///Tak Hanya yang Baik

Tak Hanya yang Baik

Pagi hari adalah saat paling sibuk dan panik bagi kebanyakan ibu, apalagi bagi para ibu yang bekerja, seperti Elis. Rutinitas wajib Elis di pagi hari termasuk menyiapkan sarapan bagi keluarga dan bekal putrinya sekolah, serta menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Melakukannya memang merupakan kerepotan, tetapi entah mengapa pada suatu pagi Elis merasakan hal berbeda pada dirinya. Dia merasa begitu amat kelelahan, tetapi rasa itu diabaikannya demi kebutuhan suami dan putri satu-satunya. Dia berusaha menjalani harinya seperti biasa, termasuk pulang larut malam karena tanggung jawab pekerjaan kantor. Malam itu, Elis pulang dengan rasa amat lelah jauh melebihi biasanya, sehingga memutuskan untuk langsung beristirahat saja.

Hari demi hari selanjutnya terus berjalan, sampai suatu ketika dada kirinya terasa nyeri dan nyeri itu menjalar hingga ke tangan kirinya. Pagi hari setelah malamnya rasa nyeri itu datang, ketika Elis sedang menyiapkan sarapan dan bekal sekolah putrinya tiba-tiba panci yang dipegangnya terlepas dari genggaman tangan kiri dan terjatuh ke lantai.

“Ada apa, Sayang?” tanya suaminya.

“Mama tidak apa-apa?” tanya Ema, anak perempuan mereka.

Menjawab pertanyaan panik kedua orang terkasihnya itu, Elis berkata sambil menahan rasa nyeri, “Tidak apa-apa… Mama tidak apa-apa, Sayang… Cuma kaget, kok. Untung saja tidak ada isi apa-apa di dalam panci.”

Setelah suami dan putrinya berangkat pada pagi itu, Elis pun bersiap untuk berangkat kerja. Saat berganti pakaian, dia memberanikan diri meraba dada kirinya. Ditemukannya sebuah benjolan besar. Deg. Rasa takut dan cemas pun muncul, dan dengan cepat memenuhi hati dan pikirannya. “Oh Tuhan… Apa yang terjadi pada diriku? Tolong aku, Tuhan…” seru Elis di dalam hatinya.

Akhirnya, hari itu Elis meminta izin untuk tidak bekerja. Tanpa bercerita kepada siapa pun, dia pergi memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Dengan nada bergetar Elis bertanya kepada Dokter setelah hasil semua pemeriksaan selesai, “Bagaimana hasilnya, Dok…?” Dokter pun menjelaskan perlahan dan berhati-hati kepada Elis perihal hasil pemeriksaan kesehatannya. Tumor dengan potensi kanker pada payudara kiri.

Dunia seakan runtuh bagi Elis. Pikirannya kalut, langkahnya berjalan menjadi tak tentu arah, dan hatinya galau luar biasa. Yang bisa dia lakukan hanyalah berseru-seru di dalam hati kepada Tuhan, “Tuhan…bagaimana ini! Bagaimana harus kuceritakan kepada suamiku dan putriku!”

 

Pada hari yang sama itu, Elis akhirnya memutuskan untuk menemui dan  menceritakan kondisinya kepada ibu rohaninya, yaitu Kak Ika.

“Kak Ika, aku butuh seseorang yang menguatkan aku,” kata Elis, lalu menceritakan segala hal yang terjadi pada dirinya. Sebagai ibu rohani, Ika mendengarkan segala hal yang Elis alami, memberikan kata-kata penguatan dan segera mendoakan Elis. Ika berkata kepada Elis bahwa dia tidak sendiri, bahwa ada Tuhan yang selalu menyertainya dalam segala keadaan dan Dia Allah yang berkuasa, berdaulat dan bertanggung jawab atas kehidupannya.

“Percayalah Elis, bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal di dalam kehidupanmu dan justru di dalam kelemahanmulah kuasa Kristus sempurna menaungimu!” kata Kak Ika menguatkan Elis.

Perkataan Kak Ika sebagai ibu rohani atau pemuridnya itu menjadi perenungan di hati Elis. Meresapi kebenarannya, dia akhirnya merasa sangat dikuatkan. Elis pun akhirnya siap untuk menceritakan kondisinya kepada suami dan putrinya atas apa yang akan mereka hadapi bersama-sama. Suami dan putrinya kaget dan sempat cemas saat mendengarnya, tetapi justru Elis sanggup menguatkan hati mereka, bahwa Tuhan tetap baik di tengah-tengah situasi yang terjadi kepada mereka.

Tanpa terasa, tibalah hari ketika Elis harus menjalani operasi untuk mengangkat tumornya. Selain suami dan putrinya, Kak Ika juga datang dan turut mendampinginya  di rumah sakit sesaat sebelum masuk ke ruang bedah untuk mendoakan dan memberi kekuatan. Operasi pun berlangsung sampai selesai.

