///Tante Penjual Bakpao

Tante Penjual Bakpao

Solo selalu “ngangeni” – bikin kangen. Kota itu memang punya tempat tersendiri di hatiku. Selain itulah kampung halaman kedua orang tuaku, aku juga menghabiskan masa kecilku sampai kira-kira usia 5 tahun di sana. Pernah sekolah di TK Setabelan dan tinggal di rumah Mbah Kakung yang luas, lengkap dengan kebun buah-buahannya, menjadi kenangan masa kecil yang indah bagiku tentang kota Solo.

Beberapa waktu lalu, aku berkunjung kembali ke kota penuh kenangan itu bersama Yusak, suamiku, dan sepasang suami istri – Harsono dan Christine. Kedua teman kami itu ingin ikut menjelajahi Solo dan keunikannya. Tentu, tidak ketinggalan, kumasukkan Pasar Gede Hardjonagoro sebagai salah satu destinasi wisata kami. Sekalipun namanya pasar, Pasar Gede menyajikan suasana yang sangat menyenangkan, bahkan hangat dan akrab. Memang pasar itu unik. Dulu semasa aku kecil, pasar itu terasa sesuai dengan namanya, “gede” sekali. Namun sekarang, aku melihat Pasar Gede tidak “segede” dulu lagi. Lorong-lorongnya mudah kuingat dan kehangatan suasananya membuat hatiku tersenyum, serasa aku kembali ke masa sering diajak Mbah Kakung berkeliling mengunjungi pasien-pasiennya.

 

Mbah Kakung dulu berprofesi sebagai “mantri juru suntik” – tenaga medis yang bukan dokter tetapi paham masalah medis yang mendasar dan memiliki izin resmi untuk menangani pasien secara langsung, termasuk membuat resep, memberikan obat, dan menyuntik jika diperlukan. Kelihatannya profesi itu ada sejak zaman Belanda dan terus berlanjut semasa hidup Mbah Kakung dulu. Banyak pedagang di Pasar Gede adalah pasien simbah kakungku.  Ada Yu Sarti yang berjualan ayam goreng, Yu Ginem yang berjualan jajan pasar dan lenjongan, Bu Sum yang berjualan macam-macam bumbu pecel, Pak No yang berjualan buah-buahan, Cik Lan pemilik toko kue Sinar, dan Kim Kie yang punya warung masakan Cina. Biasanya, Mbah Kakung menanyakan kabar mereka dan, kalau mereka ada keluhan, menjadwalkan mereka untuk datang ke rumah Mbah Kakung untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dari setiap pasien, Mbah Kakung sering kali menerima “bonus”: ayam goreng, lenjongan, buah-buahan, kacang merek Kucing dari toko Sinar, dan kekian-nya Kim Kie yang nikmatnya tiada tara. Hatiku terasa hangat waktu berdiri di seberang pintu masuk Pasar Gede sambil mengingat kenangan masa kecil itu…

 

Ternyata, menikmati kenangan itu membuatku asyik melamun sendiri, sampai tiba-tiba aku dikagetkan dengan tepukan di bahuku, “Kak Ayu… kenal gak sama tante itu?” tanya Harsono, temanku. Dari jarak agak jauh, kulihat perempuan separuh baya yang ditunjuk temanku; sejurus kuperhatikan tetapi rasanya aku tak mengenalnya. Aku menggelengkan kepala. Makin kuperhatikan, ternyata tante itu berjualan bakpao yang dibawanya dengan kotak kardus putih. Dia berjalan mendekat lalu menawarkan bakpaonya ke Christine, istri Harsono.

 

Aku pun sedikit mendekat dan kudengarkan baik-baik percakapannya. Wajah Christine terlihat kurang nyaman, sementara tante itu dengan gigih terus menjajakan bakpao dagangannya. Sampai akhirnya aku menangkap kalimat yang diucapkan si tante, “Ayo dong, dibeli… Bakpaoku ini enak lho, buatanku sendiri. Ayo dong, berbagi berkat sama saudara yang lain. Kalau kamu beli daganganku artinya kamu jadi berkat…” “Hmmm…. Terdengar benar, tetapi kok seharusnya nggak begitu,” batinku. Christine melihat bahwa aku memperhatikan apa yang terjadi, lalu ekspresi wajahnya seolah berkata, “Tolong, Kak… Jauhkan aku dari tante ini!”

 

Akhirnya aku benar-benar mendekati mereka. Seketika itu, si tante mengalihkan sasarannya; sekarang akulah yang disasar. Kalimatnya pun sama seperti yang diucapkannya kepada Christine, “Bakpaoku ini enak lho, buatanku sendiri. Ayo dong, berbagi berkat sama saudara yang lain. Kalau kamu beli daganganku artinya kamu jadi berkat…” Pandangan mataku langsung tertuju ke kalung yang dipakai tante itu, dengan bandul salib yang cukup mencolok karena ukurannya yang besar. Dari mana pula si tante tahu bahwa aku saudara seimannya?

