//Susanna Wesley

Susanna Wesley

Ibu yang Menanam Benih Firman Tuhan sejak Dini kepada Anak-Anaknya

Siapa yang tidak kenal dengan John dan Charles Wesley? Dua orang bersaudara ini dikenal sebagai Bapak Gerakan Methodis di Inggris pada abad ke-18. Semangat menginjil mereka dikenal di seluruh dunia; melalui khotbah-khotbah mereka, gereja-gereja di Inggris mengalami kebangunan rohani dan banyak orang kembali kepada Yesus. Sementara Charles Wesley berkarya dan melayani Tuhan sebagai salah satu penggubah lagu-lagu gereja terbesar di Inggris dengan sekitar 8.000 lagu himne pujian ciptaannya, John Wesley semakin berdampak dan berbuah-buah melalui pelayanan khotbah dan pengajarannya. Dari mana mereka mendapatkan kegigihan dan iman yang luar biasa seperti ini? Rupanya, di balik semua yang orang lihat, ada seorang ibu yang mendidik John dan Charles sejak kecil, menanam benih-benih Firman Tuhan, mengajar mereka dari Allkitab, dan berdoa bagi mereka. John dan Charles Wesley bertumbuh sebagai orang-orang yang takut akan Tuhan, dari didikan sang ibu, Susanna Wesley.

Sesuai tekad dan kesepakatan mereka dalam pernikahan, bersama sang suami Samuel Wesley, Susanna Wesley mendidik anak-anaknya dengan disiplin yang tinggi, untuk mengenal Allah dalam pribadi Yesus. Dua di antara 19 anak mereka ialah John dan Charles Wesley. Tentang didikan ibunya ini, John menulis, “Aku lebih banyak mengenal kehidupan kristiani dari ibuku, ketimbang dari para ahli teologi di seluruh Inggris.”

Susanna lahir pada tanggal 20 Januari 1669 di London, Inggris, sebagai anak bungsu dari 25 anak. Ayahnya, Samuel Annesley, adalah pendeta gereja puritan Inggris yang menikah dengan seorang wanita bernama Mary White. Ayah Susanna mewarisi iman kaum puritan Inggris yang mendidik anak-anak untuk mengenal Allah sejak usia dini. Pada usia remaja, Susanna sudah sanggup membaca dalam tiga bahasa yang cukup penting, yakni bahasa Ibrani (bahasa Perjanjian Lama), bahasa Yunani (bahasa Perjanjian Baru), dan bahasa Latin (bahasa Alkitab Septuaginta). Ayahnya selalu mendorong anak-anaknya untuk bebas mengutarakan pendapat dalam segala hal.

Samuel Annesley sendiri ialah hamba Tuhan terkemuka yang kemudian menjadi pemimpin yang memisahkan diri dari gereja Inggris. Gabungan intelektual dan kekudusan hidup ialah pusaka yang berharga dalam keluarga Samuel. Itulah sebabnya, sebelum mencapai usia 13 tahun, Susanna menunjukkan karakter mandiri, kuat, cerdas, dan mampu membuat keputusan sendiri untuk bergabung di gereja Anglikan. Ia melahap buku-buku karya para pemikir teologi terkemuka masa itu, yang berjajar di perpustakaan ayahnya.

Setelah menjadi pengikut gereja Anglikan, Susanna berkenalan dengan Samuel Wesley. Pada usia 19 tahun, Susanna menikah dengan Samuel. Susanna melahirkan 19 anak setelah menikah 19 tahun, dengan beberapa anak meninggal saat kelahiran. Anak-anak yang hidup dari keluarga itu ialah Charles, John, Samuel, Mary, Mehetabel, Wright, Susanna, Anne, Emilia, dan Martha. Peran Susanna sebagai seorang istri dan ibu sangat berpengaruh pada putaran roda kehidupan rumah tangganya, termasuk pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya.

Susanna menerapkan hidup disiplin dengan menyusun jadwal harian yang ketat. Ia menulis, “Anak-anak diarahkan pada pola hidup teratur sesuai hal-hal yang sanggup mereka lakukan sejak lahir. Tentang mengganti baju atau seprei. Kapan bangun tidur, sekolah, makan, doa keluarga, dan waktu tidur…” Menurut Susanna, setiap menit harus dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anaknya. Tiap hari dimulai dengan membaca Mazmur dan berdoa, mempelajari Alkitab satu pasal, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, lalu ditutup dengan nyanyian mazmur. Anak-anaknya belajar membaca (Alkitab) sejak usia lima tahun, diajar menulis (bahasa Latin), diajar menulis puisi dan musik, serta mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani tiap malam bersama ayah mereka. Susanna juga mengajarkan kepada anak-anaknya sejak umur satu tahun untuk takut akan tongkat dan menangis dengan suara pelan. Ia mendidik mereka untuk hormat pada otoritas dan menguasai diri dalam meluapkan emosi. Ia melatih anak-anak untuk patuh dan memiliki karakter yang kuat.

Salah satu disiplin adalah anak-anak Samuel dan Susanna Wesley ialah rutin bersaat teduh dengan Firman Tuhan. Sejak anak berusia lima tahun, Susanna sebagai ibu menetapkan aturan bahwa waktu membaca Alkitab dan berdoa setiap hari harus sama banyaknya dengan waktu bersantai. Susanna bahkan juga menjadwalkan dirinya bersekutu dengan masing-masing anak, satu per satu, secara rutin. Setiap anak mendapat “jatah” mengobrol dan diajar oleh ibunya selama satu jam per minggu.

Sebenarnya, sejak muda Susanna merencanakan agar keluarganya tidak memiliki banyak anak seperti ibunya sendiri yang melahirkan dua puluh lima anak. Kenyataannya ia dikaruniai sembilan belas anak, dan sembilan di antaranya meninggal. Namun, realitas itu tidak membuatnya kewalahan atau patah semangat untuk melayani Tuhan dengan mengajar dan mendidik anak-anaknya menurut jalan Tuhan. Setiap malam sebelum anak-anak tidur, ia selalu mendoakan mereka satu per satu, lalu barulah ia sendiri pergi tidur. Melalui investasi benih Firman Tuhan setiap saat ini, anak-anak Susanna bertumbuh menjadi orang-orang yang beriman dan berkarya di jalan Tuhan pula. Dua di antara mereka, seperti kita ketahui, ialah John Wesley sang pengkhotbah besar dan Charles Wesley sang penggubah himne pujian.

Susanna meninggal pada tanggal 23 Juli 1742 di London. Ia ialah contoh seorang ibu yang menanam benih-benih Firman Tuhan kepada anak-anaknya sejak usia dini mereka, yang diyakininya kelak akan menjadi pagar pelindung bagi anak-anaknya saat dewasa. Keyakinannya terbukti benar dalam kehidupan anak-anaknya. Baiklah kita pun giat dan setia melakukan bagian kita masing-masing dalam melayani Tuhan dan menabur benih-benih Kerajaan Allah, karena pada akhirnya Tuhan akan membuktikan bahwa semua jerih lelah kita bagi Kerajaan Allah itu tidaklah sia-sia.

2020-03-27T12:40:10+07:00