//SPIRITUALLY DISCIPLINED, ONE STEP AT A TIME (属灵紀律,循序漸進)

SPIRITUALLY DISCIPLINED, ONE STEP AT A TIME (属灵紀律,循序漸進)

What images cross our minds every time we hear the word “discipline”? To many people living in an Asian family, the word “discipline” may bring up the discomfort memories of childhood. “Discipline” often translates to “punishment”, which can be abusive behaviors inflicted upon them by higher authorities, e.g. parents, teachers, leaders, etc. And to many people, the word “discipline” tends to sound demotivating instead of the encouraging. Therefore, a lot of people subconsciously reject the idea of being disciplined in their lives, including being spiritually disciplined.

每當我們聽到“紀律”這個詞時,腦海中會浮現出怎樣的畫面? 對於許多生活在亞洲家庭的人來說,“紀律”一詞可能會勾起童年不愉快的回憶。 “紀律” 通常意味著“懲罰”,這可能是更高地位的人的虐待行為,例如父母、老師、領導和其他人。 對於很多人來說,“紀律” 這個詞也往往聽起來令人沮喪而不是鼓舞人心。 正因為如此,許多人下意識地拒絕生活中的紀律,包括拒絕属灵上的紀律。

Gambaran apa yang terlintas di benak kita setiap kali kita mendengar kata “disiplin”? Bagi banyak orang yang tinggal di keluarga Asia, kata “disiplin” mungkin membangkitkan ingatan masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan. “Disiplin” sering kali berarti “hukuman”, yang bisa jadi berupa perilaku kasar yang dilakukan oleh otoritas yang lebih tinggi, misalnya orang tua, guru, pemimpin, dan lain-lain. Bagi banyak orang pula, kata “disiplin” cenderung terdengar menurunkan motivasi daripada membesarkan hati. Oleh karena itu, banyak orang secara tidak sadar menolak gagasan disiplin dalam hidup mereka, termasuk menolak disiplin rohani.

 

 

Many people think that being disciplined is something hard, mainly because they have set their benchmarks too high without breaking them down into smaller and more achievable standards. A lot of people see the “tens” or the “hundreds”, yet fail to see the “ones”. Once there was a famous man who was interviewed about how other people see him as a highly disciplined person. To everyone’s surprise, he replied, “They were wrong. I am not a disciplined person. As a matter of fact, I am a very lazy person. But… I get why people see me as a disciplined person. It’s because what I do every day is just walking just one step further and making one better decision than the ones my past self did. I am now reaching a certain point where people who were in similar situations with my past self see the way I am today, where I have walked miles from my past self.”

許多人認為遵守紀律很困難,主要是因為他們把標准定得太高,而沒有把它分解成更小、更容易實現的標準。 許多人看到目標是 “十” 或“ 百”,卻看不到 “個”。 曾經有一位名人,他接受采訪時談到別人如何看待他是一個非常有紀律的人。 令人驚訝的是,他回答說:“他們錯了。我不是一個有紀律的人。實際上,我是一個非常懶惰的人。但是……  我明白為什麼人們認為我是一個有紀律的人。我每天踏出比我過去更遠的一步並采取更好的確定。我現在已經達到了一個特定的點,當與我過去有同樣處境的人看到今天的我時,我已經走過遠離了過去的我。

Banyak orang berpikir bahwa berdisiplin adalah sesuatu yang sulit, terutama karena mereka telah menetapkan standar yang terlalu tinggi tanpa memecahnya menjadi standar yang lebih kecil dan lebih dapat dicapai. Banyak orang melihat sasaran yang “puluhan” atau “ratusan”, tetapi gagal melihat yang “satuan”. Pernah ada seorang pria terkenal yang diwawancarai tentang bagaimana orang lain memandangnya sebagai orang yang sangat berdisiplin. Yang mengejutkan, dia menjawab, “Mereka salah. Saya bukan orang yang disiplin. Sebenarnya, saya adalah orang yang sangat malas. Tetapi… saya mengerti mengapa orang melihat saya sebagai orang yang disiplin. Itu karena apa yang saya lakukan setiap hari hanyalah berjalan satu langkah lebih jauh dan mengambil satu keputusan yang lebih baik daripada yang dilakukan oleh diri saya di masa lalu. Saya sekarang mencapai titik tertentu ketika orang-orang yang berada dalam situasi yang sama dengan diri saya di masa lalu melihat siapa saya hari ini, setelah saya berjalan sangat jauh dari diri saya yang dulu.”

 

 

What a mind-blowing statement! The man said that being a disciplined person does not require such great efforts as many would think, but it’s simply building good habits one step at a time – consistently!

