Dua minggu yang lalu, aku dan teman-temanku saling bertukar cerita saat pertemuan komunitas sel. Ternyata kami menemukan masalah yang sama yang sedang dihadapi oleh kebanyakan di antara kami, yaitu terbawa arus dunia.
“Sebenarnya aku tahu harus jadi terang dan berdampak buat teman-teman di sekolah, tapi nyatanya itu sulit banget. Malah aku yang sering terbawa arus dan ikut-ikutan candaan mereka yang gak baik,” kata salah seorang temanku.
Teman-teman yang lain menyetujui keluhan itu. Memang, di tengah lingkungan pergaulan yang semakin hari semakin rusak, kita sebagai orang yang telah mengenal kebenaran sekarang mengalami tantangan yang lebih sulit untuk hidup menunjukkan teladan Kristus. Jauh lebih mudah bagi kita untuk terpengaruh oleh gaya hidup dunia yang biasa kita alami dalam interaksi sehari-hari dengan orang sekitar: berkata kasar, tidak sopan, memberontak, curang, berbohong, dan lain sebagainya.
Dalam pertemuan kali itu, aku mendapat giliran untuk membagikan Firman Tuhan. Roh Kudus memang sudah menuntun dengan tepat, karena Dia mengarahkanku untuk memulai pembahasan mengenai identitas orang percaya dan gaya hidup murid Kristus.
Pasti seperti teman-temanku di komunitas sel, kalian tahu ‘kan murid Kristus yang sebelumnya adalah pemungut cukai?
Ya, namanya Matius. Sama seperti pemungut cukai pada umumnya pada zaman itu, Matius tidak disukai oleh banyak orang, karena dia bekerja untuk pemerintah Romawi (yang adalah penjajah) dan dinilai mengkhianati bangsanya sendiri (bangsa Yahudi). Pemungut cukai juga biasa menagih pajak dengan nilai melebihi yang sepatutnya, untuk memperkaya diri sendiri. Itulah yang dilakukan Matius dalam profesinya itu, sebelum akhirnya dia menerima panggilan Yesus untuk menjadi murid-Nya. Setelah menjadi murid Yesus, Matius menunjukkan perubahan yang drastis. Dia bahkan menjadi penulis kitab Injil Matius di Perjanjian Baru dalam Alkitab yang kita pakai sekarang, dengan mencatat segala detail mengenai Yesus. Dimulai dari silsilah, kelahiran, khotbah-khotbah, mukjizat-mukjizat, hingga Amanat Agung yang diperintahkan Yesus sendiri. Matius pun dikenal sebagai orang yang setia pada Yesus dan memiliki hati misionaris. Kehidupannya sebagai murid Yesus sungguh memberi teladan yang baik bagi orang-orang lain. Pada akhir hidupnya pun Matius meninggal dengan cara dipenggal sebagai martir saat memberitakan Injil di Etiopia.
Salah satu catatan yang ditulis Matius, yaitu Matius 5:13-14, menyatakan bahwa kita, orang-orang yang mengikut Yesus, adalah garam dan terang dunia. Itulah identitas setiap murid Kristus. Sebagai murid Kristus, kita tidak diperintahkan untuk susah payah berusaha menjadi garam dan terang, karena memang kita tidak dikatakan “harus menjadi” atau “akan menjadi” garam dan terang dunia. Artinya, itulah sesuatu yang sebenarnya merupakan diri kita sejak mengikut Kristus. Sering kali, kita tahu sebagai murid Kristus tujuan hidup kita adalah melakukan kehendak Allah sehingga kita menjadi garam dan terang di dunia kita masing-masing, tetapi kita kesulitan melakukannya. Nah, ternyata kita tidak perlu susah payah mengusahakannya, karena itu sudah menjadi identitas kita sendiri! Kita hanya perlu hidup menurut identitas itu.
Selanjutnya, Matius 5:20 berkata bahwa jika hidup keagamaan kita tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekilas ini terkesan mustahil, karena seolah kita dibebani kewajiban untuk mengungguli para pemuka agama itu dalam hal ketaatan mengikuti aturan agama. Apakah mungkin?