 

Aku coba membantu Christine, yang sejak tadi belum berespons terhadap penawaran si tante. Aku berikan jawaban singkat, “Makasih lho, Tante… Nggak dulu ya, Tan.” Aku berharap tante itu paham maksudku menolak, tetapi ternyata dia makin gencar menawari, “Lho… kenapa kok gak beli? Wong bakpaoku ini terkenal, lho. Rasanya enak dan sak-Solo juga tahu siapa aku.” Wah… kupikir-pikir, bakal panjang urusannya kalau si tante tetap gigih. Kuamati, ternyata Christine sudah bergerak menjauh dan kini berdiri dekat suaminya, Harsono. Karena kami rencana mau berwisata ke Salatiga dan Ungaran hari itu, aku menjawab lagi kepada si tante, “Enggak, Tante, kita baru makan. Terima kasih.”

 

Namun, rupanya si tante pantang menyerah. Dia justru makin keras memaksa, “Kenapa sih nggak mau bantu orang lagi susah. Beli satu aja, ‘kan beres!” Sejujurnya, aku jadi kaget dengan jawaban itu, tetapi jawaban itu juga sekaligus membulatkan tekadku untuk menolak tawarannya. Akhirnya kujawab saja dia singkat, “Nggak, Tante… Terima kasih.” Lalu aku berbalik dan berjalan ke arah mobil Harsono yang sudah siap menunggu dengan Yusak, suamiku. Ternyata adegan itu sejak tadi diperhatikan oleh Yusak, Harsono dan Christine; mereka ikut tertawa lega begitu aku masuk ke dalam mobil. Aku juga menghela napas karena bebas dari kejaran si tante.

 

Keesokan harinya Harsono mengajak kami kembali berkunjung ke Pasar Gede karena pada hari sebelumnya kami tidak keburu menyambangi Toko Kopi Podjok, kedai dan toko kopi yang legendaris di pasar itu. Di depannya juga ada penjaja masakan babi pikulan, Bu Sirat, yang setiap musim liburan pembelinya bisa antre mengular panjang. Jadilah kami kembali ke Pasar Gede. Kali ini kami langsung ke titik tujuan, karena hari itu kami memang berencana langsung melanjutkan perjalanan balik ke Jakarta.

 

Hari masih pagi waktu kami tiba di Toko Kopi Podjok. Harsono senang bukan kepalang karena pagi itu Bu Sirat baru membuka lapak masakan babi pikulannya. Jadilah Harsono dan Christine menikmati kopi dan makan masakan Bu Sirat, termasuk memesan beberapa porsi untuk dibawa pulang ke Jakarta.

 

Sedang kami asyik duduk di sudut toko kopi itu, tiba-tiba terdengar suara yang nggak asing di telingaku, “Ayo, Ko… Tolong dibeli bakpao jualanku ini. Ini bakpao paling enak sak-Solo. Kita sesama anak Tuhan mesti saling memberkati.” Benar, itu tante penjual bakpao yang kemarin memaksa Christine untuk membeli dagangannya! Kali ini, Harsono yang menjadi sasarannya, sementara Christine sudah memilih menjauh keluar dari toko kopi. Tanpa bicara sepatah kata pun, Harsono mengangkat tangannya dan menganggukkan kepala dengan gestur sopan, yang secara umum mudah dipahami berarti, “Tidak, Tante… Terima kasih.”

 

Sayang, si tante itu bukannya berhenti, justru membuka tas pinggangnya dan mengeluarkan dompetnya. Aku dan Yusak mendadak penasaran ikut memperhatikan apa yang akan dilakukan si tante. Ternyata dia mengeluarkan selembar foto dari dompetnya. Lalu, tante itu makin bersemangat menawari Harsono, “Nih… kamu tahu nggak siapa yang ada di foto ini?” Sejurus Harsono terdiam, lalu menggeleng dan tetap tidak bicara sepatah kata pun. Si tante penjual bakpao melanjutkan omongannya, “Wah… payah kamu, mosok gak tahu ini siapa.  Ini orang terkenal, lho. Se-Indonesia juga kenal siapa dia. Itu dia aja foto sama aku… Artinya, bakpaoku itu pasti enak, jadi kamu harus coba. Beli, ya!” Aku coba mencuri-curi pandang ke arah foto yang ditunjukkan si tante kepada Harsono, dan memang betul, sosok yang berfoto bersamanya itu salah seorang juri kotes masak terkenal, MasterChef Indonesia.

 

Namun, Harsono bergeming di tengah-tengah “gempuran” si tante. Masih tanpa berbicara sama sekali, Harsono berdiri dan keluar dari toko kopi itu. Aku melihat ke sekeliling; kuperhatikan, bahkan karyawan-karyawan toko kopi itu pun semua diam saja sambil melihat apa yang terjadi. Sepertinya mereka semua sudah terbiasa dengan perilaku si tante dan memaklumi saja semua yang diucapkannya. Tinggallah aku bersama Yusak di toko kopi itu.