多麼出乎意料的陳訴! 該男子表示,遵守紀律並不像許多人想像的那樣需要付出很多努力,但紀律只是一步一步地養成良好的習慣——始終如一!

Sungguh pernyataan yang tidak disangka! Pria itu berkata bahwa menjadi orang yang disiplin tidak membutuhkan upaya besar seperti yang dipikirkan banyak orang, tetapi disiplin hanyalah membangun kebiasaan baik selangkah demi selangkah – secara konsisten!

 

 

The Apostle Paul associated his spiritual lifestyle to the physical discipline of a runner or a boxer. In which, he did not want to run aimlessly or to punch randomly in the air (1 Cor. 9:26-27). Now, how did he make sure not to do that? He trained; not only his spirit, but also his body! The New International Version Holy Bible even mentioned that Paul treated his body as his own “slave”. Paul realized that to be spiritually disciplined, he must be able to conquer the hardest of all “adversaries”: his own body.

使徒保羅將他自己的屬靈生活性式賽跑者或拳擊手的身體紀律聯繫起來。 在他的属灵紀律中,他不想漫無目的地跑步或拍打空氣(林前 9:26-27)。那麼,他是如何確保不那樣做的呢? 他訓練; 不僅是属灵,還有身體! 新國際版英文聖經甚至說,保羅對待自己的身體就像對待自己的 “奴隸” 一樣。 保羅意識到要在靈性上受到管教,他必須打敗他最強大的 “對手”:他自己的身體。

Rasul Paulus mengaitkan gaya hidup rohaninya sendiri dengan disiplin fisik seorang pelari atau petinju. Dalam disiplin rohaninya, dia tidak ingin berlari tanpa tujuan atau memukul sembarangan di udara (1 Kor. 9:26-27). Nah, bagaimana dia memastikan untuk tidak melakukan itu? Dia berlatih; tidak hanya dengan rohnya, tetapi juga dengan tubuhnya! Alkitab bahasa Inggris New International Version bahkan menyebutkan bahwa Paulus memperlakukan tubuhnya sebagai “budaknya” sendiri. Paulus menyadari bahwa untuk berdisiplin rohani, dia harus mengalahkan “lawan” yang paling tangguh: tubuhnya sendiri.

 

 

No runners or boxers can be called as such unless they reach certain milestones in their lives. Just simply running aimlessly or punching the air does not make us runners or boxers. A person can only be called “a runner” or “a boxer” if he/she is put in competitions respective to the fields, and this is not possible without prior training, rigorously and consistently. There is not a runner or a boxer who can instantly be one without enduring certain regiments of training. A runner who wishes to run a full marathon (42 km) must first train themselves to be able to endure much shorter distances (500 meters) consistently until his/her body can normally adjust to the distance before moving on to further distances. A boxer who wishes to fight in the arena must first train his/her body to not just be able to punch, but also to be able to dodge and endure hits. These regiments of training have to be done repeatedly until the athlete’s body adjusts with the pressures given, then they will move to higher thresholds, and it goes on.

除非達到人生的某些里程碑,否則任何跑步者或拳擊手都不能同時被稱為跑步者和拳擊手。 我們不能通過漫無目的的奔跑而成為賽跑者,也不能通過打空氣成為拳擊手。 一個人只有在各自的運動項目中參加比賽才能被稱為 “跑步者” 或 “拳擊手”,如果沒有事先嚴格和堅持的訓練,這是不可能的。 沒有經過特定訓練計劃的跑步者或拳擊手無法立即成為跑步者。 想要跑馬拉松(42公里)的長跑者,首先要訓練自己能夠持續堅持很短的距離(500米),直到身體適應正常距離後,才能繼續跑更長的距離。 一個拳擊手要想在拳擊場上搏擊,首先要練好自己的身體,不僅要能出拳,還要能閃避和抵擋擊打。 這個鍛煉計劃必須反復進行,直到身體適應所定的壓力,然後上升到更高的能力閾值,依此類推。