 

Hari-hari setelah operasi selama rawat inap di rumah sakit bukanlah hal yang mudah dilewati bagi Elis. Selain rasa nyeri yang tersisa, dia harus menanti kabar selanjutnya, yaitu hasil tindakan biopsi. Tindakan biopsi harus dilakukan untuk mengetahui apakah ditemukan sel kanker atau tidaknya, serta tingkat keganasannya jika ada. Dalam masa itu, Elis dan Kak Ika terus saling berkomunikasi, walau sekadar melalui pesan singkat berisi doa dan ayat-ayat Firman Tuhan. Melalui semua itu, Elis sangat diteguhkan dalam menjalani proses yang tengah dialaminya.

Melewati masa itu, akhirnya hasil tindakan biopsi disampaikan. Elis harus menjalani operasi yang kedua yaitu pengangkatan payudara kiri, karena ditemukan sel kanker stadium dua dengan potensi ganas.

Indahnya, pada saat itu Elis begitu kuat. Ketika keluarganya dan rekan-rekannya menangis dan mengasihani dirinya, Elis sanggup berkata kepada mereka semua, termasuk kepada Kak Ika, mengutip perkataan Nabi Ayub, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”

 

Perkataan Elis tersebut menjadi pernyataan imannya, setelah melewati pertumbuhan pengenalan pribadi akan Allah dan kedewasaan rohaninya dalam menghadapi pergumulan hidup. Itulah yang kemudian menjadi teladan yang kuat bagi suami, putrinya, Kak Ika sebagai ibu rohaninya, serta semua orang yang mengenal Elis. Bahkan, Kak Ika yang juga sedang mengalami pergumulan pun turut dikuatkan dan diteguhkan kembali oleh teladan iman Elis.

Kisah Elis atau yang serupa dengan itu mungkin dihadapi juga oleh banyak orang percaya, dan kisah pergumulan itu mungkin juga belum selesai. Kelemahan, kekhawatiran, ketakutan, dan mengasihani diri memang pilihan-pilihan yang mudah, tetapi Firman Tuhan berkata di 1 Petrus 5:9 (TB2), “Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” Pertanyaannya, bagaimana kita memiliki iman yang teguh saat kelemahan, kekhawatiran, ketakutan, dan mengasihani diri menguasai kita?

 

Mari kita ingat; Tuhan Yesus sendiri pada malam terakhir sebelum Dia ditangkap pun merasakan kesedihan dan kegelisahan yang tak tertanggungkan, sehingga Dia meminta murid-murid-Nya tinggal dan berjaga-jaga bersama-Nya, untuk berdoa di Taman Getsemani. Artinya, Tuhan Yesus sendiri merasakan apa yang kita rasakan sebagai manusia. Lalu, kemenangan-Nya saat di Taman Getsemani itu terjadi ketika Yesus sebagai anak Allah menyerahkan diri-Nya kepada Bapa, mencurahkan isi hati-Nya dan menyerahkan diri kepada kehendak Bapa. Yesus tidak memaksakan untuk menerima yang baik dan yang nyaman saja dari Bapa-Nya, tetapi seluruh kehendak Bapa-Nya. Setelah itulah, Dia beroleh kekuatan. Dia menang atas pergumulan-Nya.

Hal yang sama itulah yang juga harus kita teladani sebagai murid Kristus. Dalam tantangan kehidupan, kita dapat bertumbuh menuju keserupaan dengan Krisus. Kita tidak dapat bertumbuh serta-merta dengan sendirinya, tetapi kita perlu bertumbuh dalam kebersamaan langkah dengan sesama saudara-saudari seiman, yaitu dalam pemuridan. Sama dengan Tuhan Yesus sendiri yang meminta murid-murid-Nya berada di dekat-Nya dan berdoa, sama seperti Tuhan Yesus sendiri yang rendah hati datang kepada Bapa-Nya dan menerima kehendak Bapa-Nya, demikianlah kita perlu menghadapi pergumulan dalam komunitas pemuridan dan rendah hati menerima kehendak Bapa.

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman sebagaimana telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” – Kolose 2:6-7 (TB2)

 

Tantangan selalu ada dalam kehidupan setiap orang percaya, tetapi justru tantangan itulah yang membawa kita terus bertumbuh kepada kedewasaan iman dan pengenalan akan Allah lebih lagi. Untuk mengalami yang terbaik dari Tuhan, kita harus rela menerima seluruh kehendak Allah, bukan yang baik-baik saja menurut kita sendiri. Caranya, kita perlu memiliki hati seorang anak yang bergantung penuh kepada kekuatan Kristus dan Firman-Nya, serta dimuridkan dan memuridkan orang lain.

 

Refleksi pribadi:

  1. Tantangan atau masalah apakah yang sedang engkau alami saat ini?
  2. Menurutmu, bagaimanakah engkau dapat melewati tantangan itu?
  3. Apakah engkau sudah dimuridkan dan memuridkan? Jika belum, buatlah komitmen untuk itu hari ini, dan mulailah melakukannya!
2024-07-26T11:08:01+07:00