 

Si tante terus saja mengoceh sendiri, lalu kembali menjadikan aku sasarannya. “Gimana sih, temanmu kok gak kenal sama chef itu. Makanya dia gak mau beli daganganku. Itu ‘kan namanya merendahkan… Gak jadi berkat untuk saudara seiman! Padahal, mestinya ini kesempatan kalian jadi berkat dengan beli bakpaoku.” Terus terang, mendengar kata-kata “Kristen” yang dimaknai sembarangan seperti itu membuatku merasa gemas dan jengkel. Makin tak enak rasanya dihujani ucapan-ucapan seperti itu bertubi-tubi. Dalam diam dan sambil tante penjual bakpao itu terus mengomel, aku berdoa singkat dalam hati, “Tuhan, tolong aku, aku harus jawab apa ke si tante ini… Aku mau beri jawaban, tapi aku mau lakukan ini dengan kasih. Sebenarnya aku sudah kesal sama kelakuan dan cara dia nawarin dagangannya.” Tiba-tiba saja, dalam hitungan detik, aku ada dua kata muncul di hatiku: “Jangan memaksa.”

 

Pelan, aku menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk bahu si tante sambil menatap langsung matanya. Kukatakan, “Tante, justru karena kita sama-sama anak Tuhan, baiknya Tante nggak jualan dengan cara seperti ini. Jangan suka maksa ya, Tante… Bakpao dagangan Tante yang enak jadi kurang enak karena cara Tante nawari pakai maksa begitu. Tuhan pasti berkati Tante, tapi caranya jangan begitu.” Ajaib bagiku, karena si tante langsung terdiam. Dia memasukkan kembali fotonya dengan chef terkenal itu lalu mengangguk pelan kepadaku, dan pergi keluar dari toko kopi itu.

 

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, kami membahas rentetan kejadian dengan si tante itu. Harsono dan Christine bertanya, “Kak Ayu, Kakak ngomong apa sih tadi ke tante itu?” Aku pun menceritakannya, termasuk tentang kekagetanku melihat respons terakhir si tante. Mungkin selama ini memang dia memanfaatkan status Kristennya dengan cara berjualan yang mengintimidasi, dan pada akhirnya orang-orang memilih membeli bakpaonya saja karena lelah diikuti dan digempur ocehannya.

 

Sambil bercerita, pembelajaran dari Tuhan menjadi makin jelas di dalam pengertianku. Tuhan telah mengajariku untuk mengatakan kebenaran di atas semua perasaan dan pertimbangan manusiawiku. Aku kesal dan jengkel, dan mungkin banyak orang lain sungkan atau lelah, tetapi Tuhan membuatku belajar untuk bersikap autentik tanpa kehilangan kasih Tuhan. Melalui percakapan batinku dengan Tuhan saat bertanya harus menjawab apa, Tuhan menunjukkan kepadaku hikmat yang paling segar, mengajariku bagaimana menyatakan kasih Tuhan dalam situasi nyata saat itu juga. Rupanya, kuncinya aku percaya saja bahwa Tuhan pasti menolong, lalu aku melakukan apa yang Tuhan katakan itu.

 

Selain itu, aku juga belajar untuk berbicara dengan iman, bahkan untuk hal yang kecil dan remeh sekalipun. Dalam urusan dipaksa membeli oleh pedagang keliling pun Tuhan punya tuntunan untuk kita. Dan, mengikuti tuntunan-Nya itu adalah langkah iman setelah aku percaya akan hikmat-Nya. Aku mengalami bahwa kebenaran Firman Tuhan itu sungguh mendatangkan otoritas dan mengalirkan kuasa Tuhan bekerja. Dia menyentuh hati dan menyadarkan bahwa tidak semua hal yang kita anggap benar adalah kebenaran. Senang rasanya aku punya satu lagi cerita tentang pertolongan Tuhan dalam keseharianku. Aku tahu, semakin aku mengenal Tuhan, akan ada semakin banyak cerita tentang Dia.

Nah… ini ceritaku; bagaimana dengan ceritamu?

 

Refleksi Pribadi:

  1. Bagaimana engkau berespons terhadap nasihat/teguran yang kauterima?
  2. Bagaimana biasanya engkau berespons terhadap perkataan orang yang mengusikmu?
  3. Kapan terakhir kali engkau menegur/menasihati saudara seiman atas ucapan atau tindakannya yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan? Apakah engkau melakukannya dengan kasih, atau dengan kemarahan/kebencian?
  4. Ambillah komitmen untuk belajar hidup dalam kebenaran dan kasih dalam keseharianmu, agar engkau bertumbuh menjadi murid Kristus yang makin dewasa.
2024-04-26T11:16:47+07:00