Tidak ada pelari atau petinju yang bisa disebut pelari dan petinju kecuali mereka mencapai tonggak tertentu dalam hidup mereka. Kita tidak bisa menjadi pelari dengan hanya berlari tanpa tujuan atau menjadi petinju hanya dengan meninju angin. Seseorang hanya dapat disebut “pelari” atau “petinju” jika ditempatkan dalam kompetisi cabang olahraganya masing-masing, dan ini tidak mungkin tanpa pelatihan secara ketat dan konsisten sebelumnya. Tidak ada pelari atau petinju yang bisa langsung menjadi pelari tanpa menjalani program pelatihan tertentu. Seorang pelari yang ingin berlari maraton (42 km) harus terlebih dahulu melatih dirinya untuk mampu bertahan dalam jarak yang jauh lebih pendek (500 meter) secara konsisten hingga tubuhnya dapat menyesuaikan diri dengan jarak normal sebelum melanjutkan ke jarak yang lebih jauh. Seorang petinju yang ingin bertarung di arena tinju harus terlebih dahulu melatih tubuhnya agar tidak hanya mampu memukul, tetapi juga mampu mengelak dan menahan pukulan. Program latihan ini harus dilakukan berulang kali hingga tubuh menyesuaikan diri dengan tekanan yang diberikan, kemudian naik ke ambang kemampuan yang lebih tinggi, dan seterusnya.

 

 

To be spiritually disciplined, we’re simply required to build consistent habits, one step at a time. To create such habits, Paul reminded us to “make our bodies our slaves”, which means that we have to intentionally build such habits. For example, if we wanted to wake up early in order to meditate on God’s Word in the morning, let’s say at 5 o’clock, while we usually wake up at 6, we can start by setting our alarm clock to wake up at 5.30 for a few weeks. After our bodies are adjusted, normally about 1-3 months, then we can set our alarm clock to wake up at 5. Interestingly, by setting our time to wake up earlier, we can also commit ourselves to sleep earlier. And since we are committed to sleep earlier, we can also commit ourselves to finish all the tasks in our checklist earlier. Higher thresholds. Hence, we eventually will become more productive. And it all start simply with our willingness to be spiritually disciplined.

為了習慣属灵紀律,我們只需要一步步地養成特殊的習慣。 為了養成這種習慣,保羅提醒我們要 “使身體作我們的奴隸”,這意味著我們必須有意識地養成這些習慣。 例如,如果我們想在早上早起默想神的話語,例如在 5 點起床,即使我們通常是習慣在 6 點起床,我們也可以先將鬧鐘設置為 5.30 起床。 這樣做幾個星期。 當我們的身體適應好後,一般在一到三個月左右,我們就可以把鬧鐘定在5點鐘起床。有趣的是,通過設定自己早起的時間,我們也開始致力於早點睡覺. 因為我們承諾早睡,所以我們也承諾早日完成清單上的所有任務。 這是一個更高的門檻。由於這個過程,我們最終會變得更有效率,這一切都始於我們願意在属灵上受到紀律約束。

Agar terbiasa berdisiplin rohani, kita hanya perlu membangun kebiasaan yang konsisten, selangkah demi selangkah. Untuk menciptakan kebiasaan tersebut, Paulus mengingatkan kita untuk “menjadikan tubuh kita sebagai budak kita”, yang artinya kita harus dengan sengaja membangun kebiasaan tersebut. Sebagai contoh, jika kita ingin bangun pagi untuk merenungkan Firman Tuhan di pagi hari, misalkan pukul 5, padahal biasanya kita bangun pukul 6, kita bisa memulainya dengan menyetel weker kita untuk bangun pada pukul 5.30. Lakukan hal ini selama beberapa minggu. Setelah tubuh kita menyesuaikan diri, biasanya sekitar satu hingga tiga bulan, barulah kita bisa mengatur jam weker kita untuk bangun pada pukul 5. Menariknya, dengan mengatur waktu kita untuk bangun lebih awal, kita juga jadi berkomitmen untuk tidur lebih awal. Karena kita berkomitmen untuk tidur lebih awal, kita juga jadi berkomitmen untuk menyelesaikan semua tugas di daftar kita lebih awal. Inilah ambang batas yang lebih tinggi. Oleh karena proses ini, kita akhirnya akan menjadi lebih produktif yang semuanya dimulai dari kesediaan kita untuk berdisiplin rohani.

 

 

Aiming high without enduring the process faithfully is a sure failure strategy in building spiritual discipline, or any kind of discipline. When we don’t want to be failing spiritually, we won’t, if we always remember to walk one step further from our past self… daily.

沒有努力完成這個過程就設定高目標是建立属灵紀律或任何紀律的必然失敗策略。 我們不想在靈性上失敗,事實上我們也不會失敗,只要我們始終記得比以前更進一步……每一天。

Membidik sasaran yang tinggi tanpa menjalani prosesnya dengan tekun adalah strategi kegagalan yang pasti dalam membangun disiplin rohani, atau disiplin apa pun. Kita tidak ingin gagal berdisiplin rohani, dan memang kita tidak akan gagal, jika kita selalu ingat untuk berjalan selangkah lebih jauh daripada diri kita yang sebelumnya… setiap hari.

 

God bless you.

2023-04-25T08:15:09+07:00