Timbulnya jerawat, perubahan suara, bertambahnya tinggi badan… Kamu pernah mengalami semua hal itu? Yes, itu adalah beberapa ciri fisik pada remaja yang sedang mengalami perkembangan atau gejolak hormon pada masa pubertas. Namun, gejolak hormon pada masa pubertas tidak hanya memengaruhi kondisi fisik saja, tetapi juga memengaruhi kondisi otak, sehingga berdampak pada emosi, kontrol impuls, dan pengambilan keputusan.
Dampak gejolak hormon saat pubertas pada emosi remaja bisa berbentuk mood swings, kecemasan, kecenderungan sikap sensitif yang berlebihan, ketertarikan dengan lawan jenis, rasa minder akan bentuk tubuh, dan banyak lagi lainnya. Lalu, dampaknya pada kontrol impuls dapat menjadikan remaja lebih agresif dan impulsif, atau malah sebaliknya, terlalu pasif karena bingung atau serbasalah dalam mengekspresikan diri. Sebagian remaja bahkan juga mengalami saat-saat ledakan kemarahan sampai tak terkendali, yang bahkan kadang memicu mereka melakukan tindakan kekerasan. Sounds familiar?
Melihat bentuk-bentuk dampak tadi, tentu kalau tidak dikelola dengan tepat, gejolak hormon akan berdampak lebih lanjut pada pengambilan keputusan remaja, yang merugikan. Misalnya, menurunnya semangat belajar, sikap agresif dalam komunikasi dengan sosok otoritas, respons impulsif menghadapi dorongan seksual, pemilihan circle pertemanan/lawan jenis yang kurang rasional, dan lain-lain. Sementara seharusnya kita menghormati orang tua dan guru, tanpa sadar kita malah jadi bersikap kasar dan tidak sopan. Sementara ada teman yang menyatakan rasa suka, kita malah langsung menerimanya tanpa pikir panjang dan larut berpacaran dengannya tanpa peduli akan sikap orang tua kita. Sementara emosi sedang melonjak naik atau menukik turun setelah terjadi suatu hal, kita malah jadi curhat panjang lebar menceritakan versi pendapat kita sendiri di media sosial, dengan menangis sesenggukan sambil memaki-maki di Instagram Story atau merekam video marah-marah di TikTok. Heboh.
Semua orang mengalami masa menjadi remaja puber yang dilanda gejolak hormon. Namun, kita juga anak Tuhan, murid Kristus. Maka, kita perlu memperhatikan apa yang dikatakan Firman Tuhan tentang hal itu, bukannya asal membiarkan diri lepas kendali karena gejolak hormon. Nah, Firman Tuhan di Amsal 25:28 berkata, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.”
Apa maksudnya?
Kota di perkataan Firman Tuhan itu bisa diartikan sebagai orang, yaitu diri kita atau hidup kita sendiri. Ketika diri kita dan hidup kita menjadi tak terkendali, itu ibarat sebuah kota yang roboh; dan ada tiga hal yang terjadi pada kota yang roboh:
- Kota yang roboh adalah kota yang lemah. Banyak orang berpikir ketika mereka bisa marah-marah sesuka mereka, baper sesuka hati mereka, atau bahkan bisa memperlakukan orang lain sesuka mereka, itu artinya mereka orang yang bebas dan berkuasa. Padahal, tanpa sadar, kebenarannya justru sebaliknya. Justru, mereka dikuasai oleh emosi dan setiap godaan datang, mereka selalu kalah. Orang yang demikian adalah orang yang lemah. Sebaliknya, orang yang kuat dan memegang kendali justru memiliki pertahanan tembok yang kokoh, karena mereka hidup dan berperilaku berdasarkan kebenaran, bukan menyerah kalah pada godaan dan dorongan emosi atau faktor eksternal lainnya.
