//, Pre Marriage/Sukacita keintiman

Sukacita keintiman

Sebuah hubungan yang intim adalah suatu pengalaman yang indah yang diinginkan oleh Allah untuk kita nikmati. Sudah jelas, Ia menyatakan bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, sehingga Ia menciptakan wanita untuk menjadi penolong yang sepadan baginya (Kej. 2:18). Tetapi Allah telah menjadikan keintiman sebagai produk sampingan dari kasih yang didasarkan atas komitmen. Jika kita ingin mengalami kebaikan dari rencana Allah, kita perlu menyatukan kembali pengejaran akan keintiman dengan pengejaran akan komitmen.

Pilih Kuenya atau Lapisan Gulanya?
Setiap orang menginginkan keintiman. Keintiman adalah berada dekat dengan seseorang. Keintiman adalah bersikap rentan, terbuka dan saling tergantung. Keintiman adalah memberi dan menerima dari orang lain, bagian terdalam dari seluruh keberadaan kita, yang berisi harapan, ketakutan, rahasia dan kasih kita. Itu adalah karunia dari Allah.

Ada berbagai macam hubungan yang intim di dalam kehidupan. Kita bisa berhubungan dengan akrab/intim dengan seorang teman, dengan seorang anggota keluarga, dengan seorang teman kerja; tetapi hubungan intim yang paling mendalam dan paling berarti (di luar hubungan dengan Allah), adalah hubungan intim antara suami dan istri yang tidak hanya berbagi hati tetapi juga berbagi tubuh mereka – dalam keintiman seksual berupa penyatuan tubuh, dua orang saling mengenal dengan begitu mendalam dan ini tidak dapat disamai oleh hubungan lain apapun.

Kesamaan dari hubungan-hubungan yang akrab/intim adalah kepercayaan. Kita bisa berhubungan dekat dengan orang-orang yang telah membuktikan kesetiaan mereka kepada kita, orang-orang yang melalui ujian waktu telah menunjukkan bahwa mereka akan berhati-hati menjaga apa yang telah kita percayakan kepada mereka. Kita berhubungan intim dengan orang-orang yang memiliki komitmen terhadap diri kita.

Banyak orang bersepakat bahwa keintiman di antara seorang pria dan wanita adalah suatu sentuhan tambahan yang manis saja, seperti lapisan gula di atas kue, dari sebuah hubungan komitmen menuju pernikahan. Padahal sebagian besar hubungan kencan kita memang dipenuhi dengan berbagai bentuk keintiman, meski tanpa adanya komitmen. Jelaslah, semuanya ini adalah “lapisan gula” saja, tanpa ada “kue” tujuan atau arah yang jelas dalam bentuk komitmen. Lapisan gula memang terasa manis, tapi tidak ada manfaatnya sama sekali jika tidak ada kue yang sebenarnya di dalamnya. Bagian yang terpenting, yang mengandung gizi yang sebenarnya, adalah kue itu, bukan lapisan gulanya. Dalam banyak kasus, khususnya ketika kita muda, berkencan adalah hubungan jangka pendek, yang kita lakukan karena ingin melayani kebutuhan sesaat. Kita berkencan karena kita ingin menikmati manfaat emosional dan fisik dari keintiman, tanpa mau bertanggung jawab untuk membangun komitmen yang sesungguhnya. Dalam berkencan, hubungan seks atau permainan cinta adalah ekspresi keintiman tertinggi, yang sering dilakukan tanpa adanya suatu komitmen – dua orang yang ingin bersenang-senang menikmati keintiman seksual tanpa tanggung jawab apapun. Ini adalah suatu bentuk kegagalan dalam membangun keintiman yang sebenarnya, karena keintiman tanpa komitmen adalah palsu. Kue dengan lapisan gula bermanfaat dan manis, namun lapisan gula tanpa kue hanya terasa manis saja tanpa manfaat. Gairah cinta menjadi paling manis ketika bertumbuh di dalam suatu hubungan yang memiliki komitmen yang mendalam.

Amsal 3:3 berkata, “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu.” Allah menginginkan kasih dan kesetiaan sebagai dua hal yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Di dalam rencanaNya, manfaat pribadi dari suatu hubungan intim – baik secara emosional maupun secara seksual – selalu terkait erat dengan kasih dan komitmen yang penuh pengorbanan untuk kebaikan orang lain dalam jangka panjang.

Cara kerja dosa seksual adalah berusaha untuk memisahkan keintiman dari komitmen. Di dalam Amsal 7, kita membaca mengenai seorang perempuan sundal, yang memikat korbannya dengan tawaran kesenangan seksual tanpa adanya tanggung jawab.  “Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara…” (ay. 18). Beginilah cara kerjanya. Dosa menggoda kita untuk “memuaskan diri dengan cinta” tanpa peduli tentang kebaikan orang lain. Dosa menawarkan keintiman tanpa kewajiban.

Mengejar keintiman tanpa komitmen bisa membangkitkan bermacam-macam keinginan – baik secara emosional maupun secara fisik – yang tidak dapat kita penuhi secara benar dan adil.  Di dalam 1 Tesalonika 4:6, Alkitab menyebut hal ini “memperdayakan”, seperti merobek pakaian seseorang hingga terlepas dengan memberikan harapan-harapan, tetapi tidak memenuhi apa yang dijanjikan. Pendeta Stephen Olford menguraikan kata “memperdayakan” sebagai “membangkitkan rasa lapar tanpa kita dapat memuaskannya” – ini sama artinya dengan menjanjikan sesuatu yang tidak dapat atau tidak akan kita penuhi.

Sekali lagi, keintiman tanpa komitmen adalah seperti lapisan gula tanpa kue, tetap manis, tetapi tidak bermanfaat sama sekali, bahkan pada akhirnya membuat kita sakit.

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” (Gal. 6:8)

Cuplikan dari buku “I Kissed Dating Goodbye” karya Joshua Harris

2019-10-17T15:56:36+07:00