//Surga di Hati

Surga di Hati

 

Bu Rani menggandeng Sekar menyeberang jalan dan menunggu angkot untuk kembali ke toko buku. Keduanya terdiam selama perjalanan kembali ke toko buku. Di hati masing-masing berkecamuk banyak rasa.

Sesampainya di toko buku, Bu Rani menghampiri seorang pegawai di sana. Sementara itu, Sekar menunggu, berdiri tidak jauh dari tempat pegawai itu berdiri. “Mbak, anak saya mencuri pensil di sini. Dia mau mengaku. Tolong dengarkan pengakuannya dan terima kembali pensilnya,” dengan wajah sedikit heran pegawai itu mengangguk. Bu Rani menghampiri Sekar dan berkata, “Sekarang kamu lakukan apa yang kamu tahu harus lakukan.” Sekar menghampiri pegawai toko buku itu dan berkata dengan suara pelan, “Mbak, saya mengaku sudah mencuri pensil ini. Saya minta maaf dan mau kembalikan ini. Maafkan saya.” Pegawai itu tersenyum dan menjawab, “Iya dik, jangan mencuri lagi ya. Terima kasih untuk kejujuranmu.” Sekar kembali kepada Ibu dan memeluknya dengan erat. Bu Rani membalas pelukan Sekar. Ada kehangatan terasa di hati Sekar, matanya berair, hatinya penuh dengan haru. Berdua mereka meninggalkan toko buku itu.

Di luar toko, Bu Rani berkata kepada anaknya, “Sekar, Ibu bangga pada kamu karena kamu taat melakukan apa yang benar. Tuhan yang ada di hatimu akan menolongmu untuk memiliki hati yang bersih,” sambil menunjuk ke dada Sekar. Tapi sedetik kemudian Bu Rani kembali tercekat, karena tangannya menyentuh sesuatu di dalam baju Sekar. Sekar terdiam, lalu sontak menangis. Kali ini Sekar menangis dengan keras karena takut. Rupanya ada satu benda lagi yang masih disembunyikan oleh Sekar di balik bajunya. Sebuah spidol berwarna neon pink timbul. Dengan suara berat Bu Rani bertanya, “Apalagi ini Sekar…..?!” Sekar masih menangis. Setelah menghela napas panjang, Bu Rani berkata, “Sekarang kamu kembali kepada mbak yang tadi dan akui sekali lagi apa yang sudah kamu lakukan. Minta maaf pada mbak itu. Kali ini Ibu akan tunggu kamu untuk melakukannya sendiri, Ibu doakan kamu dari sini, Nak….” Sekar pun menurut. Ia masuk kembali ke toko buku itu setelah mengusap air matanya. Bu Rani kali ini menunggu di luar sambil berdoa dalam hatinya dan memperhatikan anak putrinya melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.

 

Tidak lama kemudian Sekar keluar dari toko buku. Masih terlihat bekas air matanya, tetapi sekarang terlihat ada sesuatu yang berbeda darinya, matanya jernih mencerminkan bersih hatinya. Bu Rani menyambutnya dengan pelukan hangat, mendekap putrinya sambil berkata, “Ibu bukan hanya bangga pada kamu, tapi Ibu juga belajar dari kesediaanmu untuk taat melakukan apa yang benar. Memang kamu berbuat salah, kamu berbuat dosa, tetapi kamu mau mengaku dan bertanggung jawab. Terima kasih karena kamu sudah memberikan pelajaran penting untuk Ibu.” Sekar mengangkat wajahnya dan bertanya pada ibunya, “Ibu tidak malu punya anak yang mencuri? Kalau kita ke toko buku ini lagi, ibu tidak malu kepada pegawai-pegawai di sini?” Bu Rani tersenyum sambil menatap mata putrinya, “Ibu tidak pernah malu, Sekar. Ibu bangga pada kamu dan jadi semakin kagum pada Tuhan yang mengerjakan hal indah ini di dalam hidupmu. Ingatlah selalu, kamu memang bisa saja salah, tetapi ketika kamu tahu kebenaran, melakukan kebenaran itu jauh lebih berharga dari pada apapun. Itulah “harta abadi” untuk seumur hidupmu.”

Siang itu, Tuhan menjadi saksi dari kebenaran yang nyata terjadi dan dialami oleh seorang Ibu dan putrinya. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu arti senyum di wajah mereka. Senyum sukacita karena surga ada di hati. ***
(disadur dari kisah nyata yang dituangkan dalam bentuk cerita pendek)

Wanita diberi anugerah oleh Tuhan dengan hal yang khusus yang menjadi kekuatannya,  yaitu kepekaan. Namun kepekaan itu perlu dibangun diatas kebenaran firman Tuhan sehingga menjadi kepekaan yang benar.  (Mazmur 25:14, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”). Kepekaan yang benar tidak lahir dengan sendirinya, melainkan datang dari hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan yaitu melibatkan Tuhan dalam keseharian hidupnya. Taat dan melakukan perintah Tuhan adalah faktor utama dari hubungan yang intim dengan Tuhan.  Kepekaan yang benar tidak hanya menolong kita mengenal Tuhan dengan benar, tetapi dapat juga menolong orang-orang di sekitar kita untuk mengenal Tuhan lewat hidup kita. (aa/cc)

 

2019-09-29T11:34:58+07:00