/, Youth Corner/Sudah Makan?

Sudah Makan?

Alam menunjukkan fakta menakjubkan bahwa seekor burung dapat bertahan hidup sampai selama sembilan hari tanpa makan; anjing sampai selama dua puluh hari; kura-kura dan ular sampai selama satu tahun; bahkan buaya sampai selama tiga tahun. Manusia sendiri juga sebenarnya dapat bertahan hidup sampai selama dua belas hari tanpa makan dan minum, tetapi tentu dalam kondisi normal hal ini tidak disarankan sama sekali. Sayangnya dalam kehidupan rohani, sering kali kita bersikap bagaikan hewan-hewan hebat ini, bertahan dalam hidup sehari-hari tanpa asupan rohani sama sekali. Kita pun menjadi orang-orang Kristen yang “lupa” makan (makanan rohani) dan menjadi kurang gizi secara rohani.

Sebuah Jamuan Pesta

Setiap manusia, termasuk wanita, perlu makan Firman. Kita membutuhkan Firman sebagai makanan rohani lebih dari apa pun. Firman itulah makanan rohani kita setiap hari; kita dikuatkan oleh Firman, mendapatkan gizi rohani yang menopang hidup dari Firman, dan kemampuan rohani kita dibangun oleh Firman. Sadarkah kita bahwa setiap Firman yang Allah sampaikan ke dalam hidup kita tidak akan pernah dibatalkan-Nya? Ia akan menggenapi setiap perkataan-Nya di dalam hidup kita.

Setiap hari, sesungguhnya Allah menyediakan makanan yang berlimpah berupa Firman-Nya. Ini layaknya sebuah pesta. Makanan yang disediakan-Nya itu selalu ada setiap saat dan setiap hari, tak pernah habis, bergizi lengkap, dan sangat sempurna bagi kehidupan rohani kita. Masing-masing dari kita diundang untuk menikmati sajian istimewa dari-Nya itu. Ia menyediakan kursi dan meja dengan tertulis nama kita masing-masing, dan tugas kita sederhana saja: makan. Makan dengan nikmat sambil mengucap syukur, menyerap seluruh manfaatnya, sampai puas. Yang memprihatinkan, banyak dari kita yang rupanya justru memilih untuk bermalas-malasan di bawah meja dan menunggu jatuhnya remah-remah dari mereka yang makan dengan baik di meja pesta, misalnya “sekadar” mendengar khotbah para pembicara terkenal, menonton video kesaksian hidup orang lain, membaca buku-buku rohani yang banyak direkomendasikan, dsb.

Jangan salah memahaminya. Semua hal yang bersumber dan berdasarkan Firman Allah itu baik; khotbah, kesaksian, buku rohani, seminar, acara kebaktian atau retret; semuanya itu baik. Hanya saja, semua itu remah-remah belaka jika dibandingkan dengan kita sendiri duduk menikmati sajian Firman Allah yang Ia telah siapkan khusus bagi diri dan konteks/situasi kita. Artinya, kita secara khusus dan sengaja mengambil waktu terbaik untuk membaca, menikmati, mengagumi, meresapi, dan mencerna Firman-Nya sebagai makanan rohani untuk roh kita. Sudahkah kita melakukan hal ini jauh melebihi kegiatan lain yang bersifat “menunggu remah-remah yang jatuh di bawah meja”? Nikmatilah sajian Firman penuh kasih karunia yang Allah berikan kepada kita. Mari kita memercayai Dia yang mengundang kita ke dalam jamuan pesta ini dan menikmati persekutuan yang indah bersama-Nya. Jangan pernah puas dengan remah-remah yang jatuh dari meja, karena sesungguhnya bukan itu yang Bapa kehendaki sebagai yang utama untuk roh kita.

Makan Itu Urusan Setiap Hari

Banyak wanita Kristen ternyata tidak makan sama sekali. Mereka sibuk. Lupa untuk makan. Bahkan sebagian di antara kita berhenti membaca Alkitab sama sekali ketika merasa gagal. Ada yang berpikir, “Ah, nanti saja saat tahun baru, saya akan buat resolusi membaca Alkitab dari awal lagi.” Namun, resolusi itu lagi-lagi gagal. Mengapa gagal? Karena ditunda. Karena diabaikan. Karena dikesampingkan.

