//Sukacita seorang bapa

Sukacita seorang bapa

Di penghujung tahun ini, ingatan saya berjalan mundur belasan tahun. Saya anak bungsu yang lahir dan besar di sebuah kota kecil. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang hangat dan seluruh anggota keluarga sangat akrab satu dengan yang lain. Kalau saya bandingkan dengan keluarga lain yang kesulitan makan bersama di satu waktu dan satu meja makan, keluarga saya jauh berbeda. Mungkin justru bisa dihitung dengan jari kapan saya dan keluarga makan berbeda jam dan tempat. Kami saling mengetahui di mana dan sedang apa sesama anggota keluarga. Ya, bagi banyak orang, inilah gambaran keluarga ideal seperti yang sering tergambar pada sebuah film yang ujungnya happy ending.

Papa saya… he was a great, lovely man. Dia sosok pria menyenangkan dan suka memanjakan keluarganya. Dia seorang wiraswasta yang cukup sibuk, tetapi selalu meluangkan waktu untuk menjemput saya dan kakak-kakak dari sekolah setiap harinya. Papa juga suka berpetualang, dan ini kenangan terseru bagi kami anak-anaknya. Kami selalu punya jadwal liburan di setiap tahunnya untuk mengeksplorasi daerah mana lagi sekeluarga. Masih jelas di ingatan saya, kami sekeluarga pernah berpetualang menyusuri Pulau Sumatra dengan mobil dan hanya mengandalkan sebuah peta, hahaha…

Papa pria yang juga gigih. Salah satu contoh kegigihannya adalah ketika ia rela menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk belajar bermain keyboard. Alasannya sederhana, ia ingin melayani Tuhan sebagai keyboardist gereja. Ya, ini memang agak lucu dan membuat para worship leader di gereja kami sedikit kewalahan sebetulnya, tetapi tentu pemimpin dan jemaat gereja menerima dan menjadwalkan Papa dengan lapang dada karena nyata sekali terlihat bahwa motivasi Papa adalah kehausan dan kerinduannya untuk melayani Tuhan.

Belasan tahun yang lalu itu, di suatu subuh, tiba-tiba terdengar jeritan dari balik kamar Mama. Papa meninggal.

Papa pria yang sehat dan amat menyayangi keluarga. Namun setelah meninggal, semua cerita sebenarnya terungkap. Papa sebetulnya tahu bahwa dirinya sakit, tetapi tak ingin kesakitannya menyulitkan Mama dan anak-anaknya. Usaha keluarga yang terlihat sangat stabil pun ternyata selama ini dijalankan Papa dengan kesulitan. Tak ayal, semua itu membuat pikiran Papa terbebani.

Banyak pro dan kontra memang tentang segala hal yang ia sebelumnya “sembunyikan” dengan rapi, tetapi saya tahu bahwa semua yang Papa lakukan dan perlihatkan adalah karena rasa sayang yang tak terhingga pada keluarganya. Papa ingin kami sekeluarga tetap bersukacita.

 

Natal.

Sukacita dan gemerlap suasana perayaan kelahiran Yesus tentu kita rasakan setiap akhir tahun. Ini biasanya adalah bulan favorit di setiap gereja, ketika setiap pelayan Tuhan memikirkan dan bersiap menyambutnya sejak jauh-jauh hari. Inilah bulan ketika kita akan melihat pernak-pernik dekorasi berkilauan dan mendengar nyanyian-nyanyian syahdu sekaligus riang di hampir segala tempat. Menyambut Natal bagi kebanyakan orang berarti menyambut perayaan kelahiran Yesus dengan penuh sukacita.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

Ini. Kebenaran ini. Bapa tentu tahu benar, mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk lahir ke bumi adalah merelakan Anak-Nya itu untuk mati mengorbankan diri-Nya. Bapa jelas tahu, Anak-Nya akan ditolak oleh berbagai pihak, bahkan dilecehkan oleh ciptaan-Nya sendiri. Anak-Nya akan dikhianati, dihukum meski tak bersalah, dan akhirnya disiksa sampai sangat menderita lalu mati tergantung di kayu salib. Bapa tahu. Namun, Ia tetap melakukannya. Sambil menanggung beban hati yang menggayut karena harus merelakan Anak-Nya sendiri mengalami semua ini.

Apa alasan terbesar Bapa melakukan semuanya ini? Karena begitu besar kasih-Nya akan saya, kamu, dan semua manusia di seluruh dunia ini. Kalau setiap manusia mau percaya dan menerima Dia, kembali kepada-Nya dan menikmati sukacita hidup bersama-Nya, itulah sukacita terbesar bagi-Nya sendiri. Bapa, dan Yesus, berkorban demi menjamin sukacita abadi bagi hidup kita.

Papa saya punya alasan untuk menyembunyikan, bahkan mengabaikan, beban hidupnya, demi saya dan keluarga bersukacita. Di balik kesakitan dan setiap permasalahannya, asalkan keluarga bahagia, ia akan bersukacita. Begitu juga dengan Bapa di surga yang punya alasan untuk berkorban begitu besar. Dia ingin agar saya, kamu, dan setiap manusia ciptaan-Nya bersukacita menyambut kehadiran-Nya dalam hidup kita masing-masing. Itulah Natal. Allah sendiri: Bapa, Yesus, dan Roh Kudus; lahir di dalam hidup kita. Maka, kita pun diselamatkan dan masuk ke dalam sukacita abadi bersama Allah. Itulah sukacita Allah sendiri. Ada ribuan alasan untuk kita bersungut-sungut tentang hal-hal yang sedang kita alami, tetapi mari kita kembali kepada alasan yang utama untuk kita terus bersukacita dan bersyukur. Natal adalah sukacita kita bersama Allah.

Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Fil. 4:6-7)

Selamat bersukacita!

2019-10-17T10:26:32+07:00