujuan-tujuan saya sendiri. Bagi saya, kegagalan berarti cara saya salah atau saya kurang/tidak sanggup, dan keberhasilan berarti cara saya benar dan saya memang sanggup. Setelah dipikirkan kembali, kalau paradigma saya seperti ini, lalu di mana letak campur tangan Tuhan dalam hidup saya?

Perjalanan hidup saya sebagai anak Tuhan bermula sejak saya tersentuh oleh kasihNya: betapa Ia yang Maha Segalanya rela mati dengan cara begitu hina dan menyakitkan, hanya demi saya menerima anugerah yang tidak dapat saya raih atau usahakan sendiri. Pengampunan. Keselamatan. Diri yang baru. Hidup yang kekal. Saat Ia dengan lembut mengingatkan saya akan hal ini, saya pun tercenung. Saya memang tidak sanggup dan tidak akan pernah sanggup berjalan di dalam kehidupan dengan kemampuan saya sendiri. Lagipula kesanggupan saya ditentukan oleh begitu banyak pengaruh: kesehatan saya, kondisi keuangan saya, perasaan dan emosi saya, situasi di sekeliling saya, hubungan saya dengan orang-orang terdekat, atau faktor-faktor lainnya. Apapun yang saya mampu lakukan, seberapa tinggi dan banyak pun pencapaian yang saya mampu raih, di akhir hidup, saya tetap tidak akan sanggup membeli pengampunan, atau memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Tujuan terakhir dan terutama setelah kehidupan ini selesai, memang hanya bisa diterima dengan anugerahNya yang tidak ditentukan oleh apapun selain kasih dan kuasaNya.

Beralih dari berusaha mengontrol hidup kita sendiri menjadi mengizinkan Tuhan mengontrol hidup kita, memang tidak semudah kedengarannya. Mudah, jika ini menyangkut hal-hal yang sepele, yang kecil, dan tidak terlalu berkaitan dengan keseluruhan hidup ataupun ego kita. Pernah, saya sedang menginginkan suatu makanan tertentu namun tidak berhasil menemukannya di toko-toko yang biasa menjualnya, lalu saya berkata kepada Tuhan dalam hati, “Yah, nggak ada nih, Tuhan. Ya udah deh, nggak makan itu juga nggak apa-apa. Nanti juga ada kalau Tuhan mau beri…” Ternyata, keesokan harinya, seseorang memberikan makanan yang persis sama kepada saya, dan saya senang sekaligus tercengang oleh perbuatan dan kasih Tuhan. Tapi ini hal yang sepele. Mudah untuk mengizinkan Tuhan mengontrolnya, karena kalaupun makanan itu tidak berhasil saya dapatkan, hidup saya akan tetap baik-baik saya. Tapi bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar? Penyakit yang tak kunjung sembuh, studi yang tak kunjung selesai, hubungan orang tua yang tidak kunjung harmonis, kebiasaan buruk dan dosa yang tak kunjung berhenti, kondisi keuangan yang tak kunjung membaik, dan macam-macam lainnya?

Hari ini, saya jadi merenungkan kembali perjalanan hidup saya. Apakah saya mau terus menggunakan “mobil manual” dalam perjalanan hidup saya, dan mengontrol segala sesuatunya dengan usaha dan kesanggupan saya sendiri? Ataukah saya mau bertobat, belajar mengizinkan Dia yang Maha Segalanya itu mengendalikan perjalanan hidup saya dengan kasih dan kuasaNya? Bukan sekedar beralih ke “mobil otomatis”, namun lebih dari itu, saya mau belajar membiarkan Dia yang mengemudikan “mobil” hidup saya. Saya mau pindah ke kursi penumpang di sebelahNya, lalu mengamati, mempelajari, sekaligus mengagumi caraNya menyetir “mobil” hidup saya, karena saya tahu, hanya jika Ia-lah yang memegang kendali, saya dapat mencapai tujuan dengan sempurna. Jika hal-hal yang terbesar: pengampunan, keselamatan, hidup kekal; saja sudah Ia berikan, bukankah segala sesuatu sebenarnya ada di dalam kesanggupanNya? AnakNya yang tunggal saja Ia relakan demi memberikan hidup yang baru kepada kita, apalagi hal-hal lainnya (Roma 8:32). Bukankah ini bukti bahwa kasihNya sanggup memegang kendali hidup kita?

Jadi mulai sekarang, saya tidak mau menyetir “mobil” kehidupan saya sendiri lagi, apalagi dengan cara “manual”. Saya tidak mau lelah dengan percuma. Bagaimana dengan Anda? Dalam perjalanan hidup Anda, “siapa yang nyetir”?    (my)

 

 

2019-10-10T14:23:12+00:00