Sesungguhnya, kita tidak perlu menunggu tahun yang baru (atau minggu yang baru, umur yang baru, periode waktu yang baru, apa pun yang baru) untuk membuat resolusi membaca Firman. Firman selalu tersedia untuk kita setiap hari. Makan adalah urusan setiap hari. Ini merupakan jamuan pesta yang tidak pernah berkesudahan dan kita tidak pernah ketinggalan/terlambat jika kita mau mulai ikut menikmatinya hari ini.

 

Makan dengan Benar Butuh Belajar dan Latihan

Sekarang, bagaimana kita masing-masing bisa makan dengan benar sampai mendapatkan seluruh manfaat dari makanan itu? Bagaimana kita membaca Firman sampai mengerti rencana Tuhan? Bagaimana kita dapat memiliki daya tahan untuk membaca Firman sampai mendapatkan gizi rohaninya tanpa berhenti sebelum makanan di piring itu kita habiskan? Bagaimana kita menjaga ketekunan untuk membaca Firman dengan rajin setiap hari, bukan menunggu roh kita kelaparan dulu baru membaca Firman? Bagaimana kita mendisiplin diri untuk duduk di meja perjamuan dan sungguh-sungguh menikmati makan Firman, bukan bermalas-malasan menunggu remah-remah atau bahkan hasil kunyahan orang lain yang kebetulan jatuh?

Makan Firman dengan benar membutuhkan proses belajar dan latihan yang terus-menerus setiap saat. Caranya tak lain dan tak bukan ialah dengan melakukan makan Firman itu sendiri. Lakukan saja. Meskipun malas, bosan, sempat lupa, atau bingung; tetaplah makan Firman itu. Bagaimana langkah-langkah praktisnya?

1. Bangunlah kebiasaan untuk dekat dengan Allah dan mendengar perkataan-Nya.
Perhatikan kebiasaaan beberapa tokoh di Alkitab yang memiliki ketahanan luar biasa dalam hidupnya, yang terbangun oleh gizi rohani dari perkataan Firman Allah yang mereka terima. Pikirkan apa yang bisa kita teladani dari mereka dalam hal makan Firman.
* “Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN…” (Abraham, dalam Kej. 19:27);
* “TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu…” (Daud, dalam Mzm. 5:3);
* “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana…” (Yesus, dalam Mrk. 1:35).
Periksalah diri kita sendiri: apakah kebiasaan makan Firman kita sudah benar-benar kuat, masih berupa rutinitas yang diwarnai rasa terpaksa/kewajiban, sedang dibangun supaya konsisten, masih perlu ditingkatkan dalam hal kualitasnya, atau justru telah lama terlupakan dan perlu dimulai kembali? Yang mana pun yang merupakan kondisi kita, lakukan saja sekarang. Bangunlah kebiasaan untuk terus makan Firman Allah setiap hari dan setiap saat.

2. Sediakan waktu pribadi untuk bersekutu intim dengan Allah.
Kalau keseharian kita seperti banyak wanita sibuk lainnya, mari kita mulai mengatur waktu dengan lebih baik supaya efektif. Ketiga tokoh Alkitab tadi memiliki waktu khusus untuk bertemu dengan Allah secara pribadi, bersekutu intim dengan Dia. Nah, temukan kapan waktu dan di mana tempat serta situasi yang paling tepat dan terbaik bagi Anda untuk hal ini. Selanjutnya, aktiflah menyiapkan waktu dan tempat serta situasi itu untuk Anda benar-benar menikmati persekutuan pribadi yang intim dengan Allah melalui memakan sajian Firman-Nya.

3. Catatlah menu sajian Firman itu dan kemajuan gizi rohani Anda setiap hari.
Mencatat bagian Firman yang dimakan setiap hari serta hal khusus yang diperoleh dari membaca Firman itu akan membantu Anda melihat kemajuan yang telah dicapai dalam hal gizi rohani. Itulah sebabnya, selain Alkitab dan buku renungan, milikilah juga buku jurnal pribadi. Biarkan jurnal pribadi itu merekam segala perjalanan Anda dalam proses mengasihi Firman Allah sekaligus pekerjaan Allah yang selalu sempurna bagi hidup Anda.

Kapan waktu yang paling tepat untuk kita semua melakukan ketiga langkah praktis ini? Sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk mulai membaca Firman dan menyerap gizi rohaninya. Mulailah sekarang juga.

Referensi:
* Woman, We Need His Word – A Plan for the Hungry and the Busy (Rachel Jankovic)
* A Young Woman After God`s Own Heart (Elizabeth George)

2019-09-27T11:49:45+07:00