- Kota yang roboh mengundang pihak lain untuk datang menjajah. Kota yang roboh bukan hanya lemah, tetapi juga mengundang kedatangan penjajah. Orang yang hidupnya lemah dan tak terkendali, yang selalu kalah pada serangan, akan dikuasai atau dijajah oleh kekuatan lain. Artinya, penguasa atas kehidupan orang itu bukannya orang itu lagi, melainkan sang penjajahnya. Siapa penjajah itu dalam konteks ini? Emosi, situasi, dan hormon orang itu sendiri! 1 Korintus 6:19 jelas mengatakan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kita. Artinya, tubuh kita, emosi kita, pikiran kita, dan tindakan kita perlu dipimpin oleh Roh Kudus. Penguasa yang seharusnya memerintah atas hidup kita seharusnya adalah Tuhan. Belajarlah menyerahkan hidup kita untuk dipimpin oleh Tuhan, maka kita akan dimampukan Tuhan untuk hidup berdasarkan kebenaran-Nya, sehingga kita tidak lagi kalah pada keinginan daging seperti tenggelam dalam mood swings, bersikap agresif hingga melakukan kekerasan, dan hal-hal semacamnya (Gal. 5:16-17).
- Kota yang roboh sulit mendapatkan aliansi dari kota lain. Kota yang sudah roboh pasti lemah, bahkan terjajah, sehingga kota-kota lain tidak mau bersekutu dengan kota itu. Kota yang roboh biasanya hanya bisa meminta bantuan pangan, medis, atau militer dari kota-kota lain, dan berujung menyusahkan atau membebani kota-kota lain tanpa mampu memberi manfaat atau keuntungan bagi kota-kota lain. Karena itu, kota yang roboh sulit bekerja sama dan dipercaya kota lain. Kalau kita tidak bisa menguasai diri kita, misalnya sering meledak marah kapan saja atau enteng saja mengumbar aib, kita bagaikan kota yang roboh yang tidak akan dipercaya orang lain. Jangankan bisa hidup bersama dalam komunitas yang saling membangun, orang lain malah akan malas untuk berinteraksi dengan kita atau menjalin hubungan dengan kita, karena tahu kita hanya akan menyusahkan atau menyakiti mereka.
Nah, setelah memahami kebenaran tentang gejolak hormon saat pubertas, apa yang bisa kita, para remaja, lakukan untuk kembali memegang kendali? Yang jelas, kita ditentukan untuk hidup dipimpin oleh Roh Kudus sebagai murid Kristus. Kita perlu belajar mengelola gejolak hormon itu. Bagaimana caranya? Ada empat hal yang bisa kita ingat dan lakukan bersama, yang disingkat dengan TAME, sebuah kata yang dalam bahasa Inggris berarti “menjinakkan”. Mari kita belajar menjinakkan hormon kita dan diri kita sendiri.
- Take a moment: Mengambil waktu sebentar untuk menenangkan diri dan tidak langsung berespons ketika sedang dikuasai emosi negatif.
- Analyze the cause and consequence: Memikirkan baik-baik penyebab yang membuat kita merasakan emosi negatif tersebut, dan dampak yang bisa terjadi kalau kita berespons salah seketika itu juga.
- Manage your current response: Mengatur respons yang bisa dilakukan saat itu. Contohnya, ketika sedang kesal dan tidak mampu memberi penjelasan yang baik atas pertanyaan orang tua, kita katakan bahwa kita butuh waktu sejenak dan kita akan menjelaskan nanti saat sudah siap atau sudah tenang. Contoh lainnya, saat mengalami mood swings yang membuat malas belajar, kita memutuskan untuk memasang lagu praise yang berirama upbeat supaya suasana hati jadi bersemangat kembali.
- Exercise discipline: Melatih respons yang benar terus-menerus sampai menjadi kebiasaan otomatis yang benar. Bagian ini perlu dilakukan dengan disiplin pribadi maupun dibantu dengan membangun hubungan yang bertanggung jawab serta terbuka dengan pemurid, yang mengingatkan dan menolong kita dalam latihan berespons benar.
So, dear teenagers, perubahan hormon pada diri kita saat masa remaja ini memang sangat wajar, tetapi jangan sampai hidup kita dikuasai olehnya. Yang harus menguasai diri kita adalah Roh Kudus. Yuk, ikuti pimpinan Roh Kudus dan belajar menjinakkan hormon serta diri kita sendiri mulai sekarang!