Mari kita renungkan sejenak. Saat kita memutuskan untuk percaya dan mengikut Yesus, kehidupan lama kita telah mati dan kita mendapat kehidupan yang baru di dalam Tuhan. Tentunya, hidup sebagai pengikut Kristus ini 180 derajat berkebalikan dengan hidup secara duniawi yang lama. Sama seperti Matius yang hidupnya berubah drastis dan setia sampai akhir hidupnya pada Yesus, itulah yang seharusnya kita lakukan. Meski terkesan sulit dan tidak jelas, sebenarnya perubahan drastis itu tentu terjadi dalam proses. Mengapa Matius bisa mengalaminya? Karena dia mengikut Yesus setiap saat, selalu belajar dari Yesus sendiri, dan taat melakukan apa yang dipelajarinya itu. Matius berjalan bersama Yesus, belajar dari Yesus, dan berubah menjadi serupa Yesus. Hasilnya, perubahan Matius sungguh nyata!
Siapkah kita masing-masing juga berjalan bersama Yesus, belajar dari Yesus, dan berubah menjadi serupa Yesus?
Berjalan bersama Kristus adalah hal sederhana yang paling esensial dalam kehidupan murid Kristus: kita bersekutu dengan Dia setiap hari. Penting untuk kita memiliki waktu yang dikhususkan setiap harinya untuk dapat melakukan interaksi pribadi dengan Tuhan dan Firman-Nya. Membaca Alkitab, belajar maksud Firman Tuhan bagi diri kita, menyelidiki kehendak-Nya dalam situasi kita, serta berdoa dan menyembah Tuhan. Persekutuan dan hubungan yang erat dengan Tuhan seperti itu akan melindungi kita dari arus dunia yang kuat yang berusaha mendominasi kita. Kalau kita makin terbiasa mengkhususkan waktu untuk berinteraksi dengan Tuhan dan Firman-Nya, perlahan kita akan makin otomatis berinteraksi dengan Dia setiap saat dan dalam segala hal. Dengan demikian, kita terus menyadari kehadiran Kristus di hidup kita dan melibatkan Dia dalam setiap hal yang kita lakukan.
Berikutnya, belajar dari Kristus. Inilah pentingnya membaca dan merenungkan atau mendalami setiap Firman yang kita baca. Dengan mempelajari Alkitab, kita akan semakin mengenal Allah yang kita sembah dan yang mengasihi kita. Saat membaca Firman, khususnya dalam Perjanjian Baru, kita akan melihat bagaimana respons Yesus dalam berbagai situasi, pikiran dan belas kasihan-Nya, apa yang Dia lakukan, dan banyak lagi, yang semuanya menjadi pembelajaran bagi kita. Giat mempelajari Firman Tuhan akan bermanfaat jika suatu saat kita diperhadapkan dengan tantangan atau kondisi hidup tertentu yang sulit, sehingga kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan Yesus lakukan jika Dia berada di posisi ini?”
Yang ketiga, berubah menuju serupa Kristus. Seiring dengan kita makin mengenal teladan dan kehendak Yesus serta kita belajar untuk mempraktikkannya, kita perlahan akan mengalami perubahan hidup hingga semakin serupa dengan Dia. Sampai kapan? Sampai seumur hidup kita. Tentunya selama kita masih hidup di dunia ini, perjalanan dan perjuangan untuk semakin serupa dengan-Nya tidak akan berhenti. Namun, jika kita terus mau taat dan melakukan apa yang Dia lakukan, pasti kita akan berjalan semakin dekat menuju kesempurnaan-Nya.
Galatia 2:20 berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Inilah kita yang sekarang; diri kita yang lama sudah mati dengan seluruh gaya hidup dosanya, sedangkan diri kita yang baru telah dihidupkan sebagai garam dan terang dunia oleh Kristus yang hidup di dalam kita.
Berjalan bersama Yesus, belajar dari Yesus, dan berubah menuju serupa Yesus bukan sesuatu yang mustahil atau terlalu sulit lagi, karena Yesus sendiri tinggal dan hidup di dalam kita. Kita hanya perlu tekun dan setia menjalani prosesnya, dari hal-hal kecil yang sederhana sehingga kita menunjukkan perubahan-perubahan yang makin besar.
Start simple. Mulailah disiplin membaca Firman Tuhan dan membangun hubungan dengan-Nya setiap hari, pelajari apa yang Firman-Nya katakana untukmu, dan lakukan itu. Jika kamu merasa kesulitan untuk konsisten, ajaklah sahabat atau orang terdekatmu untuk melakukannya bersamamu!
Bagaimana, siap?