Tanpa Lampu

Belum lama ini ketika sedang melakukan perjalanan malam hari dengan mengendarai mobil, tiba-tiba saya dikejutkan dengan kemunculan sepeda motor entah dari mana asalnya, yang melintas di depan mobil dan hampir bertabrakan dengan mobil saya. Segera saja, saya menginjak pedal rem dan menghentikan laju mobil. Saat saya perhatikan, ternyata sepeda motor itu melaju tanpa menyalakan lampu, sehingga tidak tampak ketika melintas di dalam kegelapan. Ini tentu sangat membahayakan dirinya sendiri dan pengguna jalan lainnya. Syukurlah, saat itu saya sempat menginjak pedal rem dan menghentikan laju mobil; bagaimana kalau tidak? Lagipula, karena berhenti mendadak, saya dan penumpang lain di dalam mobil menjadi tidak nyaman, bahkan saya sebagai pengemudi pun butuh waktu cukup lama untuk pulih dari rasa terkejut  atas peristiwa berbahaya itu, walaupun si pengendara motor dengan santainya tetap berlalu melewati mobil kami seolah-olah tidak ada apa pun yang tak wajar.

 

Mengalami peristiwa itu membuat saya teringat tentang kebenaran Firman yang mengarahkan kita sebagai anak-anak Tuhan untuk bangkit dan menjadi terang. Kalau saya tidak menjadi terang, maka hidup saya mirip dengan pengendara sepeda motor tanpa lampu. Meski saya merasa biasa saja dan santai di dalam kegelapan itu, saya sebenarnya bukan saja membahayakan diri sendiri tetapi juga membahayakan orang lain. Dalam konteks rohani, ini berarti membuat orang lain terperosok ke dalam situasi kehidupan yang “gelap”: tidak mendapat sukacita, tidak merasakan kebaikan Tuhan, tidak melihat arah tujuan yang tepat, tidak mengerti hikmat dan solusi yang dibutuhkan, dan sebagainya. Padahal, dalam situasi apa pun, sebagai anak Tuhan kita harus terus menjadi terang, karena terang itu sudah kita terima dari Allah Bapa. Seperti kendaraan yang pasti dibuat serta dijual dengan dilengkapi lampu, diri kita sebagai anak-anak Allah pun sudah dibekali terang Kristus. Terang ini tidak pernah berkurang atau hilang cahayanya. Kalau cahayanya padam, itu berarti kita yang sedang mematikan “lampu” terang Kristus itu, bukan karena terang Kristus itu meninggalkan kita.

 

Saat ini kita sering mendapat informasi dan berita yang kurang baik berkaitan dengan kondisi pandemi secara global yang diperkirakan akan terus berdampak buruk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di tengah kemajuan teknologi masa kini, segala kabar memang makin cepat dan makin luas menyebar, meski banyak pula di antaranya yang tidak benar. Di sinilah peran kita sebagai anak Tuhan yang membawa terang seharusnya berfungsi. Kitalah yang seharusnya menunjukkan kebenaran dan menghadirkan Tuhan secara nyata di tengah-tengah situasi kehidupan yang gelap bagi banyak orang. Pertanyaannya, apakah kita sendiri tanpa sadar telah mematikan terang itu pada diri kita, karena kita sudah terlalu terbiasa melaju dalam kegelapan?

 

Sebagai pembawa terang, kita harus memilih untuk tetap menyalakan terang Kristus itu pada diri kita. Apa artinya? Kita masing-masing perlu teguh memegang janji Allah tentang pemeliharaan-Nya dan kedaulatan-Nya atas hidup kita, lalu menyebarkan janji itu kepada orang-orang banyak. Seharusnya kita bukan lebih kuat memercayai dan menyebarkan janji atau petunjuk yang lain, yang justru menghadirkan suasana hidup yang gelap dan penuh bahaya oleh kekhawatiran, ketakutan, dan keputusasaan. Mari menjadi terang bagi orang-orang di sekitar kita; sebarkan kabar baik janji pemeliharaan dan kedaulatan Allah kepada mereka. Mulailah dengan lingkungan terkecil kita dahulu, orang-orang di rumah dan di sekitar lingkungan rumah serta lingkungan aktivitas kita sehari-hari, lalu makin luas kepada sebanyak mungkin orang yang Tuhan pertemukan dengan kita. Pada akhirnya, kita semua bersama-sama akan menyebarkan terang kemuliaan Allah itu kepada semua bangsa di dunia. Manusia akan merasakan kasih, damai, dan sukacita sejati dari Allah, Bapa kita.

 

Siapkah kita memulainya sekarang?

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.”  – Yesaya 60:1-2

2022-03-26T09:00:35+07:00